Media sosial kembali dihebohkan dengan kehadiran sosok Profesor Hadi Pranoto, ia yang sempat hadir dalam dialog konten musisi Indonesia, bernama Erdian Aji Prihartanto atau dikenal Anji. Seorang Hadi Pranoto yang pakar mikrobiologi dan Ketua Tim Riset Formula Antibodi Covid-19 itu mengklaim bahwa dirinya telah berhasil menemukan dan menciptakan antibodi Covid-19 dengan basis penelitian riset bersama rekan-rekannya.

Dalam salah satu dialog Hadi bersama Anji, Hadi menyatakan bahwa antibodi yang ditemukan berbahan herbal itu telah berhasil di berikan hampir 250.000 kepada masyarakat di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan dan telah terbukti berhasil menyembuhkan.

Jika memang iya, berarti ini salah satu kabar baik, karena sebentar lagi akan ada obat untuk pencegahan Covid-19. Apa sebentar lagi akan normal? Tapi, sudah adakah uji kliniksnya? Ini masih harus dipertanyakan, masih perlu pembuktian, karena takutnya akan menghadirkan kekeliruan dan harapan palsu bagi seluruh masyarakat. Untuk itu perlu adanya lagi bukti secara riil.

Hadi Pranoto dalam wawancaranya dengan Anji mengatakan, "Pola kerja yang kami buat ini beda. Setelah meminum, antibodi ini jadi piranti keamanan tubuh kita sendiri. Apabila ada virus Covid-19 yang masuk melalui oksigen itu akan dimakan oleh bakteri dalam tubuh kita."

Hadi juga mengatakan bahwa pasien virus Corona dapat disembuhkan dalam waktu 2-3 hari. Sedangkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan, pasien Covid-19, baik orang tanpa gejala maupun pasien dalam penanganan, tetap harus isolasi diri selama 10-14 hari sebelum dinyatakan sembuh.

Hadi Pranoto penemu obat Covid-19 sebenarnya siapa? Jika memang ia telah berhasil menghadirkan antibodi tersebut, berarti ini salah satu rekor besar di dunia. Karena negara maju atau negara yang telah menghadirkan virus ini pun belum bisa menghadirkan obat atau antibodinya, semua masih dalam pengujian. Sungguh luar biasa!

Kenal YouTube Anji itu yang sempat tayang beberapa hari lalu kini telah di-hate down karena telah melanggar aturan YouTube, melanggar aturan komunitas. Mengapa demikian? Video yang telah tayang itu berjudul Kembali Normal? Obat Covid-19 sudah ditemukan.!! Dalam dunia Manji itu sempat menuai kontroversi? Kontroversi apa itu? Apa karena penemuan obat Covid-19 atau hal lainnya?

Kontroversi itu bermacam-macam. Tidak sedikit yang mempertanyakan mengenai gelar profesor Hadi Pranoto yang telah tertulis kemudian dihapus dalam kanal YouTube Anji, dan ada juga yang mempertanyakan mengenai Obat atau antibodi Covid-19 tersebut dalam kontennya dan instagram Anji.

Berikut beberapa tanggapan Satgas Covid-19, dokter, dan masyarakat yang meragukan sosok Hadi Pranoto itu dikenal akun YouTube Anji yang telah dihapus itu.

Wiku Adisasminto, Jubir penanganan Covid-19 dalam Kompas mempertanyakan, "Apakah yang bersangkutan ini seorang Profesor atau peneliti? Dan Institut perguruan tinggi atau riset mana yang sedang beredar saat ini?"

Supriadi dalam Tirto mengatakan, "Pangkalan Dikti tidak ada Hadi Pranoto di dalam video itu bergelar Profesor. Dia profesor dari kampus mana, laboratoriumnya di mana, dan tim peneliti obat Covid-19 siapa saja, itu tidak jelas. Jadi klaim profesornya sangat diragukan."

Menurut UU Sikdiknas, seseorang dapat diangkat dalam jabatan akademik profesor atau dosen yang memiliki kualifikasi doktor, profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon  doktor. Sedangkan nama Hadi Pranoto sebagai pengajar yang ahli di bidang mikrobiologi tidak terdapat dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Video tersebut rupanya menarik perhatian musisi sekaligus dokter Teuku Adfitrian atau Tompi. Ternyata Tompi mengikuti video tentang adanya obat yang bisa melawan Covid- 19. Berikut Cuitannya dalam akunnya:

"Lagi heboh banget sama berita @duniamanji wawancara profesor penemu obat covid, bukan GAK MUNGKIN, bisa saja benar. Tapi begini anji, sebuah penemuan apalagi medis HARUS dipresentasikan dengan tata cara ilmiah, supaya teruji, terukur, dan bisa diulang."

Banyaknya jumlah pihak yang membantah dengan klaim penemuan herbal untuk Covid-19 yang diutarakan Hadi Pranoto karena pengakuan dirinya sebagai profesor dan proses obatnya yang masih diragukan. 

Sedangkan menurut Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Diljen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Supriadi Rustad, "Kalau memang Hadi Pranoto itu profesor, minimal ada penelitiannya dan mudah dicari di sumber terbuka."

Kemenkes menegaskan hingga saat ini belum ada pihak yang menemukan obat secara khusus yang bisa mengobati Covid-19. Pelaksana Tugas (PIt) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes Slamet mengatakan, "Penelitian saat ini masih terus dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. Proses produksi obat pun harus melalui proses yang benar dan tidak bisa sembarangan."

Pertama, prosesnya harus diawali dengan upaya penemuan bahan, zat atau senyawa potensi obat melalui berbagai proses penelitian. Bahan potensial itu pun harus melewati berbagai proses pengujian. Kemudian masih dibutuhkan Uji Klinis untuk fase pertama kedua dan seterusnya.

Bukan sekadar itu, harus juga mengantongi izin edar. Lalu diproduksi melalui cara pembuatan obat yang baik dan dilakukan kontrol pada proses pemasarannya. Jadi, tidak sembarangan obat yang harus dipublikasikan tanpa melalui proses seperti di atas.

Menurut saya, inti dari permasalahan konten Anji ini karena sosok dari Hadi Pranoto ini sendiri yang gelarnya masih belum jelas atau diragukan. Karena seseorang itu harus bicara dengan bidangnya. Kalau memang Hadi Pranoto ini Profesor, penelitiannya mudah dicari sehingga dapat diidentifikasi.

Lalu Slamet Budianto mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi dari Hadi Pranoto. Tapi bukankah itu hak setiap orang percaya atau tidak percaya?

Mungkin dalam hal ini pemerintah mengimbau nantinya masyarakat tidak lagi mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah karena telah mendapat informasi adanya obat corona, dan mengabaikan semua yang telah dianjurkan.

Masalah percaya atau tidak itu boleh, asalkan jangan lupa tetap mengikuti anjuran pemerintah agar tidak ada yang merasa rugi dan dirugikan. Semoga kontroversi ini segera dipecahkan kebenarannya.