Marx telah menemukan satu fakta sederhana, bahwa yang pertama kali dicari manusia adalah makan, minum, tempat bernanung, dan pakaian. Jauh sebelum mereka mengejar apa itu politik, ilmu pengetahuan, seni, dan agama.[1]

Pesan yang disampaikan oleh Friedrich Engels di atas adalah sebuah bukti nyata bahwa jika kita ingin memahami apa itu manusia sebenarnya, maka jawabannya harus dicari dalam hal yang paling fundamental. 

Sejak pertama kali manusia muncul di atas muka bumi, mereka belum memikirkan “ide-ide besar,” melainkan memikirkan kebutuhan materi (sandang, pangan, dan papan) yang bisa membuat mereka bertahan hidup. Di saat kebutuhan itu terpenuhi, barulah mereka memiliki keinginan akan hal-hal lain, misalnya seks. 

Proses reproduksi akan melahirkan generasi baru dan tentunya akan menuntut kebutuhan-kebutuhan material yang lebih banyak. Menurut Marx, semua kebutuhan itu hanya bisa terpenuhi dengan membangun dan mengembangkan apa yang disebutnya sebagai bentuk produksi (mode of productions).

Dalam bentuk ini, masyarakat yang terlibat dalam proses produksi terbagi ke dalam berbagai tipe, misalnya ada yang cekatan ada yang lamban, ada yang kuat ada yang lemah, dan dengan sendirinya akan membentuk pembagian kerja. Hubungan yang sudah terbagi-bagi ini kemudian lebih dikenal sebagai hubungan produksi (relation of productions). 

Misalnya seorang pria bernama Budi membuat perahu untuk berlayar sedangkan Dani membuat jala untuk menangkap ikan, lalu keduanya bekerja sama untuk menangkap ikan. Bentuk masyarakat awal yang sederhana ini disebut sebagai masyarakat komunis-primitif, karena kedua peralatan tersebut dimiliki oleh setiap anggota masyarakat yang tinggal di sekitar pantai atau berprofesi sebagai nelayan. 

Dengan kondisi seperti itu, mereka bisa menikmati hidup dengan melakukan perkerjaan mereka dan berhenti saat lelah atau merasa tidak butuh lagi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, terjadi suatu perubahan besar dalam hubungan produksi, yaitu saat hak milik pribadi mulai dikenal oleh masyarakat. Dampak perubahan ini sangatlah nyata, bahkan hubungan produksi dapat berubah 180 derajat pada masa ini. 

Budi akan mengeklaim perahu yang dibuatnya adalah miliknya, begitu pula Dani yang akan melakukan hal serupa seperti Budi. Hubungan di antara keduanya hanya akan terjadi jika ada proses tukar menukar dari hasil pekerjaan mereka, baik dengan menjual atau membeli barang yang mereka butuhkan. 

Hal serupa juga terjadi saat model produksi berubah dari berburu menjadi bercocok tanam. Dalam kasus ini, individu yang memiliki “properti” lebih akan berada di posisi yang lebih menguntungkan karena sebagian lainnya tidak memiliki apa-apa. 

Kondisi ini akan melahirkan tuan tanah dan budak yang bekerja di tanah miliknya. Hak milik pribadi dan pertanian adalah dua hal penting dalam peradaban klasik, di mana keduanya ikut serta dalam pembentukan kelas-kelas berdasarkan kekuatan dan kekayaan yang melahirkan konflik sosial sampai saat ini.

Perlu diingat juga bahwa fokus utama Marxisme tidak hanya tertuju pada kebudayaan dan ekonomi semata, melainkan tertuju pada agama Kristen yang tumbuh dan berkembang dalam peradaban Eropa Barat pada saat itu. Marx bahkan menyebut bahwa "agama adalah candu masyarakat" dan tempat pelarian masyarakat miskin dari kesengsaraan dan penindasan.

Menurut pandangan Marxisme, hampir semua agama hanyalah ideologi semata, sama dengan negara, tatanan moral, dan hasil karya intelektual lainnya. Semua hal tersebut, termasuk agama, sangat bergantung pada fondasi ekonomi. Jika ekonomi berubah, maka agama pun akan ikut berubah.

