Aku melihat dengan senyum-senyum sendiri unggahan yang dikirim di suatu grup dosen di media sosial, Facebook. Unggahan itu berupa gambar bunga berparas yang terdiri dari dua jenis; bunga yang marah dan bunga yang sok manis. 

Kemudian, di antara bunga-bunga itu ada tulisan yang dibagi dua. Pertama; dosen ketika mahasiswa telat. Maka bunga tampak marah, teriak-teriak, dan berkata, “Tidak boleh masuk.” Kedua; “dosen ketika dia telat”. Maka bunga tampak terlihat sangat manis, lalu berkata, “Maaf ya, banyak urusan.”

Hmmm, mungkin ini terjadi di zaman aku kuliah (S1) dulu hampir sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu aku dan teman-teman (kami) sebagai mahasiswa yang terlambat masuk kuliah dan dosen sudah ada di kelas, maka, kami tidak usah berharap bisa masuk ke ruangan, tidak usah masuk karena sadar diri, telat.

Walau, ada juga dosen yang ketika kami terlambat, beliau mempersilakan kami masuk dan suka menyuruh kami duduk di barisan paling depan. Kami tidak bebas memilih tempat di mana kami akan lebih menyukai untuk duduk (karena biasanya kami lebih suka duduk di belakang).

Apalagi jika kami terlambat sudah lewat lima belas menit dari jadwal kuliah. Ketika masuk kelas, kami akan bertanya; bisa masuk, pak? Kami akan mendapat jawaban; silakan tutup pintunya dari luar! Dan kami tak bisa dan tak mampu membantah dengan alasan apa pun.

Tapi, hari gini, dosen-dosen yang berkata kepada mahasiswanya, silakan tutup pintunya dari luar, mungkin akan dipersekusi. Dan mereka, mahasiswa mungkin akan berkata, “Enak saja, kamu larang. Kalau kamu terlambat, kami izinkan kamu masuk ke kelas kok!” Mahasiswa sekarang lebih berjiwa berani, bersikap mandiri, dan berpikir “setara” dengan dosennya (hidup Mahasiswa!).

Buktinya, aku sendiri. Aku terkadang menunggu mahasiswa masuk di kelas, setelah pergantian mata kuliah karena mereka biasanya ke kantin dulu. Lapar jadi harus isi bensin dulu, kata mahasiswa. Apalagi jika kuliah pagi, dosennya duluan yang hadir di kelas menunggu mahasiswa datang. Tapi, sama saja, kadang mereka juga yang menunggu dosennya yang terlambat datang. Jadi, ya, “setara”.

Ngomong-ngomong, kali ini, aku lebih tertarik membahas “lingkaran korupsi waktu” yang dilakukan baik oleh dosen dan mahasiswa yang selalu suka terlambat ke ruangan kelas. Selama ini, mungkin kita hanya membahas korupsi dari segi anggaran, dana, uang, dan lain sebagainya. 

Misalnya; yang sering kita dengar, “Seorang pejabat telah menyelewengkan anggaran...” (bagaimana jika seorang pejabat yang beristri berseleweng dengan perempuan?). Kepala desa A melakukan mark-up dana desa untuk pembelian semen di kantor desa. Uang itu telah dikorupsi untuk dibelikan mobil pribadi dan lain sebagainya.

Tanpa kita sadari, dan mungkin tanpa berpikir sesuatu hal lain yang juga bisa berbentuk korupsi. Sesuatu yang sederhana, simple seperti waktu yang juga bisa dikorupsi (dicurangi, dikurangi, dipalsukan). Waktu sebagai (ajang) korupsi “kecil-kecilan” yang kita lakukan selama ini.

Ibarat pepatah; sedikit demi sedikit akan menjadi bukit, seperti halnya korupsi waktu yang kita lakukan sedikit demi sedikit waktu yang dikorupsi akan menjadi banyak. Jadi, berapa banyak waktu yang telah kita korupsi?

Apa sih Korupsi Itu?

