Koran, sebagaimana lazimnya, merupakan salah satu media untuk membaca, baik membaca informasi maupun gagasan-gagasan. Namun, sering kali koran digunakan tidak sebagaimana lazimnya, misalnya, hanya sebagai bungkus nasi, bungkus gorengan dan lain-lain oleh mayoritas masyarakat kita.

Hal ini perlu kiranya menjadi perhatian bagi pemerhati literasi. Supaya masyarakat menggunakan koran sebagaimana mestinya, yaitu sebagai salah satu media membaca.

Koran sebagai media untuk membaca mengalami tantangan yang cukup kompleks dewasa ini. Mulai dari rendahnya minat baca masyarakat kita, hingga teknologi yang kian canggih. Misalnya, kita tidak usah repot-repot membeli dan menumpuk koran untuk membaca informasi. Cukup membacanya melalui media-media online yang tumbuh subur layaknya jamur di musim hujan.

Hadirnya media online di tengah-tengah masyarakat kita memang memanjakan mereka dalam hal memburu informasi. Tetapi sangat disayangkan, ketika hari ini media online justru menjadi salah satu media yang paling dominan dalam menyebarkan berita palsu (hoax). Maraknya berita palsu (hoax) semakin menjadikannya seakan suatu kebenaran yang harus diimani melebihi wahyu mana pun.

Kondisi ini diperparah oleh ketidakcerdasan para pembaca media online dalam membaca berita palsu (hoax). Mereka tidak bisa memfilter mana berita yang asli dan mana berita yang palsu. Parahnya lagi, seseorang yang sudah paham dan bisa membedakan mana yang asli dan mana yang hoax, malah ikut mengeshare berita-berita hoax melalui akun sosial medianya.

Maraknya penyebaran hoax oleh orang-orang yang terlanjur dianggap mempunyai otoritas intelektual semakin mempersulit orang-orang awam untuk membedakan antara yang hoax dan yang bukan. Kondisi yang ironis.

Mengenai rendahnya minat baca masyarakat kita terhadap koran, sebenarnya persoalan lama yang dibiarkan tanpa ada usaha yang masif untuk mengubah kebiasaan itu. Usaha ini merupakan tugas kita bersama, baik pemerhati literasi maupun birokrasi. Hal ini tentu membutuhkan waktu dan proses yang panjang mengingat kesadaran masyarakat kita akan pentingnya membaca yang masih rendah.

Salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir masayarakat. Karena pola pikir itu yang menentukan pola hidup suatu masyarakat. Di mana selama ini mereka berpikir bahwa membaca tidak akan memberikan keuntungan apa pun.

Mereka cenderung mengartikan keuntungan, sebatas pada keuntungan materi. Misalnya, dengan membaca, kita akan menjadi kaya. Dan semakin banyak membaca, semakin banyak jugalah kekayaan kita. Padahal, selain keuntungan materi, juga ada keuntungan non materi. Misalnya, jika kita membaca, maka bertambahlah pengetahuan dan wawasan kita.

Masih sedikit bisa ditolerir, masyarakat kita yang membeli koran untuk dijadikan bungkus, baik nasi, gorengan dan lain-lain karena mayoritas mereka yang tidak berpendidikan, daripada kalangan terpelajar kit (siswa dan mahasiswa) yang sama sekali tidak pernah berbelanja koran, apalagi membacanya.

Jika anak muda kita yang terpelajar saja sudah merasa ogah dan enggan membeli dan membaca koran, lalu bagaimana mereka masyarakat dan kaum muda kita yang tidak terpelajar akan membaca koran?

Nyaris tidak bisa saya bayangkan, kondisi masyarakat kita jika tanpa koran dalam kesehariannya. Mereka tidak akan mampu membangun peradabannya, sebagaimana para khalifah Islam dulu membangun peradabannya serta meraih masa-masa keemasannya.

Mereka membangun peradabannya dulu, tentu melalui semangat literasi yang tinggi. Beribu-ribu buku dan surat-surat kabar (sekarang koran) mereka cetak dan diseberluaskan ke tengah-tengah masyarakatnya. Sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat dan berita-berita palsu (hoax) mudah dikontrol dan dikendalikan.

Bahkan, tidak hanya dunia Islam yang merasakan manfaat dari perkembangan ini, dunia di luar Islam pun ikut merasakannya. Terbukti, pada masa-masa kejayaan Islam, banyak orang-orang di luar Islam (Barat) yang belajar ke dunia Islam (Timur). Kondisi ini bisa terjadi karena mereka menghargai ilmu pengetahuan, penyebaran ide-ide dan gagasan melalui media-media, layaknya koran hari ini.

Tidak dapat disangkal, bahwa perlawanan bangsa kita (baca: Indonesia) terhadap kolonialisme juga dilakukan melalui media-media cetak (baca: koran). Para pejuang kita menyebarkan ide-ide dan gagasannya tentang wajibnya melawan penjajah dan pentingnya merebut kemerdekaan, juga melalui media-media cetak.

Salah satu media cetak (koran) tertua di Indonesia yang turut berperan aktif dalam menyebarkan ide-ide perlawanan dan kemerdekaan adalah koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang sekarang berpusat di Yogyakarta.  

Jadi, sangat disayangkan jika dewasa ini masyarakat kita tidak lagi akrab dengan koran sebagai salah satu media baca, bukan sebagai bungkus nasi, gorengan dan untuk gaya-gayaan agar disebut intelektual, misalnya.

Karena pengetahuan dan wawasan yang dihasilkan dari membaca ini tidak ternilai harganya dan tidak bisa ditukar dengan materi apa pun. Karena dari sanalah peradaban dibangun dan akan terus dibangun.

Di sinilah letak keterkaitan koran (kertas) dan peradaban itu berada. Karena itu, sangat disayangkan ketika koran yang mempunyai peranan penting bagi peradaban. Semakin tinggi konsumsi masyarakat kita terhadap koran (sebagai media baca), semakin tinggi pulalah peradaban masyarakat kita.