Tak  harus menangkap kabut untuk menampung air. Ketersediaan air masih sangat melimpah di tempat terpencil di sebuah dusun yang berada di lereng gunung Sakya itu. 

Capung-capung pun masih berterbangan menikmati hangatnya mentari pagi, memberi tanda bahwa udara memang masih benar-benar bersih.

Pagi itu hujan turun membasahi setiap jengkal tanah bekas tapak kaki dan juga roda kendaraan yang melintasi sebuah sanggar tari yang berada di tempat terpencil di dusun itu. 

Belum ada tanda-tanda kapan terjadi pergantian musim, meski Tabebuya yang menjulang tinggi di gapura sanggar itu sudah menanti untuk mekar di musim kemarau.

Hari itu hari Minggu tanggal 8 Maret 2020. Hari yang dijadwalkan dua tamu dari Jepang untuk datang menyaksikan senyum manis dan gerak gemulai anak-anak yang berlatih menari tari Jawa klasik di sanggar itu.

Seharusnya pada hari Sabtu malam tanggal 7 Maret 2020, kedua tamu dari Jepang tersebut memang sudah semestinya berada di sanggar tari itu. Menyaksikan pementasan tari Jawa klasik dan dilanjutkan dengan diskusi panjang tentang filosofi tari Jawa klasik sebelum esok harinya melihat aktivitas latihan rutin di sanggar tari itu.

Bukan tanpa alasan kedua tamu dari Jepang tersebut membatalkan jadwal kedatangan mereka. Social distancing terkait dengan merebaknya berita tentang penyebaran virus korona telah mereka lakukan sebelum pemerintah kita melaksanakan kebijakan tersebut secara menyeluruh.

Pihak sanggar tentu saja sangat bisa memahami dan menghormati kebijakan mereka membatalkan jadwal kedatangan mereka. Tapi, bagaimana dengan apa yang dipikirkan anak-anak didik sanggar yang telah menanti kedatangan mereka?

Latihan rutin berjalan seperti biasanya hari itu. Meskipun berita tentang penyebaran virus korona di media massa maupun online terus berkembang.

“Kenapa takut dengan virus korona? Solusinya mudah, minum jahe hangat dan jamu temulawak!” celetuk salah seorang anak didik sanggar dengan senyum manisnya yang menawan ketika pamong sanggar menyampaikan pembatalan kunjungan dua tamu dari Jepang tersebut.

Pemahaman tentang social distancing memang tak mudah disampaikan kepada anak-anak, tanpa menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan masuk akal di pemikiran anak-anak. 

Tidak menyalahkan pendapatnya adalah hal pertama yang perlu kita lakukan untuk melanjutkan komunikasi ke tahap berikutnya. Dan dengan bahasa sederhana, sebagai orang dewasa di dekatnya mungkin kita bisa melengkapi pemikirannya untuk memudahkannya memahami apa yang sedang terjadi di hadapan mereka saat ini.

Minum jahe hangat dan jamu temulawak memang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menjadikan tubuh sehat dan bugar agar siap menghadapi serangan dari patogen seperti virus, bakteri dan jamur.

Minum air jeruk nipis hangat yang banyak mengandung vitamin C juga boleh, tapi jangan lupa rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun karena itu dapat menghancurkan selubung lemak (lipid envelope) pada virus korona agar tak lagi dapat menginfeksi sel hidup.

Namun, social distancing bukanlah sekedar takut terinfeksi oleh patogen. Patogen adalah organisme kecil seperti virus, bakteri dan juga jamur yang dapat masuk tubuh dengan aneka macam cara dan menyebabkan penyakit. 

Dan saat ini kita semua sedang menghadapi pandemi atau wabah atau yang juga dikenal dengan istilah pagebluk dari virus korona. Virus berbahaya yang benar-benar baru dan masih terus dalam tahap penelitian dengan penularan yang sangat cepat.

