Feminisme yang muncul eksistensinya banyak disuarakan akhir-akhir ini tentu bukan hal asing lagi di telinga masyarakat. Namun, di era modern ini banyak orang juga yang belum paham apa itu Feminisme dan sering disalahartikan. Sehingga perlu ditekankan lagi makna dan pengertian dari Feminisme ini sendiri.

Dilansir dari IDNTIMES.COM Feminisme adalah suatu gerakan serta ideologi yang memperjuangkan adanya kesetaraan gender bagi kaum perempuan untuk bisa turut berpartisipasi dalam kegiatan perpolitikan, sosial budaya, ekonomi, ruang bicara baik itu private atau publik.

Untuk itu, Feminisme ini sangat mendukung untuk adanya kesamaan hak baik kaum laki-laki dan perempuan sebagai penghuni dunia ini. Feminisme pertama kali disuarakan di New York 1848 yang diusung oleh gerakan sosial tentang hak perempuan oleh Elizabeth Cady Stanton dan lainnya.

Indonesia sendiri sudah memulai eksistensi tentang Feminisme ini dengan penggagas terkenal yakni R.A. Kartini sebagai tokoh yang dikenal dengan emansipasi wanita. Pemikiran beliau dilatarbelakangi oleh adanya kekecewaan pada masa kolonial bahwa yang berhak mengampu pendidikan dan menyampaikan aspirasinya hanya anak-anak laki-laki saja.

Perempuan pada masa itu hanya mengemban tugas untuk melakukan pekerjaan rumah angga dan menjaga anaknya. Tentu hal tersebut suatu ketimpangan yang sangat terasa bagi perempuan di masa itu.

Berasal dengan pemikiran beliau, saat ini di Indonesia kita bisa merasakan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan serta juga berhak tampil dalam forum publik. Jika dilihat dari sejarah dan juga maknanya Feminisme ini merupakan suatu hal yang positif yakni agar perempuan juga memiliki haknya.

Namun, di era modern ini seakan Feminisme juga memiliki mata belati yang mengarah ke dirinya sendiri. Dengan masyarakat modern yang dilanda gelombang globalisasi dengan mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak yang menyalahgunakan makna “setara” dalam Feminisme.

Kita tau bahwa masifnya smartphone dan media sosial yang ada sebagai kemajuan iptek juga memiliki sisi buruknya. Begitu juga dengan Feminisme di era sekarang ini. Dilihat dari berbagai sisi, Perempuan di era sekarang cenderung selalu disalahkan atas berbagai hal yang terjadi.

Walaupun memang beberapa kasus dilakukan oleh perempuan yang otomatis juga bersalah. Seperti contoh kasus pelecehan seksual yang dilakukan di lembaga pendidikan “kampus” yang baru-baru ini viral yang terjadi di Universitas Sumatera Utara (USU).

Dimana mahasiswinya dilecehkan oleh dosennya sendiri dan baru speak up terhadap kekerasan yang diterima mahasiswi tersebut. Namun hal tersebut mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat. Untuk masyarakat yang sadar bagaimana letak kesalahannya pasti juga memahami makna feminisme ini dan menetapkan kesalahan di Dosen tersebut.

Namun, mirisnya juga banyak yang menyalahkan dan memandang jijik kepada mahasiswi tersebut karena sudah dilecehkan. Seharusnya sebagai masyarakat modern yang “melek” akan teknologi dan perkembangan zaman, kita harus mendukung upaya pemberian sanksi.

Kejadian seperti itu kerap kali terjadi, namun diluaran sana masih banyak perempuan yang terkena pelecehan seksual namun dirinya belum mau speak up. Hak itu dikarenakan nantinya objek yang dilihat masyarakat sebagai hal yang “jijik” adalah perempuan sendiri.

Perempuan yang nantinya disalahkan juga, baik itu karena cara berpakaian, sopan santun dan lain-lain. Memang hal itu harus kita selidiki dan pikirkan juga, namun mengapa tidak menyelidiki motif para pelaku dan akibat apa yang nantinya diterima perempuan itu.

Hal ini merujuk pada sosial budaya masyarakat modern yang harus lebih tau mana dan melindungi korban kekerasan karena Feminisme tidak berlaku juga di sini jika kasus semacam ini terus terjadi dan yang menjadi objek amukan lagi-lagi perempuan.

Kontradiksi Feminisme juga semakin terasa ketika kita sebagai generasi millenial dan generasi Z aktif dalam sosial media dengan tidak semestinya. Maksud dari hal ini bisa kita lihat dari fenomena tren Tiktok yang beredar di masyarakat dunia maya.

Banyak konten video yang menampilkan hal tidak senonoh yang ironisnya itu dilakukan oleh perempuan sendiri. Dengan melakukan aksi dan tindakan yang memunculkan motif viewers untuk melakukan pelecehan dalam bentuk verba atau tulisan.

Sungguh merupakan pertentangan dengan makna Feminisme yang melindungi hak perempuan dan sebagainya. Padahal Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) disahkan untuk melindungi perempuan, namun perempuan sendiri yang seakan membuka akses untuk hal itu terjadi.

Dengan mengedepankan jumlah viewers untuk mengakui eksistensinya perempuan sering melupakan apa yang seharusnya dijaga. Ini yang menjadi polemik di era modern, dimana sudah ada undang-undang yang melindungi perempuan masih baik menjadi objek atau “ pencetus motif” kekerasan sensual ini terjadi.

Sehingga muncul pertanyaan, lantas dimanakah Feminisme diletakkan ? Apakah Feminisme hanya sebuah hiasan saja ? Selain dari peran pemerintah yang juga mendukung upaya adanya Feminisme yang tercipta secara ideal kita sebagai masyarakat modern juga perlu mendukung tersebut.

Dengan memahami kembali makna Feminisme dan menyesuaikannya dengan apa yang hari ini terjadi tentu seakan menimbulkan pertentangan. Sehingga di era modern ini harusnya masing-masing individu sadar akan melindungi perempuan itu memang suatu keharusan.

Ditambah lagi sebagai perempuan menjaga diri sendiri agar terhindar dari kasus di atas juga keharusan. Sehingga yang kita harapkan sebagai wujud makna “setara” dari Feminisme adalah masing-masing gender yang memiliki porsinya sendiri dan berimbang dapat terwujud dan berjalan beriringan untuk mencapai tujuan bangsa dan negara.