Kopi dan Tegukan Filosofi

Jean Jacques, seorang pemikir aufklarung pernah mengatakan, “saat kematian telah mengakhiri hidupnya, maka hal yang paling dirindukan dari kehidupan adalah secangkir kopi yang digenggam tangannya”. Maksud kerinduan Pria kelahiran Jenewa ini apabila dimaknai lebih jauh, maka tentu bukan hanya pada secangkir kopi. Tetapi lebih kepada  "cum anexix", segala sesuatu yang termasuk di dalamnya, yaitu tiap momen dan derap dialektik yang dipantik oleh coffee.

Qahwa atau “kopi” bermetamorfosis dengan pelabagi filosofi. Sebagai tanaman, ia membuat hutan menjadi ranum. Kendati sebagai minuman, ia menuntun kita pada perbincangan, kerinduan, dan kebenaran pada setiap “cicip” atau tegukan. Sederhanya, waktu membuat segala menjadi cepat dan berlalu, namun kopi membuat kita kembali dan menunggu. 

Kerinduan akan setiap tegukan kopi tentu juga pada kemampuan minuman tersebut menjaring kita untuk bercengkrama, bahkan pada zaman Kerajaan Utsmani, kopi dijadikan sebagai suguhan minuman tatkala berbicara perihal iman. Abd-al-Kadir pernah memberikan pujian terhadap kopi dalam puisinya, “... ini adalah minuman sahabat tuhan; dalam memberikan kesehatan, kepada mereka dalam perjalananan mencari kebijaksanaan..”

Demikian dalam konteks perjuangan, kafe-kafe di Paris sangat berperan penting dalam melindungi kaum revolusioner yang merencanakan penyerebuan Bastille.  

Tidak hanya sebagai titik tameng perlindungan, kafe juga adalah sebuah “koma”, tempat pengisrahatan para penulis merayakan kelahiran. Buku-buku para penulis besar seperti Jean Paul Sartre, dan Simon de Beauvoir, juga lahir pada pelataran kedai kopi kota Paris (Rotondi: 2020). 


Kafe dan kopi bukan sekedar tempat tongkrongan atau minuman, namun dalam dimensi filosofi-nya dimaknai sebagai kehidupan, keyakinan, dan sebuah titik balik peradaban. Simon & Susie Thornhill, membangung sebuah kafe di London tahun 1954 hanya dengan tujuan dan maksud untuk menulis puisi serta memutar lagu folk dan bluse. Dari sini dapat dilihat betapa kopi sebagai bijian telah menjadi sebuah style, yang tumbuh dengan keyakinan sederhana yang ketat dan sangat prinsipil.

Pemikiran yang mengamini kopi sebagai tegukan filosofi dimanfestasi lebih lanjut oleh komunitas "Café-philo" Marc Sautet, disana mereka membahas tentang kebenaran, seks, kematian hingga mitos Sinterklas (Wikipedia.org : Café phlisophique)Nilai-nilai yang dipegang teguh oleh komunitas Café-philo yaitu kebebasan berekspresi tanpa memandang latar belakang akademisi. Artinya, kafe dan kopi adalah sejoli yang dimaksudkan untuk merangsang setiap orang  (parleurs de la taverne) menuju cinta dan kebijaksanaan

Kopi dalam Cengkaraman Sejarah

Dalam perjalan sejarah, sejak dulu kopi adalah suatu komoditas terbaik yang diperdagangkan di dunia.  Selain memiliki nilai ekonomis, kopi juga memiliki nilai alegoris, yaitu dijadikan sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih. Walikota Amestardam  pernah meberikan tanaman kopi muda kepada Raja Louis XIV sebagai bentuk penghormatan. Dan kita sering menjumpai beberapa orang yang menyampaikan rasa terima kasih dengan cara mengajak minum kopi “ngopi”, di zaman dulu disebut sebagai “cup van java” (secangkir jawa). 

Thomas Jeffersen bahkan mengatakan, “Kopi adalah minuman favorit bangsa beradab”, sementara Napoleon Bonaparte menyebut sebagai,“minuman intelektual”. Bahkan selama abad pencerahan, Voltaire, Rousseau, dan Isaac Newton mereka semua dapat ditemukan berbicara perihal filosofi sambil minum kopi (Rotondi: 2020).

Namun dibalik minuman suguhan barista yang terdapat manis ini (kopi), ada sisi orisinalitas lain yang dilupakan. Kopi atau “sihitam jelaga”, (istilah yang di pakai Sir George Sandys)  sesungguhnya adalah minuman pahit dan pekat yang lahir dari perdebatan, tudingan dan penghakiman. 

National Coffe Assocation of U.S.A dalam “The History of Coffe” menyatakan, pada tahun 1600 sekelompok pemuka gereja mendatangi Paus Clement VII untuk meminta memfatwa haram kopi, mereka menyebut kopi sebagai “bitter invention of Satan”. Bahkan menurut Civitello, di tahun 1679, dokter-dokter dari Prancis membuat diagnosis buruk tentang kopi hanya karena orang tak lagi menyukai untuk mengkonsumsi wine, hal ini karena baru kali pertama orang Eropa menemukan alasan untuk tidak menjadikan alkohol sebagai minuman untuk berkumpul (Civitello: 2011). 

Terlepas dari perdebatan medis di Prancis saat itu, Lorenzo dalam situs Coffe Confidential menyatakan, Voltaire seorang sastrawan berkebangsaan Prancis dilaporkan mengkonsumsi kopi 50-72 (lama puluh sampai tujuah puluh dua) cangkir per hari dan masih hidup sampai usia lanjut 83 (delapan puluh tiga) tahun― dalam obsesinya mengkonsumsi kopi, Voltaire berkata: “saya pikir  itu pasti, karena saya telah meminumnya (kopi) selama delapan puluh lima tahun dan saya belum mati”.

Sehingga demikian dapat disimpulkan bahwa, dalam lensa sosial kopi dipotret sebagi suatu minuman yang menciptakan diskurusus, cerita, dan gelak tawa. Sementara pada dimensi filosofisnya kopi adalah prosa yang melukis tentang segala― kendati ketika kopi menemukan dimensi historinya, ia adalah  “a vulnere” — sebuah luka.