Lorong Pasar

Jalan kosong lebam-lebam
Bekas karpet-karpet harapan hidup
Satu...Dua...Tiga lampu jalan
Sisanya gelap penuh misteri
Dialog hewan kecil merayakan malam
Hembusan nafas samar-samar
Satu...Dua...Tiga manusia terlelap
Di atas gerobak kayu
Lembab dipadu aroma amis pasar
Menghiasi ruang-ruang nafas
Gelisa telah abadi
Duka telah dikamuflase menjadi pasrah
Harapan masa lalu hampir usang
Kini... Mereka tengah bermimpi
Hiruk pikuk pasar yang romantis
Esok hari.


Silam 

Hampir tiba waktunya fajar
Bergesernya sebuah gerbang langit
Namun sinar abadi hampir tiada
Diganti oleh sebuah kenangan
Mengutuk langkah yang salah
Meresapi sesak dalam dada
Terjerembap pada sebuah genangan
Merosot jauh kedalam kenangan
Sedikit saja yang tidak adil
Pada waktu-waktu itu
Kau laiknya setangkai melati
Namun egoku mengharap setangkai mawar.


Mega-mega

Pada langit ia mengabdi
Mendedikasikan diri dalam estetika
Melintasi cekungan semesta
Sedang yang lainnya...
Jatuh pada kaki langit barat sana
Membiaskan sinar abadi
pada ekor pelangi ia bertapak
menjadikan semesta terlampau megah
bagai pinggiran surga.


Dedikasi Rasa

Sekali lagi aku katakan...
Mati tak cukup untuk membungkan para penyair
Mati tak menjadi momok menakutkan bagi para penyair
Tapi kekasih...
Kau yang aku khawatirkan
Masa bahagiamu tak dapat ku usahakan lagi
Hanya itu, kekasih...


Potret Sesal

Rebahkan sang raga
Pikiran melanglang buana
Berkecimpung dalam dunia lamun
Begitu tawar suasanaku
Tak kuasa aku kemasi suatu tragedi
Tiba-tiba...
“Hahaha” (suara gaib)
“Siapa itu?”(jawabku dalam hati, namun enggan tuk merasa panik)
“Engkau telah mati dalam hidup” (jawab suara gaib)
Dengan sangat hati-hati aku lirik jam dinding di atas kepalaku, “Benar!,”  jam dinding itu yang menghakimi aku. Ketiga jarum jam itu mengarah, menunjuk aku dengan tegas karena kesalahan kecilku yang lampau.


Hati-hati!

Dimana-mana ada kesenjangan antara kata-kata dan aksi nyata, sudah tidak lagi berimbang. Semesta pun jenuh dengan ragam kata-kata. Ahli retorika mendewa dimana-mana. Tapi mataku hampir tertutup, mencari aksi nyata.


Rindu yang Plintat-plintut

Ia bilang rindu, besok ingin menemuimu
Jarum pendek mengantarnya kesuatu titik
Di situ Ia jatuh hati sama halimun
Lanjut cerita...
Pagi hari telah sampai
Halimun menyisahkan bekas dikaca
Kemudian, terngiang kembali wajahmu
Kembali Ia merindu.


Sajak Pembunuh

Sebab rindu hanyalah sebuah konsekuensi dari pertemuan, tapi itu lebih dari cukup mendikte seseorang untuk membunuh. Bahkan jarak yang tak bersalah ingin di buru kemudian dibunuh, demi rindu yang menggebu-gebu.


Sepotong Perjuangan 

Perjungan belum selesai
senja sudah tiba
Tiada hak untuk menepi
Sebab senja terlalu indah
untukmu para perasa cukup
mari menjadi gemilang
tanpa rasa lelah.


Cinta

Cinta adalah bahasa Sang pemilik semesta. Daratan yang di imbangi dengan lautan, hutan-hutan, savana, dan  gurun pasir yang luas. dirawat oleh panas, dingin, lembab, terang dan gelap. yang bernyawa menjadi penguasa atas dirinya. Yang lucu ketika masih ada yang berani di tata.  Dan yang menggelitik ialah manusia yang pandai menyiarkan kata Cinta dengan segala keterbatasannya. Akhir cerita, para pecundang yang mengamuflase kata-kata cinta  ikut hancur dalam ketidakmampuan.


Kasih Sayang

Hujan, Menyisahkan bau tanah setelah bermain, si surya mengolahnya menjadi kokoh, lagi perkasa. sedang ibu tetap setia merawat mereka sebagai semesta.


Para Pembunuh

Para pembunuh pintar sedang berkeliaran. Mengolok penderitaan yang lainnya dengan senyuman bejat! Pantas saja kita didikte, sebab kita terlalu baik. Mereka berdalih menjadi pahlawan. Tapi sayang, yang dilawan adalah kita.


Merawat Idealisme

Kredo seorang orator bahkan lahir ketika kemelaratan dipersetankan secara indah lewat retorika oleh para penghisap darah. Kita pada dasarnya sama. Hanya saja, ada yang dinafikan, ketika materi, tahta, dan wanita menjadi tuan atas diri kita.


Sajak Bernafas

Banyak di antara teman-teman kita mati sebelum waktunya. Beralih menjadi budak Hierarki yang lahir dari minimnya cinta. Yaa! Minimnya cinta pada diri sendiri. Hidup memang sarat problema. Percaya atau tidak, Tak jarang diantara kita yang terkecoh oleh fenomena dalam waktu. Rupa-rupanya ada yang bertuan atas diri kita. Coba tengok kembali, untuk apa kau terburu-buru. ketika pagi, soreh, atau ketika kau sedang lelah. Padahal senja sedang indah-indahnya. Padahal fajar sedang megah-megahnya dalam hiasan embun. Nikmati itu, mari merdeka... 


Nirwana

Lembutnya angin menerpa wajah pelan-pelan
Langit biruh luas terbentang, awan putih lukisan alam
Liarnya burung menambah pesona alam
Luar biasa titipan tuhan
Anak-anak tertawa riang dibawah pohon damar
Akar pepohonan mengintip diam-diam
Sehelai daun kuning dipersunting angin
Aku terkesimah diam-diam
Aku mau melamun saja lama-lama
Menikmati Hidangan alam
Hijau, kuning, merah, putih, biru,
Hingga semua warna berpadu dalam buana
Sungguh pesonanya tak terbilang
Mampus kau rutinitas hidup
larut menikmati alam nan indah
Waktu dapat kubunuh dengan sempurnah