3 tahun lalu · 451 view · 3 menit baca · Hukum kopi-racun.jpg
Foto: http://www.kabarhukum.com/

"Kopi Vietnam" dan Paranoid Minum Kopi

Beberapa hari ini siaran berita TV sepertinya tak pernah sepi dari kasus kopi. Mulai dari Lamborgini yang menabrak warung kopi pinggir jalan, teroris yang bikin rusuh di kedai kopi Starbucks, hingga kasus wanita cantik yang meregang nyawa di kedai kopi elit dan kasusnya belum terpecahkan sampai sekarang.

Entah kesulitan apa yang didapatkan para pengungkap fakta ini sampai begitu sulitnya menetapkan tersangka pembunuh pecinta kopi. Sebagai seorang yang tak mengerti cara-cara pengungkapan kasus kriminal, saya hanya bisa menggumam nakal.

“Panggil saja Detective Conan kalau polisi tak kunjung mampu mengungkap kasus ‘Kopi Vietnam’ itu.!”

Atau guyonan teman-teman saya yang sempat bikin saya mendadak penasaran namun akhirnya tertawa bodoh.

“Kabar terbaru, telah diungkap siapa sejatinya pembunuh Mirna. Ternyata bukan si Jessica ataupun si Hani. Pelakunya tunggal. Pelaku tunggal inilah yang membunuh Mirna.”

Siapapun yang sedang ada di situ dan mendengarkan cerita teman saya itu pasti akan serentak bertanya.

 “Siapa?”

“Sianida”

Mendengar jawaban itu, semua yang sebelumnya penasaran menjadi berubah sikap. Ada yang tertawa bodoh seperti saya, ada yang mengumpat dengan keras dan ada yang telat faham. Sehingga tertawa atau umpatannya telat momentum.

Melihat kasus yang mencatut nama minuman favorit saya ini, saya menjadi agak resah dan paranoid. Kopi sekarang terstigmakan menjadi sebuah minuman yang tak aman. Tentu bukan hanya bagi kaum elit tapi juga kaum alit seperti saya yang terbiasa minum kopi di angkringan-angkringan pinggir jalan. Saya terbayang jika tiba-tiba ada mobil pickup atau gerobak sampah yang nabrak angkringan karena pengemudinya mengantuk.

Tragedi “Kopi Vietnam” yang berlarut-larut ini secara tidak sadar membuat para pecinta kopi seperti saya agak paranoid jika polisi tak kunjung mengungkap dalang Sianida “Kopi Vietnam”.

Saya yang sering bersantai dengan kopi, bertugas dengan kopi dan belajar dengan kopi, mulai mengikis kebiasaan saya. Kopi yang biasanya menemani hari-hari saya tak pernah habis terlahap. Entah karena paranoid saya yang berlebihan atau saya terlalu fokus dengan berita kopi di TV yang tak kunjung selesai lakon-nya, sampai saya terlenakan dan lupa menghabiskan kopi saya.

Dari kejadian-kejadian yang mencatut nama baik minuman favorit saya itu, saya mulai membuat list hal-hal yang tak patut saya lakukan saat minum kopi.

Pertama, jangan dibiasakan minum kopi di kedai kopi franchise milik asing. Konon katanya, jaringan-jaringan teroris sedang gencar-gencarnya melakukan serangan di sentra-sentra bisnis Amerika dan bolo-bolo-nya. Bisa jadi warung franchise yang sering saya pakai untuk nongkrong atau sekedar cari wi-fi gratis seperti Seven-Eleven dan MCD menjadi target selanjutnya (ini hanya bagian dari paranoid saya).

Kedua, hindari warung atau angkringan-angkringan pinggir jalan tanpa pembatas. Sekiranya, kalau ada mobil atau motor yang menabrak tidak langsung menabrak warung atau angkringan tersebut. Ngopi di pinggir jalan ditemani semilir angin jalanan dan bintang-bintang malam memang menjadi  sebuah kenikmatan tersendiri saat ngopi. Tapi usul saya, ingat pesan saya yang kedua ini.!

Ketiga, mintalah kepada pramusaji untuk mengaduk dan mencicipi kopi yang disuguhkan. Mencicipi saja atau mengaduk saja tidak direkomendasikan. Harus kedua-duanya. Nah, jika tidak terjadi apa-apa dengan si pramusaji berarti kopi itu aman untuk diminum. Jika si pramusaji kejang-kejang dan mulutnya berbusa, berarti setidaknya nasib anda tidak apes seperti tragedi “Kopi Vietnam”.

Lebay mungkin iya. Tapi para pecinta kopi seperti saya menjadi paranoid minum kopi karena polisi terlalu lama menjalankan lakon beburu penabur Sianida. Berita-berita di TV yang sering muncul tak pernah memberikan kepastian. Penonton seperti kita hanya bisa berspekulasi dan menebak-nebak siapa pelakunya.

Minum kopi yang selayaknya membebaskan pikiran kita, memberikan ketenangan jiwa bagi peminumnya sekarang menjadi pemantik khayalan bodoh menjenuhkan. Takut yang ini, takut yang itu, takut keracunan, takut teroris. Seakan-akan kopi sekarang itu minuman yang membuat takut.

Ibarat serial thriller, hal yang menakutkan itu tak akan selesai jika tak segera disudahi. Artinya, penyelesaian kasus “Kopi Vietnam” akan menjadi obat paranoid bagi para pecinta kopi. Jika hal itu diselesaikan secepatnya.

Selama ini, saya melihat berita kopi masih cukup komersil untuk terus diberitakan. Walaupun beritanya masih menunjukkan ketidakpastian. Tapi penasaran para pecinta kopi untuk melihat bagaimana para penegak hukum mengungkap pelaku penabur Sianida sepertinya masih belum menemukan jawaban. Minimbulkan kekecewaan itu pasti, tambah lagi menimbulkan ketakutan dan ketidaknyamanan minum kopi.

Sekali lagi, segera ungkap kasus kopi ini. Kesuksesan penegak hukum Indonesia sedang diuji kredibilitasnya. Masyarakat berceloteh sentil sana sentil sini bukan berarti tidak percaya dengan penegak hukum. Justru hal itu merupakan nilai kongkrit dukungan atas kepercayaan yang begitu besar kepada para penegak hukum. Namun kekecewaan akan tumbuh jika masyarakat menunggu terlalu lama.

Para pecinta kopi seperti kita akan resah. Karena kenikmatan minum kopi kita menjadi terganggu. Tidak bebas lagi, tidak nyaman lagi dan tidak nikmat lagi.

Terlalu lelah menunggu, akhirnya saya menulis catatan ini. Saya lebih resah lagi saat saya terlalu asik menulis tiba-tiba kopi saya sudah dipenuhi semut-semut kecil banyak sekali. Akhirnya saya tak bisa menghabiskan kopi saya lagi.

Ditulis saat menunggu sebuah kepastian yang pernah pasti. Sebuah keresahan dari seorang pecinta kopi.

Ciputat, 30 Januari 2016.