Masyarakat adat merupakan sekumpulan masyarakat yang memiliki keterikatan kuat dengan tanah. Namun, sering kali tanah-tanah adat ini tidak memiliki bukti kepemilikan yang jelas, sehingga rentan terjadinya konflik persengketaan tanah.

Mungkin masih hangat di ingatan kita aksi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat adat Sunda Wiwitan Cigugur yang turun ke jalan menghadang alat berat demi mempertahankan tanah adat mereka pada tanggal 24 Agustus 2017 lalu.

Ya, memang saat ini masyarakat adat Sunda Wiwitan sedang terancam haknya atas tanah. Tanah adat mereka diklaim sebagai tanah waris oleh salah satu keturunan Pangeran Tedja Buana, yaitu Djaka Rumantaka – cucu Pangeran Tedja Buana dari pernikahan pertama. Puncaknya pada tanggal 24 Agustus lalu, tanah tersebut ingin dieksekusi oleh pihak penggugat.

Namun, masyarakat adat masih menghalangnya sehingga eksekusi batal dilaksanakan. Tanah yang menjadi objek sengketa adalah tanah yang ditinggali oleh rumah keluarga E. Kusnadi yang memiliki luasan sekitar 16 bata atau 224 m2.

Kita sebagai orang luar memandang tanah tersebut bukanlah tanah yang besar dan hanyalah sebidang rumah biasa (perceived space). Berdasarkan wawancara dengan Okky Satrio selaku Girang Pangaping (Pembina adat) Sunda Wiwitan, menjelaskan bahwa kita tidak bisa lihat rumah itu hanya materialnya saja seluas 16 bata, melainkan kita harus melihatnya secara keseluruhan melalui pemahaman kosmologi ruang.

Maka dari itu, pada tulisan ini, penulis akan lebih dalam membahas tentang kosmologi ruang yang diyakini oleh masyarakat adat Sunda Wiwitan.

Masyarakat Sunda Wiwitan memandang tanah sebagai ruang hidup, ruang budaya, ruang hidup budaya, dan ruang hidup tradisi. Dalam kosmologi yang dipahami oleh masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur, merujuk pada pemahaman yang telah diturunkan oleh karuhun/ leluhur. Lefebvre menyebutkan bahwa ruang dikonseptualisasi dan dikonstruksi oleh para ahli, seniman, profesional, teknokrat, arsitek, dan perencana tata ruang (Lefebvre: 1991, hlm.38).

Dalam konteks masyarakat adat yang memberikan pemahaman terkait konstruksi ruang bukan hanya para ahli seperti yang disampaikan oleh Lefebvre, melainkan ruang di sini dikonseptualisasikan pula oleh Pangeran (pemimpin adat) dan para sepuh adat melalui pemahaman kosmologi ruang yang disampaikan ke masyarakat adat. Kosmologi ruang yang diajarkan ini mempengaruhi representasi ruang dan pemahaman masyarakat dalam memandang suatu ruang ataupun tanah.

Okky Satrio menyampaikan bahwa di setiap bagian tubuh kita, kami melihat ada kosmologi ruang. Itu adalah satu hamparan rangkaian anatomi tubuh, Sang Hyang Sirah sampai di Cirebon sana pinggir laut itu Sang Hyang Dampal, kaki.

Penjelasan tersebut merujuk bahwa manusia dan ruang adalah sebuah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Manusia memiliki pelbagai saraf yang saling terhubung demi berjalannya suatu fungsi organ.

Begitu juga dengan pemahaman tentang alam dalam masyarakat adat Sunda Wiwitan Cigugur. Mereka melihat bahwa alam adalah suatu hamparan tubuh yang memiliki pelbagai jaringan, saraf, dan organ layaknya tubuh manusia yang harus saling terhubung.

Dengan adanya pemahaman seperti itu yang disampaikan oleh sepuh adat membuat masyarakat adat harus menjaga alam dan leluhur mereka mulai dari Sang Hyang Sirah (ujung kepala) hingga Sang Hyang Dampal (ujung telapak kaki). Sang Hyang Sirah yang diamini masyarakat AKUR sendiri adalah berada di Gunung Ciremai.

Di setiap gunung tentunya memiliki titik-titik mata air, titik-titik mata air ini layaknya tubuh manusia harus lah mengalir ke seluruh bagian tubuh, ketika ada fungsi yang tidak berjalan dengan baik, maka pengaliran air tidak bisa berjalan dengan baik. Maka dari itu, masyarakat adat dalam mengabstraksi sebuah ruang atau alam adalah sebuah kesatuan yang utuh layaknya anatomi tubuh manusia, saling terkait dan terhubung.

Rumah yang ditinggali oleh keluarga E. Kusnadi tersebut diberikan oleh Pangeran Tedja Buana kepada E.Kusnadi untuk membantu mengembangkan kegiatan kebudayaan di Cigugur, bukan untuk dimiliki secara pribadi. Rumah tersebut akhirnya dikonseptualisasikan dan dibangun oleh Kusnadi yang seorang seniman dengan pelbagai ornament dan relief khas Cigugur yang memiliki konektivitas dengan Paseban Tri Panca Tunggal pada tahun 1973 (conceived space).

Akhirnya, seiring berjalannya waktu, rumah tersebut bukan saja sebagai rumah tinggal, melainkan menjadi rumah pendukung kegiatan paseban.Sekaligus dijadikan sebagai tempat menjaga pusaka dan tamu bermalam (lived space).

Masyarakat adat Sunda Wiwitan memiliki tempat pusat kegiatan mereka di Paseban Tri Panca Tunggal. Dalam kosmologi ruang Paseban Tri Panca Tunggal, ini dianggap sebagai jantung yang memiliki fungsi vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

Sesuai penjelasan tadi bahwa kosmologi ruang ini memiliki keterkaitan akan satu lainnya selayaknya anatomi tubuh manusia. Rumah ini dianalogikan sebagai rangkaian saraf yang berada di sekitar jantung.

Jadi, dapat dikatakan dalam kosmologi ruang masyarakat Sunda Wiwitan rumah ini memiliki fungsi yang sangat vital demi keberlangsungan ruang hidup budaya dan tradisi mereka. Sengketa di sini bukanlah hanya masalah perebutan rumah seluas 224 meter, melainkan permasalahan ruang hidup mereka.

Ketika tanah tersebut berhasil dieksekusi, maka fungsi ruang lainnya – sesuai kosmologi ruang yang dipahami – akan turut terganggu. Dapat kita lihat betapa vitalnya keterikatan masyarakat adat dengan ruang dan tanah. Jika pemerintah terus memaknai tanah hanya dengan administratif, bukan tidak mungkin masyarakat adat ini seiring berjalannya waktu akan semakin tersudutkan posisinya.

Refrensi :

  • Lefebvre, Henri. 1991. The Production of Space. United Kingdom: Basil Blackwell