Kondisi Perekonomian Dunia Saat ini 

Pada akhir tahun 2019, seluruh dunia digegerkan dengan adanya virus Covid-19 yang telah muncul pertama kali di Wuhan, Cina, yang setelah itu menyebar luas di beberapa negara, termasuk di Indonesia. 

Virus ini tersebar di indonesia pada awal tahun 2020. Setelah covid-19 dinyatakan resmi muncul di Indonesia, pemerintah segera membuat kebijakan, yakni mulai dari memperketat protokol kesehatan hingga membatasi kegiatan tatap muka dalam seluruh lini kegiatan. 

Hal ini tentunya memberikan dampak yang sangat besar bagi kegiatan sehari-hari masyarakat, khususnya dalam kegiatan perekonomian, yang dimana banyak sekali sektor perekonomian yang mengalami penurunan penghasilan karena operasinya harus dibatasi atau bahkan dihentikan, sehingga menyebabkan banyak karyawan, buruh, dan pekerja lainnya di PHK, dan berpengaruh terhadap kesejahterannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2020 nasional hanya tumbuh 0,03% atau cenderung stagnan menjadi 71,94 dari tahun lalu yang 71,92. 

Rendahnya pertumbuhan IPM nasional tahun ini terpengaruh penurunan komponen pengeluaran per kapita atas dasar harga konstan 2021 yang disesuaikan (Purchasing Power Parity/PPP) Sebesar Rp 11 juta pada tahun ini atau turun 2,53% dibandingkan 2019. 

Tingkat kemiskinan dan pengangguran Indonesia juga meningkat selama pandemi Covid-19. Pada Maret 2020, tingkat kemiskinan tercatat sebesar 9,78% atau setara 26,42 juta orang. 

Angka tersebut tertinggi sejak September 2017. Lalu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) meningkat dari 4,94% atau 7 juta orang menganggur pada Agustus 2019 menjadi 7,07% atau 9,8 juta orang pada Agustus 2020.

Korelasi Teori Nasarrudin Thusi Terkait Kondisi Perekonomian Saat ini

Pemerintah memberikan beberapa macam bantuan sosial berupa dana BLT yang diperuntukan untuk keluarga yang membutuhkan, UMKM dan beberapa sektor lainnya. Per tanggal 3 Juni 2020, pemerintah mengucurkan dana penanganan COVID-19 sebesar Rp 87,55 Triliun. 

Dana sosial ini akan digunakan untuk pemenuhan kesejahteraan masyarakat di tengah wabah COVID-19. Hal ini merupakan ikhtiar yang dapat dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia secara perlahan.

Dalam teorinya, Thusi menyebut ekonomi sebagai political economy, sebagaimana terungkap dalam kata, siyasah-e-mudun yang ia gunakan. Kata ini berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu siyasah (politik) dan mudun (kota dan struktur perekonomiannya). 

Ia menyatakan bahwa spesialisasi dan pembagian tenaga kerja telah menciptakan surplus ekonomi sehingga memungkinkan terciptanya kerja sama dalam masyarakat untuk saling menyediakan barang dan jasa kebutuhan hidup. 

Hal ini merupakan tuntutan alamiah sebab seseorang tidak bisa menyediakan semua kebutuhannya sendiri sehingga menimbulkan ketergantungan satu dengan lainnya. 

Akan tetapi, jika proses ini dibiarkan secara alamiah, kemungkinan manusia akan saling bertindak tidak adil dan menuruti kepentingannya sendiri-sendiri. Orang yang kuat akan mengalahkan yang lemah. Oleh karena itu, diperlukan suatu strategi (siyasah/politik).

At-Thusi juga sangat menekankan tentang pentingnya tabungan dan mengutuk konsumsi yang berlebihan serta pengeluaran-pengeluaran untuk aset-aset yang tidak produktif, seperti perhiasan dan penimbunan tanah tidak produktif. 

Ia memandang pentingnya pembangunan pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi secara keseluruhan dan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Ia juga merekomendasikan pengurangan pajak, di mana berbagai pajak yang tidak sesuai dengan syariah Islam harus dilarang. 

