Tanpa didasari survey atau penelitian pasti, saya meyakini bahwa kopi serta bentuk derivasinya termasuk kata yang sering diucapkan oleh manusia Indonesia. Indonesia bukan satu-satunya negara penghasil kopi di dunia.

Tapi dari film-film yang saya tonton, khususnya film-film Hollywood dan Bollywood, pribumisasi kopi yang saya rasakan di Indonesia tidak saya temukan di dua belahan dunia tersebut. Tidak kita temukan misalnya: setelah adegan tembak-menembak atau merencanakan sebuah perampokan, orang Amerika sana berucap kepada kawannya, “ngopi dulu yok!” Tidak ada.

Terlepas dari itu semua, budaya kopi di Indonesia lebih dekat dengan budaya kopi yang ada di Prancis. Kita tahu beberapa filosof dan konsep-konsep rumit khas postrukturalisme lahir dari warung kopi. Jean Paul Sartre dan Simone de Behavior adalah dua filosof di antara sekian banyak manusia yang sadar betapa warung kopi sebenarnya memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupan di luarnya.

Apakah ini kebetulan? Mungkin saja. Atau tidak sama sekali! Nanti akan saya perlihatkan bahwa, dari tradisi kopinya, Indonesia sebenarnya merupakan bangsa yang paling potensial untuk menumbuhkan budaya kritis dan toleran di dunia.

Kopi atau ngopi tidak selalu berkonotasi pada makna “kita harus minum kopi”. Adakalanya ajakan ngopi berarti ngobrol, nimbrung, bincang-bincang kecil dan segudang bahasan mulai dari soal perempuan hingga gerakan-gerakan level nasional. Tidak masalah apakah kita lalu minum kopi atau susu, atau bahkan tidak minum apa-apa. Intinya berkumpul, menguntai tawa dan canda bersama kerabat atau sahabat lama.

Warung kopi dengan demikian merupakan subkultur di mana manusia-manusia Indonesia menemukan kehidupan lainnya. Kehidupan yang menawarkan senja, semilir angin dan ketenangan di tengah kesibukan dunia dan kepenatan kerja.

Tak pelak banyak orang yang merasa menemukan inspirasi dan gagasan ketika ia duduk di warung kopi. Dan kini entah mengapa sebagian orang memilih menggunakan warung kopi sebagai kantor tempat di mana ia menyelesaikan segala macam urusannya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih mikro, kopi memiliki makna yang lebih masif dan kultural. Ia tidak lagi berwujud minuman, ia adalah kata kerja di mana manusia hidup di dalamnya. Kopi hampir selalu ada di setiap petak kehidupan manusia.

Tawar menawar tembakau, menggadai sawah, perbincangan seputar harga cabe yang fluktuatif, strategi-strategi memusnahkan hama padi dan lain sebagainya selesai dalam tiap tegukan kopi yang masih panas. Ini faktanya.

Kopi lalu menjadi semacam pintu waktu yang menghubungkan berbagai dimensi kehidupan sehingga manusia ketika ngopi lupa akan berbagai macam perbedaan. Ia melampaui makna perbedaan ras dan suku, perbedaan agama, perbedaan pangkat serta kedudukan.

Ia bahkan menjadi ruang di mana manusia saling melengkapi tanpa mempedulikan perbedaan tersebut. Entah mengapa, ketika dekat dengan kopi, manusia begitu lunak seperti air, begitu sejuk seperti angin. Keragaman kita sebagai bangsa Nusantara melebur layaknya serbuk kopi.

Karena itu saya berani mengatakan bahwa tradisi di Indonesia hampir mirip dengan tradisi di Prancis dalam hal kopi. Begitu juga konsekuensi-konsekuensi logisnya sebagaimana yang sedikit telah saya urai. Hanya saja, ketika di Prancis kopi sudah mampu menghasilkan satu peradaban filsafat yang bahkan kini menjadi poros perhatian dunia, Indonesia masih setia dengan bentuknya yang puritan.

