Wiraswasta
2 tahun lalu · 240 view · 3 menit baca · Gaya Hidup images_5_4.jpg
Sumber: google.com

Kopi Pantura Lamongan

Menghirup secangkir kopi serupa menghirup kehidupan itu sendiri. Pahit dan manisnya tak terelakkan. Tapi Begitulah, kesejatian kehidupan adalah tentang keanekaragaman rasa dan perubahan-perubahan yang mesti selalu disyukuri.

Siapa yang tidak tahu kopi? Bisa dipastikan setiap orang tidak hanya mengenalnya, bahkan mungkin sudah mencicipinya dan sebagian malah mungkin menjadi salah satu dari penggemar minuman berwarna hitam ini.

Konon, kopi pertama kali ditemukan di daerah dataran tinggi di jazirah Arab. Dan, bangsa yang mendiami gurun itulah yang mula-mula meminumnya sebagai minuman penghangat tubuh di malam hari saat rehat sejenak dalam perjalanan dagang yang jauh dan melelahkan.

Sebelum mendunia seperti saat ini, si biji hitam ini, di abad pertengahan, oleh kalangan gereja sempat dicap sebagai biji iblis dan tidak banyak orang yang berani meminumnya. Namun kini, tidak sedikit pengusaha yang sukses membangun kerajaan bisnis mereka dengan mengandalkan daya pikat dan cita rasa si hitam ini.

Di kalangan masyarakat perkotaan, seiring dengan tumbuh dan menjamurnya kedai-kedai kopi yang cozy dengan sentuhan seni di sana-sini, juga makin beragam cita rasa dan cara pengolahan yang unik, menghirup secangkir kopi, rupanya, tidak sekadar sebagai penuntasan kerinduan rasa tapi menjelma sebagai lifestyle, gaya hidup.

Tentunya, urusan menikmati cita rasa si hitam ini tidak hanya monopoli masyarakat urban, tapi bahkan masyarakat yang hidup jauh dari perkotaan pun tak kalah agresif dalam menandaskan kehausan mereka pada cita rasa yang ditawarkan si hitam ini.

"Aku tunggu di kedai seperti biasanya. Kita ngopi rame-rame!" begitulah pesan via WA yang saya terima.

Dan benar saja, ketika selepas pukul 10 pagi saya ke kedai itu. Suasana sudah sangat ramai. Kawan-kawan sudah menunggu di sana. Beberapa orang bahkan tak kebagian kursi. Tapi mereka rela duduk berhimpitan di atas dipan bambu.

Kedai yang disesaki orang itu, tentu saja, jauh dari kesan mewah. Hanya kedai biasa yang sederhana. Tapi ngopi di sini bukan soal tempat. Tapi soal cita rasa kopi itu sendiri. Dan tentu saja obrolan hangat tentang apa saja di antara orang-orang dari beragam usia.

Di sepanjang pantai utara Lamongan, yang membentang sekitar 30-an kilometer dari Weru di sebelah timur dan Sedayu Lawas di sebelah barat, terdapat puluhan lebih kedai kopi. Saling berdempetan lagi. Dan, bisa dipastikan pemilik kedai-kedai itu meracik kopinya sendiri. Mereka menghindari menghidangkan kopi sachet. Karena tak akan laku.

Mereka menyebut kopi hasil racikan sendiri itu sebagai 'kopi asli'. Meskipun kopi sachet, tentu saja, juga kopi beneran. Masa, kopi palsu? Hehe! Ya, tapi begitulah mereka menyebut kopi olahan mereka sendiri itu.

Soal cita rasa? Jangan ditanya. Hmm...maknyus! mantap! Begitu mungkin komentar Pak Bondan, tokoh kuliner itu andai mencicipinya.

Kopi-kopi yang sudah diracik itu dihidangkan secara hitam pekat. Kental. Dalam cangkir-cangkir keramik kecil dengan gagang yang sengaja dipreteli. Entahlah mengapa begitu? Tapi itulah ciri khasnya.

Di kedai-kedai ini, jangan pernah berharap menemukan orang minum kopi dalam gelas besar karena akan dinilai sebagai hal yang ganjil.

"Hei, riko iku lho, Cak, ngombe kopi opo ngombe banyu?" ledek Cak Golden saat Ronggo, seorang kawan, yang pesan kopi dalam gelas besar. Sudah gelas besar encer pula kopinya.

Kopi di sini digiling secara berulang. Nah, ketika si pemesan kopi telah menandaskan hasratnya. Ampas kopi yang pekat dan lembut di cangkir itu bahkan bisa dipakai untuk membatik batang rokok. Dan sebagian besar penikmat kopi itu melakukannya.

Kenikmatan yang ditawarkan dalam secangkir kopi pekat di kedai-kedai di sepanjang pantai utara Lamongan ini cuma ditebus dengan empat lembar uang seribuan. Cukup murah, bukan?

Sepanjang hari, kedai-kedai tak pernah sepi. Sudah lazim bahwa orang-orang di sini dalam sehari bisa tiga atau empat kali bolak-balik ke kedai kopi. Untuk apa? Ya, untuk ngopi tentu saja. Mereka bisa menghabiskan tiga hingga enam cangkir kopi pekat sehari.

Pagi ngopi. Siang ngopi. Sore ngopi. Malam ngopi. Mau tidur ngopi. Mungkin saja, dalam tidur mereka juga ngopi. Ya, siapa tahu? Hehe.

Tapi begitulah, minum kopi atau menghirup kopi bagi orang-orang di sepanjang pesisir utara Lamongan bukan lagi soal lifestyle tapi bahkan telah menjadi way of life. Menjadi denyut kehidupan yang mengisi hari-hari mereka. Yang membuat hidup mereka menjadi lebih hidup.

Diiringi secangkir kopi mereka membicarakan apa saja. Mengenang peristiwa kehidupan yang menyenangkan dan melupakan kisah-kisah kehidupan yang menyedihkan.

Dari rasa kopi yang pahit dan manis mereka belajar bahwa begitulah kehidupan itu adanya. Kadang senang dan kadang sedih. Kadang untung dan kadang rugi. Hidup yang terus berjalan harus selalu disyukuri. Dirayakan meski hanya dengan secangkir kopi.

"Oh, ya, Cak, segera diminum kopinya," ingat Cak Golden. "Nanti keburu dingin. Tak enak!"

"Siap," jawabku. "Yuk, mari bersulang!"