Hal ini tentunya memiliki korelasi yang erat dengan kondisi pandemi saat ini. Karena dengan macetnya perekenomian dunia lantaran wabah Virus COVID-19 ini, pendapatan yang diperoleh juga akan berkurang, bahkan tidak sedikit perusahaan yang melakukan PHK kepada sejumlah karyawannya, lantaran sudah tidak sanggup untuk membayar upah karyawannya. 

Korelasinya dengan teori at-Thusi ini, yakni pada teorinya yang menyebutkan “At-Thusi juga sangat menekankan tentang pentingnya tabungan dan mengutuk konsumsi yang berlebihan serta pengeluaran-pengeluaran untuk aset-aset yang tidak produktif, seperti perhiasan dan penimbunan tanah tidak produktif”.

Teori At-Thusi ini terbukti dalam kondisi seperti sekarang yang membuktikan bahwa tabungan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian  hari. Pada saat pandemi ini, uang merupakan hal yang sangat penting.

Karena pada hakekatnya, pada kondisi apapun, selama manusia masih hidup dan bernafas mereka harus berjuang untuk dapat bertahan hidup, salah satunya yakni dengan konsumsi. Konsumsi merupakan hal yang wajib dilakukan oleh manusia dalam kondisi apapun, baik ada pendapatan maupun tidak ada pendapatan.

Implementasi Teori At-Thusi dengan Ajaran Islam dan Hadist 

At-Thusi menyampaikan dalam pemikirannya mengenai ekonomi islam, yaitu konteks menabung. Dalam mengatasi masalah ekonomi yang semakin sulit, menabung menjadi pokok penting guna menstabilitaskan pendapatan ekonomi. 

Menabung dimaksudkan untuk menjaga naik turunnya pendapatan dalam hal simpanan. Adakalanya manusia membutuhkan harta secara tiba-tiba. Oleh karena itu, menabung menjadi tolak ukur untuk menjaga pendapatan ekonomi dan simpanan jangka panjang. 

Pembahasan tentang menabung jarang disampaikan oleh para penceramah-penceramah saat ini. Oleh karenanya, tidak sedikit yang menganggap bahwa ajaran Islam tidak mendorong umatnya untuk menabung. 

Mungkin hal ini karena ada pendapat bahwa dengan menabung seolah kita tidak percaya akan adanya rezeki dari Allah, serta merupakan sikap menimbun harta. Namun anggapan tersebut perlu mendapat koreksi.

 “Allah memberi rahmat kepada seseorang yang berusaha dengan baik, membelanjakan secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits itu menyatakan bahwa orang yang menabung bukan hanya boleh, tapi juga akan mendapat rahmat dari Allah SWT. Dengan demikian dalam ajaran Islam menabung adalah perbuatan mulia. 

Menabung merupakan upaya maksimal kita untuk menjaga kemungkinan akan adanya kebutuhan pada masa yang akan datang. Setelah menabung, barulah kita berserah diri (pasrah) kepada Allah SWT. 

Menabung bukanlah sikap tidak percaya akan adanya rezeki dari Allah SWT, melainkan sebuah proses pengelolaan (manajemen) yang baik atas rezeki Allah, SWT. Menabung adalah cermin dari sikap amanah kita akan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Dengan menabung, artinya kita memiliki perspektif waktu jauh ke depan. Kita tidak melihat pengeluaran dalam kacamata jangka pendek saja, melainkan sudah membuat perkiraan apa-apa saja yang harus dikeluarkan pada masa mendatang, dan karenanya perlu dipersiapkan sejak sekarang.

Menabung adalah menyisihkan harta kita untuk mempersiapkan suatu pengeluaran penting pada masa mendatang, sehingga pada saatnya tiba telah tersedia dana yang memadai. 

Dan dengan menabung, artinya kita tidak terbawa hawa nafsu untuk memenuhi pemenuhan kepuasan sekarang atau jangka pendek, melainkan mengendalikan pemenuhan keinginan kita untuk dapat memenuhi kebutuhan masa yang akan datang yang jauh lebih penting.