Rencana pembebasan terpidana terorisme ustaz Abu Bakar Ba'asyir telah menyulut berbagai debat dan kontroversi di dunia maya maupun di kedai-kedai kopi.

Sekarang tampaknya sudah agak lebih jelas. Rencana yang keburu diumumkan oleh penasihat presiden yang baru, Yusril Ihza Mahendra, ternyata baru sekadar rencana yang masih akan dikaji lebih dalam.

Sebelum pernyataan pers Menko Polhukam dan penjelasan langsung presiden bahwa pembebasan itu baru bisa dilaksanakan bila Ba'asyir memenuhi syarat-syarat sesuai aturan hukum yang berlaku, sempat muncul berbagai pertanyaan publik ke permukaan.

Apakah ada unsur pragmatisme politik dalam rangka pilpres agar capres petahana mendapat simpati dari pendukung Ba'asyir? Apakah presiden sudah benar-benar mendalami dasar hukum pembebasan karena yang bersangkutan kabarnya tidak pernah meminta grasi? Benarkah terpidana dalam keadaan sakit gawat sehingga pertimbangan kemanusiaan yang lebih menentukan?

Apakah presiden akan tetap membebaskan terpidana meski dia menolak menandatangani pernyataan setia kepada Pancasila dan NKRI? Atau apakah semua ini sesungguhnya sebuah agenda politik Yusril dalam rangka pemilu legislatif guna mengangkat elektabilitas partai yang dipimpinnya dan presiden dapat dibuatnya yakin bahwa ini adalah agenda nasional yang tepat?

Tulisan ini tidak akan berspekulasi dan mencoba menjawab berbagai pertanyaan di atas. Tulisan berikut hanya akan mengingatkan semua kita bahwa terorisme belum sepenuhnya hilang dari bumi Indonesia dan upaya memberantasnya masih menghadapi jalan berliku. 

Pertanyaan ikutan yang muncul dalam rencana pembebasan Ba'asyir, bila itu terlaksana, apakah pembebasan itu akan melunakkan hati para pengikutnya atau sebaliknya justru menguatkan tekad mereka untuk melanjutkan “berjihad” karena mereka melihat hal ini sebagai kelemahan pemerintah?

Akar Permasalahan

Kita sudah sering mendengar bahwa terorisme tidak dapat diberantas sekadar dengan tindakan represif bersenjata, tetapi kita juga harus bertanya apakah terorisme akan hapus dengan cara berbaik baik dengan mereka. Sangat diperlukan pendalaman untuk mengetahui akar permasalahannya sehingga dapat ditemukan kebijakan yang tepat, sebelum lebih banyak pemuda terjerumus ke dalam lumpur kriminal ini.

Banyak sekali telah ditulis tentang hal ini, tetapi tidak banyak yang membahas dari sisi kejiwaan dan bertanya mengapa seseorang bisa tertarik menjadi anggota dari gerombolan teroris. 

Dengan pengecualian teroris tunggal tidak waras yang sering terjadi di Amerika dalam melakukan penembakan membabi buta di sekolah-sekolah umpamanya, para ahli yang telah mendalami masalah ini sepakat bahwa pemuda-pemuda yang tertarik dan bergabung dalam terorisme berkelompok bukanlah mereka yang gila, sakit jiwa atau paranoid. Mereka adalah pemuda normal dan tidak dihinggapi delusi.

Kebanyakan dari mereka adalah anak muda usia yang sedang berada pada periode sulit dalam kejiwaan ketika mereka baru menyadari dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri. Karena merasa rapuh, resah, dan terpisah, mereka mencari-cari pegangan, identitas diri serta keinginan untuk punya rasa memiliki dan dimiliki. 

Pegangan yang dicari itu ditawarkan oleh ustaz-ustaz garis keras yang kemudian menyalurkan kebingungan para pemuda itu ke dalam paham agama hitam-putih, surga-neraka. Kelompok agama ekstrem ini menawarkan sejenis komunitas yang saling mendukung dengan keyakinan bersama. 

Kelompok-kelompok ini kemudian memberikan status bagi mereka yang tadinya tak dimiliki oleh para pemuda ini. Ada kemiripan dengan kasus banyak remaja dan anak muda yang bergabung dalam kelompok gang, fans club, kelompok pemuja grup musik dan sejenisnya untuk menghilangkan rasa keterpisahannya, menguatkan identitasnya, dan mendapat semacam "keluarga baru".

