Musim konvensi di Amerika Serikat baru saja usai. Hah, musim konvensi?

Musim konvensi adalah waktu di mana kedua partai utama di Amerika Serikat melaksanakan konferensi partai mereka. Musim ini hanya terjadi empat tahun sekali. Artinya, konvensi ini hanya diadakan ketika pemilu Presiden dilaksanakan.

Acara ini sendiri memiliki dua tujuan. Pertama, memilih calon presiden dan wakil presiden yang diusung. Kedua, memperdebatkan berbagai isu untuk membentuk pendirian partai (plank) terhadap masalah-masalah terkini. Melalui dua tujuan ini, masing-masing partai dapat menyajikan sebuah pilihan politik bagi rakyat.

Sejak 1856, partai Demokrat dan Republik sudah mendominasi sistem dwipartai di Amerika Serikat. Kedua partai berusaha untuk menangkap realita yang dihadapi rakyat Amerika sebagai konstituen mereka. Lantas, mereka sebagai gerakan politik akan mengajukan berbagai solusi untuk memperbaiki realita tersebut.

Sebelum 1964, partai Demokrat dan Republik adalah big tent yang menampung banyak faksi ideologi. Sama seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) era Orde Lama atau PDIP sekarang. Sehingga, pendirian yang muncul dari setiap konvensi bergantung kepada konsensus dan negasi antar faksi. Faksi mana saja yang terlibat?

Secara umum, ada dua sayap yang eksis di kedua partai; liberal dan konservatif. Pemisahan sayap ini tidak hanya bercerita soal politik. Dia juga mengisahkan sebuah pembagian geografis dan status sosial. Sayap liberal pada kedua partai sama-sama datang dari wilayah Timur Laut seperti New York, Maine, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga elite politik-ekonomi seperti Kennedy, Bush, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, perbedaan muncul dari sayap konservatif. Mayoritas conservative Democrats adalah orang-orang dari wilayah Selatan (The South) yang menonjol pada isu sosial dan segregasi rasial. Berbeda dengan conservative Republicans. Mereka berasal dari wilayah Tengah-Barat (The Midwest) yang menekankan isu kebebasan ekonomi dan individualisme. Meski demikian, mereka sama-sama datang dari akar rumput, alias kelas menengah dan bawah.

Setelah 1964, terjadi divergensi di antara kedua partai. Liberal Republicans dan conservative Democrats mulai bertukar partai karena Southern Strategy. Sehingga, Partai Demokrat menjadi panggung bagi liberalisme modern. Partai Republik lantas menjadi corong ideologi konservatisme. Singkat cerita, proses transfer pemain ini berakhir pada tahun 1980.

Mulai saat itu, ideologi sebagai soko guru pendirian partai menguat. Jika partai adalah kuda, maka kacamata adalah alat yang mengarahkan jalannya. Perbedaan kacamata ini membuat perspektif Demokrat dan Republik tidak sama. Namun, perbedaan tersebut tidak pernah sedalam dan separah tahun ini.

Melihat kedua konvensi di tahun 2020 seperti melihat dua dunia yang berbeda. Konvensi Partai Demokrat (DNC) adalah refleksi dari urban America. Sebuah dunia yang lebih modern, kompleks, dan elitis. Sementara konvensi Partai Republik (RNC) menjadi gambaran rural America. Dunianya lebih sederhana, simplistik, dan merakyat.

Padahal, realita yang mereka lihat sama. Sama-sama menonjol dan merisak. COVID-19 sudah menelan hampir 200 ribu jiwa. Protes untuk keadilan rasial sudah berjalan berbulan-bulan. Penjarahan dan penembakan sudah terjadi di berbagai kota. Setelah 1968, 2020 menjadi tahun paling bergejolak sepanjang sejarah Amerika pasca Perang Dunia 2.

Dari sisi DNC, mereka mengeksploitasi krisis multidimensional ini. They point into healthcare and racial grievances. Sehingga, 70% dari konvensi mereka diisi dengan apa yang mereka anggap sebagai ketidakmampuan pemerintahan Trump dalam menangani krisis. Trump juga terus diserang pada konvensi ini. Bahkan sampai serangan personal pun ada.

Dalam serangan ini, penulis melihat banyak elit yang muncul. Elit politik tentu saja mendominasi. Tetapi, ada banyak pula elit yang muncul dari industri hiburan. Maklum saja, mayoritas besar dari artis-artis Hollywood memang orang-orang liberal yang mendukung penuh partai Demokrat yang progresif.

Lantas, 30% sisanya digunakan untuk membahas pendirian partai untuk empat tahun ke depan. Dari pembahasan ini, terlihat bahwa DNC menganggap masalah terletak pada kesenjangan sistemik (systemic inequality) di Amerika itu sendiri. Dampaknya, mereka menawarkan kebijakan-kebijakan progresif untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Melihat kecenderungan ini, RNC langsung memanfaatkannya sebagai serangan balik. Mereka menganggap bahwa pendirian Partai Demokrat berlandaskan pada Blame America First. Slogan yang disuarakan oleh Jeane Kirkpatrick pada RNC 1984 ini kembali digaungkan sebagai poin serangan. Bagi RNC, America First adalah landasan yang seharusnya diambil.

Dari landasan ini, muncul sebuah worldview yang lebih optimis dan sederhana. Bagi mereka, Amerika masih menjadi shining city on a hill yang bisa kembali pulih seperti sediakala. Menghadapi kenyataan rioting, RNC merespon dengan penguatan penegakkkan hukum. Law, order, and stability menjadi tema utama yang ditekankan pada RNC kali ini.

Terlebih lagi, penulis melihat penekanan battle of ideas and culture yang lebih kuat di RNC. Penekanan tersebut membuat RNC terkesan lebih kombatif. The Democrats digambarkan sebagai partai yang sudah dibajak oleh progresif kiri. Para pembajak ini dianggap membawa nilai-nilai yang anti Amerika. Lantas, mereka memposisikan diri sebagai bastion.

Melindungi aparat penegak hukum dari #DefundThePolice. Mengayomi mayoritas bisu yang muak dengan militansi #BlackLivesMatter. Mempertahankan ekonomi Amerika agar tidak disalip oleh Tiongkok. Bahkan monumen pun juga ikut dipayungi secara politik dari #cancelculture.

Jadi, konvensi kedua partai adalah kepingan refleksi berbeda dari realita yang sama. Akan tetapi, dia belum pernah terpisah sejauh ini. Realita persis, namun pesan yang dibawa beda habis. Terlebih lagi, hampir tak ada jembatan yang bisa menyebrangi perbedaan ini. Kecuali satu; rasa kemanusiaan yang melintasi perbedaan politik.

America, you’re better than this. Mari kembalikan diskursus politik seperti sediakala. Kembalilah menjadi sebuah medan peperangan ide yang beradab. Bukan medan ekspresi kebencian yang dipenuhi dengan racun cancel culture.