Perubahan ekonomi yang signifikan akhirnya melahirkan fenomena keterasingan atau alienasi yang disebabkan oleh agama, dan muncul ketika masyarakat mulai berkenalan dengan pembagian kelas dan kepemilikan pribadi. 

Marx menyatakan bahwa kunci untuk memahami agama dapat ditemukan dalam ekonomi. Bermula dari agama, lalu ke alienasi dan eksploitasi, kemudian pertentangan kelas dan bermuara pada “akar setan” dalam konsep kepemilikan pribadi dan pencurian nilai surplus (Pals, 2012: 219).

Eksploitasi sendiri hanya akan terjadi ketika para kapitalis membayar buruh dengan upah seadanya untuk tetap bertahan hidup. Lalu untuk kepentingan dirinya sendiri, mereka mengambil nilai surplus dalam produk yang dihasilkan oleh para buruh tersebut. 

Keterasingan dalam agama pada dasarnya adalah sebuah gambaran ketidakberesan yang ada di dalam fondasi masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa keterasingan ini lebih bersifat ekonomi dan material ketimbang spiritual. Sudah jelas kenapa agama bagi masyarakat adalah kekuatan terbesar dan tempat pelarian terakhir. Hal ini dikarenakan agama memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh superstruktur lainnya. 

Agama mampu memberikan kebutuhan spiritual dan emosional manusia yang teralienasi, walau kenyataannya agama hanyalah sebagian kecil dari sebab-akibat yang sangat kompleks dalam masyarakat modern. 

Marx sendiri menganggap bahwa agama adalah penyebab ditindasnya kaum proletar. Agama telah melumpuhkan para buruh dengan mencekoki mereka dengan fantasi-fantasi indah, sehingga rasa marah dan frustrasi yang mereka butuhkan untuk menggalang revolusi menjadi mati.

Jadi, lari dari kenyataan adalah esensi yang diberikan agama kepada kaum tertindas. Sementara bagi yang tidak tertindas, secara kebetulan mereka beruntung bisa mengatur alat-alat produksi yang mereka memiliki. 

Bagi mereka, agama juga memberikan sesuatu yang lebih baik dari sebuah "candu" untuk si miskin, menjadikannya sebuah ideologi yang memungkinkan si kaya untuk mengingatkan si miskin bahwa apa yang terjadi memang harus terjadi dan tidak bisa diubah lagi. 

Lewat pemikiran ini, kenyataan yang harus diterima bagi si miskin adalah harus bekerja, dan si kaya hanya akan menikmati hasil dari properti yang mereka miliki. Peranan agama dalam sejarah adalah memberikan alasan teologis terhadap status quo dalam kehidupan, seperti yang sedang kita semua alami saat ini. Baik atau tidaknya pendapat ini, semua kembali kepada keyakinan masing-masing. 

Pada dasarnya, Marxisme hanyalah ideologi yang bertujuan untuk menghilangkan penderitaan kaum yang tertindas, sehingga mereka bisa mendapatkan keadilan ekonomi. Lewat kesetaraan ekonomi, masyarakat tidak akan lagi memerlukan agama dan pembagian kelas sehingga terwujudlah sebuah Utopia.[2]
  

[1] Friedrich Engels, “Speech of the Graveside of Karl Marx” dalam Karl Marx and Friedrich Engels: Selected Work, halaman 153.

[2] Uraian tentang Utopia Marx dan Engel terhadap masyarakat tanpa kelas, tanpa ada lagi hak milik pribadi dan pembagian kerja, akan dapati dalam buku The German Ideology (Moscow: Progress Publishers (1845-1846, 1968) halaman 44. 

Sumber:

Engels, Friedrich dan Karl Marx. 2000. The German Ideology. Versi Online. Diunduh pada tanggal 23 Oktober 2016 pukul 4.30.

Pals, Daniel L. 2012. Seven Theories of Religion. Cetakan II. Yogyakarta: IRCiSoD.