Tentang virus korona

Bulan Desember 2019, China mengumumkan kepada dunia bahwa terdapat virus yang menyebar di komunitasnya. Virus tersebut kemudian menyebar ke negara-negara lain dengan kasus yang bertambah dan berkali lipat jumlahnya. 

Virus ini bernama Severe Acute Respiratory Syndrome-Ralated Coronavirus 2 (SARS-Cov-2) yang menyebabkan penyakit COVID-19 (Coronavirus disease 2019) dan kini kita kenal dengan nama virus korona.

Sebenarnya virus hanyalah sebuah kapsul yang mengelilingi materi genetik dan beberapa protein, dan bisa dibilang bukanlah makhluk hidup. Ia hanya bisa memperbanyak diri dengan cara memasuki sel hidup. Virus korona mungkin menyebar melalui permukaan, tetapi belum diketahui pasti berapa lama virus bisa bertahan hidup di sana. 

Cara utama penyebarannya diperkirakan melalui tetesan cairan ketika seseorang batuk atau ketika kita menyentuh seseorang yang sedang sakit (terinfeksi) kemudian mengusap wajah misalnya mata, hidung dan mulut, di situlah virus korona memulai perjalanannya untuk bergerak menuju ke arah pencernaan, limfa dan paru-paru.

Walaupun hanya sedikit saja, virus korona dapat mengakibatkan situasi yang gawat bagi tubuh manusia. Paru yang dikelilingi miliaran sel epitel yang seharusnya melindungi organ penting ini, dapat terinfeksi oleh virus korona yang menyuntikkan materi genetiknya dengan reseptor spesifiknya yang bernama ACE 2 (Angiotensin-converting enzyme 2) ke membran korban.

Sel yang terinfeksi tidak sadar dengan apa yang terjadi kemudian menjalankan perintah baru yang sangat sederhana, yakni menyalin dan merakit ulang materi genetik virus sehingga sel penuh dengan salinan asli virus hingga mencapai titik kritis dan menerima perintah untuk meledak. 

Sel itu kemudian hancur dan menyebarkan virus korona baru, bersiap untuk menyerang sel lebih banyak lagi sehingga jumlah sel yang terinfeksi naik tajam.

Pada hari ke-10 jutaan sel telah terinfeksi dan miliaran virus telah membanjiri paru-paru. Virus korona masih belum mengakibatkan dampak berlebih, namun ia segera meluncurkan serangan yang nyata yakni pada sistem kekebalan tubuh.

Kekebalan tubuh yang semestinya melindungi tubuh, dalam kasus ini malah membahayakan tubuh dan memerlukan regulasi yang ketat. Karena sejak sel imun bergerak menuju paru-paru untuk menyerang, virus korona juga menginfeksi sebagian dari sel imun dan menyebabkan kebingungan sistem imun.

Sel tidak mempunyai mata dan telinga. Untuk berkomunikasi, sel imun menggunakan sinyal kimia bernama sitokin. Setiap reaksi imun penting dikontrol olehnya. 

Selain menginfeksi sebagian sel imun, virus korona juga memerintahkan sel terinfeksi untuk bereaksi berlebihan. Tujuannya memang untuk menyebabkan kekacauan dalam sistem imun agar mengirimkan sel imun datang lebih banyak dari yang dibutuhkan. 

Dua jenis sel imun yang pertama melawan infeksi adalah neutrofil yang sangat hebat membunuh patogen. Namun kali ini ia tak hanya membunuh sel terinfeksi tetapi juga membunuh sel yang sehat. 

Jenis lain sel imun yang juga penting di sini adalah sel T pembunuh yang biasanya terkontrol dalam memerintahkan sel terinfeksi untuk menghancurkan diri, juga sama bingungnya dengan memerintahkan sel sehat untuk melakukan bunuh diri.

Maka semakin banyak sel imun yang datang, semakin banyak pula kerusakan. Dan tentunya lebih banyak pula jaringan sehat di paru-paru yang dibunuh akibat dari ulah virus korona. Ini dapat menyebabkan kerusakan permanen dan menyebabkan cacat jangka panjang. 