Kebrutalan teroris terjadi ketika lampu empati dan manusiawi di benak dan hatinya dimatikan dan diganti dengan keyakinan dan tujuan-tujuan yang kuat tetapi sesat yang dijejalkan oleh para ustaz pembimbingnya. Ketika itu mereka tidak lagi melihat dunia dengan persepsi biasa dan pengalaman pribadi, akan tetapi dari kacamata abstrak dan konsepsional, seakan dunia dibagi ke dalam kotak-kotak dan kategori-kategori. 

Manusia yang berada di luar kotak atau kelompok sendiri yang telah tertanam di benaknya sebagai musuh, adalah sekadar liyan atau objek yang harus dienyahkan tanpa rasa iba. Mereka tak lagi mampu melihat sisi kemanusiaan dari individu-individu lain, tetapi menganggapnya sebagai unit-unit dari sebuah kelompok kolektif dan membebankan kepada setiap individu di luar kelompoknya itu tanggung jawab atas kesalahan pihak lain. 

Kelompok teroris dan calon teroris ini berbentuk sejenis piramida di mana di bagian atas adalah kelompok yang menggunakan kekerasan sedang di lapis bawah adalah mereka yang memiliki keyakinan dan ideologi serupa, baik yang setuju ataupun belum tentu setuju dengan penggunaan kekerasan. Di lapis bagian bawah inilah merupakan ladang untuk rekrutmen mereka.

Siapa saja mereka di lapis bagian bawah itu? Mereka adalah para pengikut kelompok garis keras yang setiap kali mendapat khotbah tentang berbagai ancaman abstrak yang sedang dihadapi umat. Ancaman terhadap eksistensi agamanya, ancaman terhadap jiwa penganutnya, ancaman terhadap kemurnian paham agamanya, dan ancaman-ancaman lain yang sulit diterima akal.

Inilah kelompok yang mudah mengkafirkan orang yang tidak seagama dengan mereka maupun menganggap sesat orang-orang yang seagama tetapi tidak sepaham dengan penafsiran mereka tentang agamanya. Kelompok lapis bawah ini, sebagian mendukung terang-terangan kekerasan yang dilakukan oleh lapis atas piramida dan sebagian lain mendukung secara tersamar.  

Kesamaan lapis atas dan lapis bawah adalah mereka sama-sama melakukan promosi besar-besaran atas ideologi garis keras mereka. Dengan bantuan internet, kelompok-kelompok ini telah mendapat jalan pintas yang cepat dan murah untuk menjajakan militansi mereka. 

Teroris dengan pena ini menyebarkan berbagai kebohongan tentang gawatnya situasi untuk mendukung gagasan mereka dan memanasi semangat simpatisannya. Memberikan label-label kepada orang, kelompok, organisasi, dan lembaga tertentu sebagai musuh bersama yang harus diperangi.

Bila perlu, menyerang kebijakan pemerintah yang dianggap taghut dan tidak islami. Semua itu mereka lakukan secara masif dan hampir terkoordinasi dan berulang-ulang. 

Karena bertubi-tubi, baik di dunia maya, media audio, dan tv swasta milik mereka, maupun dalam khotbah-khotbah oleh orang-orang yang dianggapnya memiliki otoritas ilmu agama, banyak orang yang tadinya pasif, tidak mempunyai dasar agama yang kuat dan informasi yang cukup, menjadi terpengaruh dan terseret ke dalam konspirasi mereka.

Seharusnya tidak terlalu sulit bagi pemerintah dan aparatnya untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok garis keras yang merupakan ladang subur bagi rekrutmen teroris. Namun demikian, sejauh ini tampaknya pemerintah segan atau belum punya kemauan keras untuk bertindak karena berbagai alasan seperti tidak adanya payung hukum yang jelas. 

Lebih lagi, dalam tahun politik yang memperebutkan suara pemilih, ada kesan pemerintah gamang mengambil kebijakan yang tegas terhadap berbagai upaya coba-coba untuk mengacau seperti yang terjadi belum lama ini di kota Solo. 

Membiarkan kelompok-kelompok garis keras ini bermanuver bebas berarti menunda terjadinya musibah yang lebih besar. Mengambil tindakan tegas sekarang lebih murah daripada menunggu sampai kekacauan terjadi dan korban orang-orang tak bersalah berjatuhan.

Membebaskan terpidana terorisme tanpa syarat dengan keyakinan lama yang masih utuh di dadanya serta menolak setia kepada NKRI, kemudian mengembalikan ke kelompoknya untuk melanjutkan “dakwah”-nya, perlu diperhitungkan dengan pertimbangan yang dalam dan serius. 

Terpidana teroris adalah manusia yang perlu diberi pertimbangan kemanusiaan, tetapi para korban terorisme dan calon korban juga manusia yang sama-sama perlu diperhatikan kepentingannya.