Selasa, 20 Juni 2016 semua mata tertuju pada operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh komisi pemberantasan korupsi (KPK) terhadap Gubernur Bengkulu beserta koleganya. Setidaknya dalam catatan penulis OTT kali ini adalah yang ke lima selama bulan Ramadhan 1438 H/ 2017 M. 

Setelah sebelumnya KPK juga melakukan Operasi Tangkap Tangan terhadap Oknum BPK, oknum Kejaksaan, oknum DPRD Jawa Timur, dan oknum DPRD Kota Mojokerto. Serangkaian peristiwa ini menjadi sinyal begitu berbahayanya prilaku korupsi karena tidak memandang situasi, dibulan Ramadhan yang dianggap bulan sucipun mereka berani melakukan aktivitas kotor.

Hakikat Korupsi

Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Korupsi berasal dari kata korup yang berarti buruk, rusak dan busuk. Jauh sebelum adanya Undang-Undang  No 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi yang mengatur segala larangan segala jenis perbuatan korupsi, Rasullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyatakan bahwa beliau melaknat orang yang memberi dan menerima suap. 

Hal ini menegaskan bahwasannya larangan prilaku korupsi bukan saja menjadi perintah undang-undang, melainkan menjadi perintah juga dalam agama Islam. Perbuatan yang masuk dalam ketegori buruk, rusak dan busuk ini berbanding terbalik dengan pengertian dan pemahaman tentang bulan ramadhan. Perbuatan korupsi identik dengan prilaku mengumbar nafsu, sedangkan bulan ramadhan identik dengan bulan menahan nafsu. Jadi semakin tercelalah orang yang melakukan prilaku koruptif di bulan ramadhan ini.

Hakikat Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang dianggap suci untuk kalangan umat Islam, bahkan sebagian umat lain juga menggangap demikian sebagai wujud toleransi beragama. Bulan dimana 10 hari pertamanya adalah rahmah, 10 hari kedua adalah maghfirah dan 10 hari terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Bahkan Hadits Rasulluah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh mengatakan bahwa apabila bulan puasa tiba, semua pintu surga terbuka. 

Idealnya seharusnya semua umat muslim berloba lomba untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela, namun alih alih menjauhkan diri dari perbuatan tercela sebagian oknum penyelenggara negara justru secara aktif melibatkan dirinya dalam prilaku koruptif selama bulan ramadhan. Bisa dibayangkan dibulan yang suci saja mereka berani melakukan perbuatan yang tercela bagaimana dengan bulan-bulan yang lain. Yang kita khawatirkan bersama ialah jika para oknum penyelenggara negara ini beranggapan bahwa melakukan perbuatan koruptif hanya larangan dalam Undang-Undang tertulis tidak lagi larangan dalam agama yang mereka yakini.

Setidaknya dalam pemahaman oknum penyelenggara negara yang koruptif ini puasa dalam bulan ramadhan hanya diartikan sekedar serangkaian kegiatan menahan lapar dan dahaga hingga menjelang waktu Maghrib, mereka tidak memahami bahwa sesungguhnya inti dalam rangkaian kegiatan puasa adalah “Belajar Menahan Diri” dari segala hal termasuk menahan diri dari prilaku koruptif. Pada bulan ramadhanlah seharusnya umat islam menjadikan bulan ini sebagai medan untuk penempaan/ latihan untuk belajar “menahan diri”, sehingga jika kita berhasil dalam proses latihan selama bulan ramadhan ini, diharapkan dibulan bulan yang lain kita akan menjadi pribadi yang “ahli menahan diri” dari segala hal termasuk prilaku koruptif. Bisa dikatakan mereka yang terjebak dalam prilaku koruptif selama bulan ramadhan gagal dalam proses penempaan dan latihan menahan diri selama bulan ramadhan.

Harapan Setelah Ramadhan

Bulan Ramadhan sudah sampai pada penghujung waktu. Bulan yang sebagian orang anggap sebagai Madrasah umat Islam untuk memperbaiki diri akan meninggalkan kita semua. Semoga pembelajaran “menahan diri” yang sudah didapatkan selama di Madrasah Ramadhan dapat kita aktualisasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari hari di bulan bulan yang akan mendatang, sehingga prilaku koruptif kedepan semakin terkikis seiring dengan proses pembelajaran yang sudah kita lakukan selama bulan ramadhan, namun sebaliknya Jika kedepan semakin banyak prilaku koruptif, mari kita bersama sama berintrospeksi jangan-jangan ada yang salah dengan puasa kita.