Umumnya sistem imun akan kembali normal secara perlahan. Membunuh sel terinfeksi, mencegat virus yang akan menginfeksi kembali dan membersihkan area tempur untuk pemulihan. Mayoritas orang yang terinfeksi virus korona akan melalui ini dengan gejala relatif sedang. Namun beberapa kasus bisa menjadi parah hingga kritis.

Jadi tidaklah salah juga bila anak-anak yang tinggal di desa itu berpendapat untuk menghadapi virus korona adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh yakni minum jamu tradisional yang secara empiris telah terbukti khasiatnya. Menjadikan tubuh sehat dan bugar disamping olahraga teratur, cukup istirahat dan tidak stres.

Dengan stamina yang kuat dan sehat, seseorang yang terinfeksi memang akan sembuh dengan sendirinya setelah hari ke-14. Sistem imun dalam kondisi tetap stabil dan dapat segera mengendalikan kembali sel-selnya yang terserang virus dan membersihkannya dengan menggunakan sel-T dan antibodi yang diproduksi oleh sel-B. 

(Catatan: Limfosit adalah sel darah putih yang dihasilkan sel-sel batang di sumsum tulang. Setelah terbentuk limfosit berubah menjadi limfosit T dan limfosit B yang disebut dengan Sel-T dan Sel-B. Limfosit T kemudian dimodifikasi di timus menjadi Sel T pembantu, Sel T penekan dan Sel T pembunuh.)

Dengan stamina yang kuat dan sehat, seseorang yang terinfeksi memang hanya akan mengalami gejala yang sangat ringan. Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang sedang rentan daya tahan tubuhnya? 

Tentu saja ini sangat membahayakan bagi mereka. Karena dalam kasus yang parah, jutaan sel epitel mati dan tanpanya selubung pelindung paru-paru pun menghilang. Ini berarti bahwa alveoli (kantung udara) tempat pernapasan terjadi dapat terinfeksi oleh bakteri yang biasanya bukan masalah besar bagi sistem imun tubuh.

Akhirnya, tak hanya virus korona saja yang menyerang paru-paru, bakteri pun juga turut menyempurnakannya. Pasien yang terkena pneumonia (radang paru), pernapasan akan menjadi berat atau malah gagal hingga pasien harus menggunakan ventilator (alat bantu pernapasan) untuk bertahan hidup. 

Sistem imun tubuh telah berjuang keras selama seminggu dengan membuat jutaan senjata antiviral. Dan ribuan bakteri yang membelah cepat, membuat sistem imun menjadi kewalahan. Bakterinya memasuki darah dan menyerbu tubuh. 

Bila ini terjadi maka kematian akan menjadi memungkinkan. Dalam kasus pandemi, bila jumlah yang sakit berlebih, fasilitas kesehatan tentu akan kewalahan pula untuk mengatasinya. Belum lagi sumber daya yang terbatas, seperti tenaga medis dan juga peralatan seperti ventilator.

Kembali ke akar budaya bangsa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. 

Memperlambat pandemi adalah mencegah, memutus rantai dan memperlambat penyebaran virus, agar yang sakit mendapatkan perawatan dengan baik dan tidak terjadi titik genting di rumah sakit karena kewalahan apabila yang jatuh sakit lebih banyak dan serempak, sedangkan kapasitas sistem kesehatan terbatas.

Sebagai makhluk sosial yang beradab, tentu saja social distancing menjadi kebijakan yang sangat tepat dalam menyikapi wabah virus korona ini agar bergerak melambat dan berakhir dengan indah.

Kita tidak tahu apakah kita terinfeksi atau tidak. Meskipun tidak menunjukkan gejala yang berarti seperti demam dan batuk kering atau seperti gejala sakit flu, apabila kita terinfeksi kita tetap bisa menginfeksi orang lain saat melakukan kontak sosial.