Ada satu mungkin yang bisa kita anggap sebagai pencapaian budaya kopi di Indonesia; pergerakan politik. Bung Karno kita kenal merupakan pemuda yang sempat ngekos di rumah Hos Cokroaminoto. Dari ruang-ruang sempit dan dentingan cangkir kopi, jiwa revolusioner dalam diri Bung Karno bangkit dan membentuk arah hidupnya. Beberapa gerakan mahasiswa pun rata-rata atau hampir semua lahir dari secangkir kopi.

Sebatas itukah? Sementara iya. Namun potensi dan ruang musyawarah serta keterbukaan yang disediakan oleh kopi sudah saatnya ditilik lebih tajam. Karena mengakui atau tidak, peradaban kita lahir dari sana.

Sudah saatnya tema-tema pluralisme dan toleransi keagamaan masuk menjadi sentra perbincangan di warung-warung kopi. Setidaknya, berilah kesempatan bagi tema tersebut untuk berbicara tentang dirinya sendiri, bukan menjadi objek ataupun subjek yang berbicara.

Mungkin bagi pembaca tulisan ini terkesan apologis. Namun, ide salah seorang santri Pare penjaga kantor PBNU mengajak Clifford Geertz untuk berbincang seputar ke-NU-an menjadi inspirasi tersendiri bagi saya pribadi.

Berkat kopi sang santri mengungkapkan secara lugas pertanyaan Geertz tentang penyematan Bung Karno sebagai waliyyu-l-amri ad-daruri bi-s-syaukah. Dan saat itu pula, karena kopi, Geertz mulai meramal kecacatan dan keruntuhan “trikotomi”nya.

Saya juga berani meramal bahwa budaya kopi di Indonesia menjadi modal utama bagi tumbuhnya tradisi kritis dan sikap toleransi. Tadi sudah saya perlihatkan bagaimana kopi melebur segenap wujud perbedaan. Ini masalah psikologi sosial.

Bawaan-bawaan kesadaran tentang “keajaiban” warung dan kopi tentu tidak hadir begitu saja. Ia sengaja dibentuk tanpa persetujuan oleh masyarakat lalu diwariskan kepada generasi setelahnya.

Gus Mus dalam cerpennya “Gus Ja’far” menggambarkan secara sophistik arti sebuah warung kopi dalam lintasan dimenasi seorang manusia. Kiai Tawakkal, begitu personifikasi yang dibuat Gus Mus, adalah gambaran bagaimana seorang, minimal secara emosi-spitirual, mampu terbang jauh ke luar dirinya dan hidup di sebuah dunia yang bahkan dianggap salah oleh orang kebanyakan.

Kelemahan kita sebagai bangsa adalah cenderung enggan mencicipi dunia orang lain atau sekedar mampir dalam dimensi kehidupan yang benar-benar berbeda dengan yang kita diami sekarang. Ini, menurut saya, adalah kelemahan terbesar pola toleransi di Indonesia.

Akibatnya, manusia mudah menyalahkan dan memandang remeh kepada manusia lainnya, tanpa terlebih dahulu tahu tujuan serta alasan kehidupan seseorang yang dia pandang.

Kakek saya pernah menasehati “jangan terlalu menghakimi ibadah [agama atau keyakinan] seseorang!” Saya mulai memahami kalimat ini ketika sudah paham maksud dan arti sebiji kopi. Imbasnya saya kemudian mengubah definisi kritis yang saya pegang selama ini sebagai penghakiman atas bentuk peresapan. Yang pertama berdasarkan kapasitas kita sebagai pembaca, yang kedua tanpa kapasitas siapa-siapa.

Dunia tentu terlalu luas untuk manusia jelajahi, baik secara fisikal apalagi non-fisikal. Untuk itu manusia diberi akal oleh Tuhan untuk menafsirkan dunia, minimal bagi dirinya sendiri. Tiap orang tentu memiliki tafsir berbeda. Kopi bagi saya merupakan penghantar kita memahami bahwa ada dunia lain di luar diri kita. Lebih jauh lagi, membuka diri kita untuk menerima bentuk-bentuk dunia lain tersebut sekaligus merasakannya.

Tulisan ini bukanlah syarah dari Irsyadul Ikhwan-nya Syeikh Ihsan Jampes atau tulisan-tulisan sarat ilmiah. Tulisan ini saya peruntukkan bagi saya pribadi dan bagi siapapun yang masih merasa benar dan mudah menyalahkan.