23867_88693.jpg
BBC Indonesia
Media · 4 menit baca

Korban Kebohongan Ratna
Kritik terhadap Opinion-Leader

Selalu ada pelajaran di balik masalah yang terjadi. Begitu pun pelajaran akan hoaks terbesar yang terungkap di pertengahan tahun 2018 ini. 

Hoaks bukan lagi barang langka yang sulit ditemukan di Indonesia. Tapi barangkali sudah menjadi konsumsi dan produksi sehari-hari. Setiap hari, akan ada yang mendapatkan pesan informasi palsu, begitu pun mereproduksinya dengan mem-forward ke sejumlah media.

Namun, yang terjadi pada Ratna Sarumpaet kemarin benar-benar menarik. Di tengah bencana nasional, Ratna secara tiba-tiba mendatangi Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, mengadukan penganiayaan yang ia akui alami di Bandung. Sebagai seorang juru kampanye di Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Fadli Zon langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Prabowo.

Pada hari Selasa (2/10), Ratna Sarumpaet mengunjungi kediaman Prabowo, sekaligus disampingi Amien Rais dan Fadli Zon. Ratna menceritakan kronologi kejadiannya. Penganiayaan yang ia akui itu terjadi pada tanggal 21 September di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Ia dipersekusi oleh tiga orang tidak dikenal. Ia mengakui setelah itu langsung menuju rumah sakit bedah karena mengalami luka-luka yang serius di wajahnya.

Usai pertemuan tersebut, Hanum Rais, putri Amien Rais sekaligus penulis novel terkenal, mengunggah videonya yang terisak-isak mendukung Ratna Sarumpaet di akun Twitternya. Tidak lama setelah itu pula, Prabowo Subianto beserta timnya mengadakan konferensi pers mengenai tanggapannya yang mengutuk keras atas penganiayaan yang dialami Ratna.

Selain itu, swafotonya dengan wajah lebam tersebar di media sosial ramai menimbulkan asumsi netizen. Banyak yang membela, begitu pun banyak tidak mempercayainya. Beberapa tanggapan di Twitter dan Instagram dari tokoh-tokoh publik juga bermunculan. Dari unggahan Fahira Idris yang mendesak aparat kepolisian untuk segara mengungkap pelakunya, akademis Rocky Gerung yang turut membela aktivis perempuan tersebut. 

Selain itu juga, ada Tompi, musisi sekaligus dokter bedah plastik yang memberikan dugaan lebam wajahnya merupakan hasil operasi plastik, serta Tsamara Amany, politikus muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang mengkritisi informasi tersebut untuk tidak langsung diterima begitu saja.

Kepolisian sendiri telah berupaya menghimpun informasi Laporan Polisi dari seluruh Polsek Bandung terkait penganiayaan yang terjadi di Bandung. Namun, tidak ada satupun informasi mengenai perkara terkait. 

Klimaksnya, tidak lama semenjak kehebohan yang ia buat, Ratna segera mengonfirmasi bahwa penganiayaan yang ia alami adalah kebohongan belaka. Ia mengaku, cerita tersebut muncul dari setan-setan yang membisiki. Lebam-lebam di wajahnya ialah bekas operasi plastik yang ia lakukan di Jakarta.

Two-Step-Flow Communication 

Two-step-flow communication merupakan teori yang diciptakan oleh Lazarsfeld, Berelson, dan Hazel Gaudet. Pada dasarnya teori ini merupakan kritik terhadap Teori Jarum Hipodermik, bahwa pesan yang disampaikan oleh media massa tidak langsung diterima oleh khalayak kemudian menunjukkan reaksinya.

Lazarsfeld mengujinya pada Pemilihan Presiden Amerika pada tahun 1940; ditemukan bahwa ada cara kerja baru media dalam memengaruhi opini publik. Lazarsfeld mencari tahu bagaimana khalayak menentukan keputusan media dibuat, ternyata pengaruh pesan media secara langsung terhadap keputusan tindakan hanya 5%. Selebihnya, khalayak memutuskan mengikuti opinion leader yang dianggap lebih kredibel dan berpengalaman dalam pengambilan keputusan.

Dari sini Lazarfeld melihat model baru proses penerimaan pesan dan tindakan, yakni two-step-flow. Model two-step-flow mengatakan bahwa orang tidak dipengaruhi secara langsung oleh media massa; mereka membentuk opini berdasarkan pada opinion leader yang menafsirkan dan mengasumsikan pesan media dengan menempatkannya dalam konteks yang ia kuasai.

Opinion leader adalah khalayak yang awalnya terpapar pada konten media tertentu, dan yang menafsirkannya pesan-pesan tersebut berdasarkan pendapat mereka sendiri. Mereka kemudian mulai menginfiltrasi dan mempersuasikan pendapat ini kepada masyarakat umum yang menjadi follower opinion.

Para opinion leader ini biasanya mendapatkan influence mereka melalui media yang lebih elit dibandingkan dengan media massa mainstream. Opinion leader ini berada dalam pengaruh sosial yang dikonstruk dan disesuaikan oleh cita-cita dan opini dari kelompok elite tertentu.

Goals dan opini kelompok elite yang berlawanan dan dalam kombinasi dengan sumber media massa populer. Teori ini berkaitan erat dengan kelompok-kelompok besar yang pencipta opini publik. Oleh karena itu, pengaruh utama dalam pendapat ini terutama adalah persuasi sosial yang pengaruhnya besar terhadap society.

Korban Kebohongan Ratna dan Hikmah bagi Opinion Leader 

Setelah pengakuan kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet, tokoh-tokoh publik bergegas melakukan permintaan maf dan mengevaluasi dukungan yang sebelumnya ia berikan. Mereka semua mengaku kecewa dan merasa dirugikan atas hoaks besar yang dilakukan oleh Ratna. Tidak tanggung-tanggung, calon presiden bahkan presiden terpimpin saat ini pun terkena imbas dari cerita palsu yang dibuat Ratna.

Prabowo Subianto jelas-jelas orang yang paling dirugikan saat ini. Sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019, ia merasa bahwa yang dilakukan Ratna akan menurunkan tingkat elektabilitasnya serta mencoreng citra baik koalisinya. Selain itu juga, ada anggota DPR RI Fadli Zon, Fahri Hamzah, Fahira Idris, yang merasa ditipu dengan perilaku Ratna.

Tanpa mereka sadari bahwa kesalahan dukungan tanpa konfirmasi yang tuntas akan menjadi domino bagi masyarakat. Masyarakat luas banyak telah tergiring opininya dan menjerumuskan pada kebohongan totalitas. Kepercayaan masyarakat, selaku opinion follower, terhadap opinion leader tidak bisa dikembalikan sepenuhnya. Tentu harus ada yang dibayar mahal oleh Ratna kepada yang ia rugikan.

Hikmahnya, bagi para politisi dan teknokrat, sebagai opinion leader, mereka harus memiliki seperangkat alat untuk memfilter informasi dan tim eksekusi informasi sehingga informasi bisa bersifat A1, benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Follower opinion pun tentu harus mendapatkan pendidikan dan literasi jurnalistik yang memadai, sehingga tidak mudah menerima informasi begitu saja. Bahkan sikap mudah mereproduksi ulang informasi yang belum tentu benar juga harus diupayakan sehingga dapat dikontrol arus informasi hoaks.

Jadi, mari lakukan #SaringSebelumSharing!