Masih ingat dengan adegan Rangga dan Cinta dalam film AADC 2? Adegan di mana dua insan bertemu raga setelah berpisah lama. Pertemuan mereka saat itu adalah bermaksud memberikan penjelasan terhadap hubungan yang telah dijalin lama harus putus dengan sebuah layangan surat yang ditulis Rangga. 

Mari kita ungkit kembali dialog antara Rangga dan Cinta dalam sebuah kafé saat itu.

Rangga: “Cinta, saya tahu saya salah. Apa yang saya lakukan ke kamu itu tidak adil.”

Cinta: “Tidak adil kamu bilang? Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat!”

Sodara, bayangkan dialog di atas merupakan dialog antara koruptor dan rakyat korban korupsi. Meski terlihat sedikit lebay, tapi saya mengambil sudut pandang yang lain. 

Pengakuan Rangga di depan Cinta adalah sebuah pengakuan yang jujur, meski terdengar menyakitkan bagi Cinta. Andai adegan semacam ini bisa kita lihat dalam layar kehidupan nyata. Koruptor yang tertangkap berani mengungkapkan pengakuan di depan rakyat, terserah mau lewat media apa asal sama dialognya.

Koruptor: “Sodaraku bangsa Indonesia, saya tahu saya salah. Apa yang saya lakukan kepada sodara itu tidak adil.”

Korban Korupsi: “Tidak adil kamu bilang? Hey Bung, yang kamu lakukan ke kami itu jahat!”

Pertanyaannya adalah, sudah pernahkan kita mendengar, melihat dan menyaksikan sebuah pengakuan secara jujur dan tulus dari para pelaku korupsi dengan benar-benar menyesali perbuatan yang mereka lakukan? 

Atau malah yang sering kita dengar, lihat dan saksikan adalah senyum penolakan, lambaian tangan bak artis terkenal, merasa tertuduh dan terus menerus ambil tindakan pembelaan, “saya dizalimi!”

Masyarakat sudah berang dengan adegan semacam itu. Masyarakat sudah paham dengan gelagat mereka. Beginilah adegan yang dibuat oleh “sang sutradara”, awalnya selalu memberi janji menyejahterakan negeri, ujungnya janji diingkari demi keuntungan pribadi. 

Awalnya menawarkan solusi, ujungnya selalu mempersulit administrasi. Berlagak memperjuangkan hak rakyat, hak rakyat disikat demi konglomerat.

Acaranya kunjungan kerja luar negeri, tapi banyak wisata, shopping dan selfie. Sering berucap demi bangsa dan negara, yang diurusi kepentingan kelompok dan partainya. Mengambil uang rakyat layaknya setan, saat tertangkap menjelma layaknya Tuhan.

Bercita-cita meningkatkan kualitas pendidikan, pendidikan berjalan fasilitas terbengkalai akibat potongan anggaran. Punya program pemerataan pendapatan ekonomi, ekonominya berjalan pendapatan rakyatnya jomplang. 

Punya kebijakan mengembangkan infrastruktur, tapi jalan poros Jawa aspal mulus 12 lajur, jalan Kalimantan, Papua dan daerah lainnya masih hancur.

Hey Bung, kau ini makhluk jenis apa, sudah tertangkap kau dilayani dengan penuh hormat. Vonis pengadilan kau yang kuasai. 

Harusnya kau di balik jeruji, kau malah jalan-jalan ke luar negeri. Dalam penjara tak ubahnya istana, segala fasilitas hotel bintang tiga bahkan lima tersedia.

Sampai saat ini saya masih sependapat dengan Gus Mus yang mengusulkan adanya Densus 99 yang menangani tindak kejahatan korupsi. Terdengar nama yang korupsi langsung grebek, tangkap. Melawan, langsung tembak.

Hey Bung, korupsi yang kau lakukan itu tidak hanya menimbulkan satu masalah, tapi berbagai macam masalah. Perbuatanmu sudah cukup bikin kami resah. Tapi kami tak sampai hati mendoakan agar kau cepat menjadi almarhum/almarhumah.

Buya Hamka pernah bertutur bahwa hidup bukanlah suatu jalan yang datar dan ditaburi bunga melainkan ada kalanya disirami air mata dan juga darah. 

Hey Bung, harus berapa banyak lagi air mata yang akan menyirami bumi akibat kau ambil tanah kami, harus berapa liter darah mengalir akibat memperjuangkan tanah sendiri?

Kalau kata Jendral Soedirman kebebasan berarti bebas melakukan semua kebaikan, bukan bebas lepas melakukan semua kejahatan tanpa boleh diadili. 

Hey Bung, harusnya kau bebas melakukan kebaikan, bukan bebas melakukan kejahatan. Hey bung, harusnya kau bebas menawarkan kedermawanan, bukan bebas mempersulit permohonan. 

Hey Bung, harusnya kau bebas menolong  sesama, bukan bebas menolong kelompok siapa dan dapat apa.

Hey bung, harusnya kau dengar nasehat KH. Ahmad Dahlan bahwa kebenaran suatu hal tidaklah ditentukan oleh berapa banyaknya orang yang mempercayainya. 

Sayang, kau sudah tahu korupsi itu hina, tetap kau lahap juga. Apakah korupsi yang kau lakukan karena kau tak suka perbedaan, sehingga kau mau tak mau harus menerima?

Jika demikian adanya harusnya kau dengar juga nasehat H.O.S Tjokroaminoto yang berucap setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. 

Kami ini mempercayakan kuasa kepada kau yang tinggi ilmu dari kami, harusnya kau emban amanah itu dengan penuh tanggung jawab tak hanya kepada kami tapi juga Ilahi. Kami tak tahu cara berdiplomasi tapi jangan persulit dalam administrasi.

Tapi apalah guna nasehat dari tokoh-tokoh bangsa jika korupsi sudah menjadi cita-cita. Dulu (tokoh bangsa) mereka di penjara terlebih dahulu baru jadi pejabat (pemimpin). Sekarang kau jadi pejabat terlebih dahulu baru di penjara. Terimakasih atas pengkhianatannya.

Koruptor, kamu jahat!

Salam penikmat buku.