Di Indonesia, korup adalah curang, busuk, mudah disuap. Sedang, korupsi (bisa) diartikan sebagai kecurangan, penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri (sendiri), pemalsuan. Sedang, kemudian, koruptif adalah bersifat mudah disuap, bersifat korupsi. Lalu, koruptor adalah pemalsu, penyeleweng, pelaku korupsi (Kamus Ilmiah Populer).

Menurut kamus Inggris-Indonesia yang ditulis oleh John M. Echols dan Hassan Shadily; menuliskan dan menjelaskan arti kata-kata berikut ini; corrupt (ks/kata sifat) 1. Korup, jahat, buruk; corrupt government artinya pemerintahan yang korup. 2. Rusak; corrupt form of language artinya susunan bahasa yang menyimpang dari bahasa standar. Corrupt manuscript artinya naskah yang rusak.

Corrupt (kkt/kata kerja transitif, berpelengkap) 1. Menyuap; that lawyer cannot be corrupted artinya advokat tidak dapat disuap. 2. Rusak, merusak, mengubah; the text of the play has become corrupted artinya naskah sandiwara itu telah rusak. Power corrupts artinya kekuasaan dapat disalah-gunakan. 

Corruption (kata benda/kb) 1. Korupsi, kecurangan 2. Perubahan; corruption of a language artinya perubahan bahasa dari susunan standarnya. Corruptible (kata sifat/ks) dapat disuap; some people are corruptible artinya beberapa orang dapat disuap. Dan corruptor (kata benda/kb) koruptor.

Penjelasan tentang segala hal yang berbau korupsi di atas baik dari kamus popular Indonesia sampai menurut kamus Inggris-Indonesia dan penjelasan penggunaannya dalam kalimat masih lumayan sederhana, bisa dimengerti. 

Namun, penjelasan berikut ini, dari buku saku memahami tindak pidana korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan judul “Memahami untuk Membasmi” membuatku harus berpikir keras untuk bisa mengerti (apakah karena aku bukan dari jurusan hukum?).

Menurut buku saku ini, dalam sub tema; tindak pidana korupsi, apa yang dimaksud dengan korupsi? Menurut perspektif hukum, definisi korupsi secara gambling telah dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. 

Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi.

Kemudian, masih dari buku saku KPK ini, ada korupsi yang terkait dengan; kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, perbuatan pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifitasi.

Aduh, kok semua ngeri sekali. Terus, korupsi waktu bagaimana dong?

Menurutku, korupsi waktu secara tidak langsung termasuk dalam sesuatu yang curang, busuk. Ia adalah bentuk kecurangan, penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri (sendiri), pemalsuan. Lalu, pelaku koruptor (waktu) adalah pemalsu, penyeleweng, termasuk sebagai pelaku korupsi.

Ketika dosen melakukan korupsi waktu, dengan terlambat ke kelas untuk mengajar berarti ia telah mengurangi jam mengajarnya, mengurangi ilmu yang harus dibagikan, didiskusikan atau didialogkan dengan mahasiswa. 

Begitu pun mahasiswa, ketika mahasiswa telat ke kelas, ia telah mengurangi jam belajarnya, mengurangi ilmu yang akan diterimanya, mengurangi waktu berdiskusi dan berdialog dengan dosennya.

Waktu tak bisa kembali, waktu tak bisa diulang, waktu hanya bisa diperbaiki, bertemu di lain waktu. Ya, dosen dan mahasiswa yang melakukan kesalahan karena terlambat atau tidak bisa masuk kelas misalnya akan bertemu bertemu di lain waktu, dengan me-reschedule pertemuan kuliah. 

Baik dosen dan mahasiswa, semuanya akan sama-sama rugi. Walau mungkin akan cuma rugi sedikit tidak banyak karena rugi kehilangan waktu.

Sepertiku yang rugi, terlalu santuy menjalani hidup. Dulu, aku suka menunda-nunda ke kampus, suka menunda-nunda ke kelas. Akhirnya, suka terlambat. 

Aku juga suka menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Suka menunda-nunda memeriksa tugas mahasiswa. Aku juga suka menunda-nunda membaca, menunda-nunda makan, menunda-nunda mandi. Akhirnya, banyak yang tertunda, aku jadi tertinggal, “ketinggalan” dalam banyak hal,

Ah, jangan sampai ketinggalan dirimu…