Pada mulanya kami di Kopkun Institute, Lembaga sosial ekonomi dan koperasi, menganggap rendahnya kinerja koperasi karena dikelola secara sambilan, atau samben. Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) misalnya, profesi utama pengrusnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Koperasi Karyawan (Kopkar) juga begitu, pengurusnya adalah karyawan.

Namun setelah berinteraksi dengan aktivis Credit Union (CU), rasanya kami perlu merevisi ulang hipotesa itu. Karena ternyata pengurus CU juga samben, profesi utama mereka sama seperti pengurus KPRI dan Kopkar. Tapi kenapa CU secara umum lebih maju, baik secara bisnis maupun pemberdayaan?

Sebelumnya, Credit Union secara aliran beda dengan koperasi di Indonesia pada umumnya. CU juga tidak menginduk pada Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) karena mereka punya induk sendiri, namanya Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Asal mula CU dari gerakan Raiffeisyen di Jerman, sementara asal mula koperasinya Dekopin (sebut saja begitu) saya tidak tahu persis. Mungkin dari kayangan.

Kembali lagi ke topik. Salah satu faktor penyebab kenapa CU lebih berkembang dari koperasinya Dekopin adalah soal spiritualitas. CU sebagai gerakan punya spiritual yang mapan dan khas,  baik secara kelembagaan maupun secara personal. Sementara Koperasi Dekopin, spiritualnya masih perlu melakukan pencarian.

Memahami yang spiritual

Di masyarakat, spiritual dianggap sama dengan agama, sehingga bagus agamanya baik pula kualitas spiritualnya. Dan, spiritual hanya bisa dimiliki orang religius, yang sekuler dan abangan tidak mungkin punya. Ini cara berpikir yang keliru, karena antara spiritual dan agama adalah dua hal yang berbeda.

Spiritual lekat kaitannya dengan upaya pencarian akan kesadaran diri, tentang asal, nasib dan  tujuan hidup. Sifatnya amat subjektif, sehingga kualitas spritual antara individu yang satu dengan yang lain berbeda. Tergantung seberapa jauh ia mampu menghayati kehidupannya. Dengan kata lain, spiritual hadir untuk memberi jawaban, siapa dan apa seseorang itu.

Sementara agama sistem tata nilai tertentu yang menjadi jalan manusia kembali pada Tuhan. Agama berisi komunitas, kode etik tertentu, ritus ibadah serta kesaksian iman. Mereka yang tekun dan taat menjalankan tata nilai agamanya, disebut religius. Dengan kata lain, agama hadir untuk memberi jawaban tentang apa yang dikerjakan untuk manusia.  

Sekalipun berbeda, orang bisa menempuh jalan agama untuk mencapai level spiritual tertentu. Bahkan, bagi mereka puncak agama adalah spiritualitas, bukan ritus ibadah. Tapi tidak sedikit pula orang beragama hanya selesai pada ritus saja. Shalat jalan, maksiat jalan. Ke gereja rajin, tapi penindasan dibiarkan. Jadi, agama bisa menjadi sumber spirit dan juga ritus ibadah belaka. Tergantung penganutnya.

Di dunia ini banyak gerakan didasari oleh spirit agama, salah satunya adalah Credit Union. Raiffeisen, seorang walikota muda di Jerman, pada abad ke 19, mengimplan spirit agama katolik  sebagai ruh gerakan simpan pinjam yang dia gagas. Dia menanamkan etika katolik seperti semangat melayani dan menolong sesama pada anggotanya. Dan, Spirit keagaman itu dilestarikan dan direpdouksi hingga kini oleh gerakan CU modern.

Sekitar tahun 1970-an, Pastor Albrecht Karim membawa gerakan ini ke Indonesia melalui Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), sekarang Konferensi Waligereja Indoenesia (KWI). CU kemudian berkembang pesat, terutama di basis katolik seperti di Kalimantan Barat. Sekalipun membawa spirit katolik, CU tetap bisa berkembang dibanyak tempat. Meskipun sesekali berbenturan dengan spirit lokal.   

Sementara koperasinya Dekopin tidak punya sejarah serupa CU, yang punya spirit yang khas sekaligus menubuh (embodied) dalam lembaganya. Sehingga gerakan berjalan tanpa spirit, sehingga tidak ada gregetnya. Bahkan, oleh kebanyakan pengurusnya , koperasi  hanya dipahami sebagi entitas bisnis dengan model kepemilikan kolektif.

Karena tidak punya spirit yang mapan, maka koperasi bisa diisi oleh spirit apa saja. Termasuk spirit kapitalisme. Oke, tentu ini keliru tapi faktanya banyak yang seperti itu. Ada koperasi tumbuh secara besar secara bisnis, aset mencapai trilyunan, tapi anggotanya melarat. Ibarat sinentron, koperasi semacam itu adalah koperasi ganteng-ganteng serigala. Tampilan koperasinya ganteng, karena gedung dan asetnya megah, tapi itu hasil dari memangsa anggota dan sesama manusia di sekitarnya.

Mencari Spirit

Sebagai bangsa yang religius, dan masih mengakui sila pertama Pancasila, rasanya tidak elok mencari spiritualitas tanpa melalui jalan agama. Oh ya, agama disini bukan sebatas agama resmi yang diakui negara. Kamu yang nyembah pohon atau batu kali juga bisa, karena itu juga agama. Setidaknya menurut keyakinanmu.

Membawa spirit agama dalam koperasi itu sah-sah saja, apalagi jumlah  anggota koperasi saat ini mencapi 37 juta orang lebih. Tapi pertanyaannya, agama yang seperti apa?

Konsep agama yang coco, menurut saya, adalah  agama yang imanen, bukan yang transenden. Tuhan dalam konsep imanen, imanere, adalah Tuhan yang terlibat dalam setiap dialektika alam semesta. Tuhan itu disini, dekat sekali. Sehingga setiap kebaikan, setiap aktivitas manusia adalah ekspresi  spiritual dan bagian dari ibabah untuk kembali kepada-Nya.

Berbeda dengan konsep agama transenden, Tuhan itu jauh disana. Untuk menghadap Tuhan harus dengan ritus-ritus ibadah khusus. Bahkan saking jauhnya, harus dipanggil pakai speaker. Karena Tuhan jauh, alhasil kebaikan kepada sesama bukan bukan bagian dari ekspresi spiritual dan jalan kembali kepada-Nya. Karena bagi mereka, ritus adalah jalan satu-satunya untuk menggapai surga.

Saya tidak sedang menulis yang transenden itu tidak penting. Tapi dalam tradisi transenden, agama tidak bisa hadir dalam masalah di masyarakat, termasuk di koperasi. Meksipun pengurus koperasi sudah lima kali naik haji, misalnya, koperasinya koperasinya belum tentu langsung bagus. Bahkan bisa jadi dia makin berjarak dengan masalah yang dihadapi anggotanya karena makin hari makin sibuk dzikir dan persiapan naik haji lagi.   

Karenanya kita butuh agama yang imanen, dimana penganutnya hadir dan terlibat menyelesaikan problem di masyarakat. Pengurus koperasi misalnya, merasa berkoperasi adalah bagian dari panggilan iman. Selain melakukan ibadah kanonik, membangun koperasi yang bagus adalah jalan menuju Tuhan. Hasilnya energi tidak terbatas, dampaknya koperasi jadi bagus anggotanya sejahtera.

Tapi, kapan pengurus  koperasi punya spirit semacam ini?