Dengan melakukan social distancing, sebenarnya kita telah turut serta memperlambat pandemi agar situasi dan kondisi secara keseluruhan dapat terkendali. Tidak menjadi terinfeksi dan tidak menginfeksi orang lain.

Tanpa berpelukan dan juga jabat tangan, kita bisa tetap berada di rumah untuk melindungi siapa saja yang di luar seperti tenaga medis, kasir, polisi dan pihak-pihak yang benar-benar berkepentingan agar tetap dapat menggerakkan fungsi sosialnya.

Sebagai sanggar pelestari akar budaya ikhlas tanpa pamrih melalui kegiatan menari sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menyikapi mewabahnya virus korona kali ini adalah dengan tulus ikhlas turut melakukan social distancing untuk memperlambat pandemi. 

Kegiatan rutin sanggar pun kemudian diliburkan setelah latihan terakhir pada hari Minggu pagi itu, 8 Maret 2020. Anak-anak didik sanggar pun dapat berlatih di rumah masing-masing. 

Dan ini sekaligus merupakan waktu yang tepat bagi anak didik sanggar untuk mempraktikkan menari sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Esa. Di manapun dan kapan pun dapat dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih.

Sanggar tari yang berada di tempat terpencil itu memang tidak mendidik anak-anak untuk pintar menari, melainkan mendidik dan melatih anak-anak didiknya untuk dapat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui kegiatan menari.

Latihan rutin setiap hari Minggu pagi itu kini telah sebulan diliburkan. Anak-anak yang baru bergabung mungkin sudah merindukan latihan kembali. Banyak sudah yang menanyakan kapan latihan akan dimulai kembali. 

Bagi anak didik sanggar yang telah lama bergabung, kebijakan libur oleh pihak sanggar tentu dapat dengan mudah diterima dengan suka cita. 

Mereka mungkin lebih mudah memahami bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari praktik keikhlasan menerima untuk menjadi anak-anak indah di manapun mereka berada. Tak hanya saat berada di sanggar, tapi juga saat berada di rumah.

Tidak bisa berlatih menari bersama lagi di sanggar mungkin membuat sebagian anak-anak kecewa. Sejak hari Minggu pagi itu, dunia seakan-akan memang terasa terbalik. 

Yang biasanya beraktivitas di luar rumah harus membatasi gerak sosialnya untuk berada di rumah. Demikian pula dengan anak-anak yang biasanya harus pergi ke sekolah di pagi hari, harus tetap berada dan belajar di rumah. 

Bagi sebagian orang, situasi dan kondisi ini mungkin juga tidaklah mudah diterima, namun suka ataupun tidak suka harus tetap dihadapi. Setidaknya masih hidup, itu yang penting dan harus kita syukuri. 

Sisi positif lainnya adalah bumi tempat kita bernaung kini dapat bernapas lega mendapatkan kembali udara segar. Karena kebijakan social distancing yang diterapkan, secara tidak langsung telah mengurangi polusi udara.

Bila rumput tetangga sering tampak lebih hijau, kini saatnya masing- masing keluarga kompak berkreativitas bersama-sama menciptakan surga di rumahnya masing-masing dan menghijaukan rumput di halaman rumahnya masing-masing.

Ikhlas tanpa pamrih adalah akar budaya bangsa yang saat ini mungkin sudah mulai terlupakan. Ikhlas tanpa pamrih tentu sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup selama menghadapi pandemi virus korona dan menjadikannya sebagai napasnya. 

Ikhlas menerima keadaan dan ikhlas bergotong-royong bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk saling menjaga dan bertahan hidup melewati pandemi ini agar tidak banyak jatuh korban dan dapat berakhir indah.

Berakhir dengan keikhlasan, rasa syukur, dan keadaan yang baik untuk kelak dapat kembali memulai hidup baru. Dan menyambut dunia baru, seiring dengan mekarnya Tabebuya di musim kemarau. 

Sumber: Coronavirus, Kurzgesagt in a Nutshell