Belum juga kejengkelan saya mereda ketika ada seorang ustaz bilang bahwa korona adalah tentara utusan tuhan untuk memporak-porandakan umatnya yang “katanya” terlaknat, saya dibikin jengkel lagi oleh beberapa broadcast yang berseliweran dengan indah di grup WhatsApp keluarga. 

Seperti biasa, broadcast itu tidak jauh beda sama kasus sebelumnya, broadcast-broadcast berbau dalil-dalil agama tentang virus korona yang konon adalah musuh dan azab tuhan kepada manusia.

Kali ini, broadcast tersebut mempersoalkan imbauan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di rumah masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona.

Tentu saya tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar apa isi broadcast tersebut. Ya, selain unfaedah dan gak penting, akan sangat membuang-buang jatah kata saya dalam artikel ini. Pada intinya, broadcast itu hendak mengatakan kira-kira begini:

“Jangan takut korona. Takutlah hanya kepada Allah. Korona itu ciptaan Allah. Jangan takut mati. Mati kita hanya ditangan Allah…..Allahuakbar! Takbiiirrr!1!1”.

Kalau kalian jadi mereka, seumpama saya lemparkan pertanyaan serupa semacam ini:“Harimau, Singa, Ular, Kuda Nil, Badak, Banteng, Macan juga ciptaan Allah, berarti gak boleh dong takut sama mereka. Berani ndak kalau dikandangin berdua?”

Kira-kira bagaimana? Anda mau jawab apa? Modyarrr~

Sialnya, selain dangkal sejak basis argumentasinya, broadcast tersebut kok ya mencatut nama seorang tokoh nasional (yang tak perlu saya sebut namanya). Celakanya lagi, sang tokoh nasional tidak bicara pada porsinya. Beliau ini bukan seorang ahli agama yang punya otoritas memutuskan sebuah fatwa. Ya paling tidak dia paham ushul fiqh dululah.

Lha ini, boro-boro paham ushul fiqh, wong basis argumentasinya hanya pakai teks-teks normatif yang barangkali gagal beliau pahami.

Persoalan makin rumit ketika kelompok pemuja dalil agama ini dengan PeDe dan lantang mengatakan bahwa korona adalah hasil konspirasi orang-orang Yahudi, illuminati, kafir, liberalis, komunis, (yang kata mereka) konon anti-agama. Menurut mereka, virus korona sengaja dibuat untuk menjauhkan umat islam dari tuhannya.

Akibat pijakan berpikir yang kacau semacam itu, pada akhirnya tindakan mereka jadi ikutan kacau. Lha gimana ndak saya katakan begitu, kok bisa-bisanya hanya bermodal dalil-dalil yang menurut mereka sudah paling benar?

Dengan ringan kaki mereka grudukan unjuk rasa ke sebuah masjid yang enggan melaksanakan salat jumat karena anjuran pemerintah yang mengimbau untuk melaksanakan salat juat di rumah masing-masing. Mereka menentang lalu bilang: “Salat Jumat harus terus dilaksanakan. Gak takut sama korona, takutnya sama Allah doang.”

Ulama-ulama semacam Quraish Shihab, Gus Mus, Gus Ulil, Gus Nadhir, Gus Baha’, Gus Muwafiq, dan ulama yang lain, mereka ini, kan, tokoh-tokoh yang kemampuan keislamannya tidak perlu diragukan lagi. Maqomnya sudah bukan kaleng-kaleng. Apa susahnya ikut anjuran mereka, sih?

Atau lihatlah Ormas seperti Muhammadiyah & Nahdlatul Ulama, lembaga-lembaga keagamaan negara macam MUI, atau negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Iran, Mesir, dan lain-lain itu. Mereka semuanya sudah bersepakat terhadap fatwa yang dimakaud. Kok malah di negeri kita orang masih aja ribut soal jumatan, ya?

Di tengah-tengah imbauan para ulama mayoritas yang menganjurkan untuk meniadakan salat jumat dengan menggantinya menjadi salat zuhur, kok ya masih ada saja kelompok muslim yang “gagal paham” memaknai pandemi ini hanya sebagai azab-lah, simbol kemurkaan tuhan-lah, dan pelbagai kecemasan-kecemasan yang lainnya. Hal-hal tersebut makin menampakkan kesempitan berpikir mereka. 

