Badannya agak gemuk, tapi cukup lincah untuk ukuran anak seperti dia. Usianya baru empat belas tahun, saat ini dia duduk di sekolah menengah pertama di sekolah yang tak berapa jauh dari tempat tinggalnya. Rumahnya berada di kawasan perkampungan yang cukup padat di tengah-tengah kota Jakarta.

Salat subuh baru saja usai, ia bergegas meninggalkan musala yang  tak banyak jemaahnya yang ikut sholat subuh hari itu.  Seperti hari-hari biasa, dengan berjalan agak cepat ia menuju agen koran di seberang jalan depan sebuah toko yang masih tutup.

Sudah banyak anak-anak bahkan orang dewasa penjual koran yang sibuk menyusun dan menghitung koran-koran yang akan mereka bawa untuk dijual hari itu, sebagian lagi sedang antri mendapat jatah pembagian koran.

“Dan, tumben lu telat ?” tanya Aji.

“Iya, gue tadi kesiangan, tadi aja salat subuh ketinggalan,” jawab Dani sambil menyusun koran-koran yang akan ia bawa.

“Lu bawa koran berapa Ji, Gue Cuma dapat jatah dua puluh?” tanya Dani.

“Biasanya gue dapat tiga puluh sekarang sama kayak lu Dan, gue cuma dapat dua puluh juga!”

“Kenapa ya, bang Ujang dapat jatah dari koran memangnya sedikit kali ya?” sahut Dani.

“Kayaknya sih begitu,”  jawab Aji yang sudah siap-siap untuk berangkat membawa koran-korannya yang akan ia jual.

Siang mulai merambat naik, sinar matahari pagi itu mulai menerangi kesibukan agen koran dan para loper-lopernya. Sama dengan yang lainnya, Dani juga mulai berjalan menuju persimpangan lampu merah, tempat biasa ia menjual koran. Sambil meneriakkan koran-koran dagangannya, ia mulai naik ke bus-bus kota yang berhenti di lampu merah ia menawarkan koran-koran tersebut kepada penumpang yang belum terlalu banyak.

Di salah satu bus yang ia naiki, tanpa diketahuinya lampu merah sudah berganti hijau, tidak mungkin lagi ia turun, karena bus sudah berjalan agak kencang, ia pun terpaksa berada di kendaraan itu. Sambil berjalan menuju kursi belakang bus ia mulai merasa resah, karena belum pernah ia berjualan keluar dari kawasan simpang jalan itu.

Ada perasaan takut di hatinya. Takut kalau-kalau dia tidak ingat kembali jalan pulang, takut kalau diganggu anak-anak jalanan atau orang-orang iseng yang akan meminta uangnya. Pikirannya berkecamuk dengan rasa penasarannya, Ia juga ingin tahu bagaimana rasanya menjual koran jauh dari tempat biasanya berjualan.

Akhirnya bus itu pun masuk dan berhenti di terminal yang letaknya agak di pinggir kota. Rasa takutnya semakin kuat, saat orang-orang yang tersisa di bus tersebut turun semua, sambil melangkah turun dari bus, Dani mencoba melepas pandangannya ke seluruh kawasan terminal.

“Wah.. gawat nih, kayaknya gak perlu turun, lebih baik di Bus ini aja,” katanya dalam hati. Ia mulai berpikir agar bisa kembali pulang dengan bus yang sama. Kata orang, terminal di sini agak rawan, dan banyak orang-orang yang datang dari kampung sering “dikerjain” sama preman-preman di terminal ini.

Benar juga dugaannya, tak berapa lama ada tiga orang anak-anak seusianya yang juga menjual koran di terminal itu, mereka  datang menghampirinya. “Eh gendut, lu anak mana?”  tanya salah seorang dari mereka dengan mata melotot. “Gue belum pernah lihat lu jualan di sini?” tanya satu  temanya lagi  yang agak tinggi.

Dani hanya terdiam, sedikit cemas, tapi ia berusaha menjawab. “Ya, gue baru datang naik bus ini, tadi gue kebawa ke sini,” jawabnya. Ia pun berusaha tenang, sambil menatap mereka dengan senyum.

“Ohh... gitu, ya udah, sekarang lu balik aja lagi, nanti kalau bus ini jalan lu balik ya!” kata salah seorang di antara mereka yang badannya agak kurus. Dani mengangguk setuju dan memenuhi permintaan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan Dani.

“Alhamdulillaaah...untung aja,” kata Dani dalam hati. Ia pun mulai tenang dan berpikir mencari jalan untuk pulang. sepertinya tidak mungkin ia menunggu bus yang sama untuk jalan pulang, karena ia tidak tahu kapan bus ini akan kembali ke tempat ia naik tadi.

Hari mulai ramai, matahari mulai menyengat di terminal tersebut, tak berapa lama salah satu bus dengan nomor yang sama dengan yang ia naiki saat datang ke terminal itu pun ada yang berangkat. Dengan sigap Dani melompat ke atas bus tersebut, hatinya mulai agak lega.

Tanpa terasa perjalanan menuju tempatnya biasa memangkal tak berapa lama lagi sampai, sambil menunggu ia pun menawarkan koran-korannya yang masih tersisa. Banyak temannya yang bertanya saat ia sampai di persimpangan lampu merah, menanyakan dirinya yang tak biasanya “menghilang” sebelum waktu salat zuhur datang.

Hari itu koran yang tersisa hanya tinggal dua buah, lumayanlah setidaknya dapat menghibur perasaannya saat “terdampar” di terminal tadi siang. Sambil menghitung pendapatannya Dani segera jalan menuju pulang, ia harus pulang lebih cepat karena Emak lagi kurang sehat, Emak sudah tiga  hari ini memang sedang sakit. Hanya Lastri adik satu-satunya yang menemani dan Lastri pun harus absen sekolah untuk itu.

Sejak Bapak tidak lagi ada, hanya bertiga mereka menjalani kehidupan yang terasa begitu berat. Penghasilan Emak menjual kue-kue dan menjadi tukang cuci di beberapa rumah tetangga masih sangat kurang untuk menutupi kebutuhan mereka.

Langkahnya melambat saat memasuki gang rumahnya, hatinya ciut saat melihat bendera kuning, bendera yang biasa dipasang sebagai tanda adanya warga yang meninggal dunia. Pikirannya berkecamuk, dengan setengah berlari ia menuju rumahnya yang sudah penuh dengan tetangga yang hadir. Lastri pun berlari menyongsong dirinya, mereka pun bertangisan sambil berpelukan menumpahkan perasaan mereka.

Orang-orang yang hadir di rumah itu tak kuasa melihat mereka berdua. Sebagian menghampiri dan merangkul Dani dan Lastri adiknya. Hari itu benar-benar terasa berat, seberat pandangannya menatap masa depan yang harus ia jalani bersama Lastri.