Pandangan imajiner yang seakan menggambarkan betapa buasnya tuhan membuat saya ndak habis berpikir, apakah sebegitu membosankannya tuhan yang selalu tampil dengan muka marahnya? Bukankah tuhan cinta kepada semua makhluknya? Apa susahnya tampil dengan wajah ramahnya seperti inti ajaran-ajarannya?

Bukankah agama adalah lembaga yang identik dengan ajaran cinta dan kasih sayang, perdamaian, dan nilai-nilai kebaikan? Bukankah agama dalam catatan sejarah dibangun atas dasar ketenangan?

Begitu juga agama kita umat islam. Islam menyebutnya dengan istilah: rahmatan-lil-alamin; inti ajarannya adalah “kemaslahatan”. Di Hindu, kita mengenalnya dengan istilah “Ahimsha”; inti ajarannya adalah “cinta”.

Lalu ada apa dengan tuhan yang ini? Kenapa musibah ini diberikan kepada semua manusia? Kenapa tidak kepada orang-orang anti-tuhan yang ada di Barat sana saja? Kenapa tidak diturunkan kepada orang-orang Yahudi yang konon “terlaknat” itu saja? Betapa kurang ajarnya tuhan di titik itu.

Jadi begini, saya coba jelaskan kontra-wacana saya kepada mereka-mereka ini: Islam, dalam pandangan saya, sebaiknya tidak dipahami hanya secara tekstual, dogmatis, kaku, lalu menafikan pandangan-pandangan yang lain. 

Saya akan berangkat dari salah satu gagasan Gus Ulil dalam tulisan-tulisan lamanya di bukunya, Menjadi Muslim Liberal, yang menurut saya masih cukup relevan dengan kondisi kita hari-hari ini. Menurut Gus Ulil, islam hendaknya dipandang sebagai agama “kontekstual”; dalam pengertian bahwa nilai-nilai islam harus diterjemahkan dalam konteks-konteks tertentu, misalkan konteks Arab, Melayu, Eropa, Asia Tengah, dan seterusnya.

Begitulah ajaran islam di tengah-tengah pandemi ini seharusnya dipahami. Bahwa dalam kondisi ini, kita tidak bisa hanya “pasrah” pada kerja wahyu, dogma, dan segala tetek bengek ajaran agama dengan jubah “sakralnya”. Di sana ada kerja ciptaan tuhan lain bernama rasio/akal yang jangan sampai lupa untuk kita gunakan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Islam sepatutnya diletakkan pertama-tama sebagai satu “organisme” yang hidup. Islam adalah agama yang berkembang sesuai dengan napas perkembangan zaman. 

Islam, kata Gus Ulil, bukan satu benda mati yang dipahat lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak diperkenankan untuk disentuh sedikitpun oleh sejarah. Islam yang disuguhkan dengan “paket tuhan” yang anti didebat dan dipersoalkan semacam itu bukan tidak mungkin sebagai salah satu penyebab dari kemunduran islam itu sendiri.

Begitulah persoalan agama membawa kerumitan dalam soal korona ini. Agama yang hanya tampil sebagai entitas baku, dan tak bisa diutak atik, hingga tuhan yang hanya ditampilkan sebagai yang maha peng-azab, bukan tidak mungkin pada akhirnya membawa agama sebagai lembaga yang paling banyak menyumbang banyak masalah.

Bukan tidak mungkin tuhan hanya tampak sebagai zat yang sangat buas; tuhan siapakah itu? Yang jelas, tuhan saya adalah dia yang maha penyayang, bukan yang maha pemarah.

Dalam kondisi semacam itu, saya teringat kembali kepada buku yang sedang asyik saya baca, masih dengan buku lama Gus Ulil, apakah jika tuhan yang senang tampil dengan kemarahan itu adalah “Tuhan Kejahatan”? 

Kalau Gus Ulil berkesimpulan bahwa tuhan sebagai “zat” atau being atau “wujud” yang juga masih berproses, segala kejahatan dan kebaikan itu asalnya dengan tuhan yang sama dan dalam diri tuhan konon terdapat aspek paradoks. Tuhan mengalami “dialektika” yang sama, demikian dengan manusia.

Gus Ulil sampai pada satu kesimpulan tentang konsepsi tuhan yang satu; Tuhan kebaikan sekaligus tuhan kejahatan.

Saya kok malah agak berselisih dengan kesimpulan tersebut sejak belakangan menyaksikan tuhan yang seakan tampil sangat buas itu? Jangan-jangan ada dua tuhan, Tuhan Kebaikan dan Tuhan Kejahatan?

Yang jelas, tuhan saya adalah yang pertama.