Panitia Workshop
1 tahun lalu · 376 view · 1 menit baca · Info 40738.jpg
Para peserta workshop Qureta-Indeks di Bandung - Foto: Qureta

Kontra-Terorisme dan Hak Asasi Manusia

Kampanye kontra-terorisme sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Sudah waktunya dunia internasional menentukan cara-cara strategis untuk menghasilkan solusi yang tepat.

Demikian pemaparan aktivis HAM sekaligus Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. Ia sampaikan itu dalam workshop yang diselenggarakan Qureta pada Jumat (28/07/2017) di hotel Arion Swissbel, Bandung.

"Terorisme tidak bisa diredam hanya dengan cara peperangan antar-Negara dengan kelompok teror saja, tetapi harus ditangani secara cermat agar sel-sel ekstremisme bisa diatasi dengan tepat," katanya.

Sering kali kelompok teror membangun narasi ketidakadilan untuk mengampanyekan paham ekstremis yang mereka propagandakan di media sosial. Itu bertujuan untuk merekrut jihadis baru.

Usman Hamid menganjurkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pro-aktif dalam membangun dialog. Ya, dengan semua stakeholder yang terlibat untuk menghentikan tindakan terorisme yang semakin masif.

Hukum internasional dan regional jelas menyatakan bahwa negara memiliki kewajiban melindungi individu di bawah yurisdiksinya dari serangan teroris. Ini menjadi bagian dari tugas negara dalam melindungi warganya. 

Lebih khusus lagi, tugas ini diakui sebagai bagian dari kesepakatan internasional. Hal itu merupakan kewajiban untuk menjamin keamananan masyarakat.

Dukungan bagi korban merupakan hal penting, sekalipun conflict of interest sering kali menganggu dan menunda upaya penyelamatan sipil dari kelompok teror.

Kelompok teror sangat mahir menggunakan media sosial. Dominasi mereka dalam membangun opini propaganda harus dicegah dan dilawan.

"Lewat media sosial, kaum jihadis dengan cerdik memanfaatkan situasi psikologis seseorang hingga mampu merekrutnya menjadi anggota dan bahkan bersedia melakukan aksi bom bunuh diri."

Usman juga menyinggung pentingnya kebebasan berekspresi di media online. Kendati membawa dampak pembebasan, media online juga bisa menjadi alat intimidasi bagi mereka yang tak bertanggung jawab.

Karenanya, kontra-terorisme tidak bisa dibebankan kepada pengambil kebijakan saja, tapi masyarakat luas harus dilibatkan secara aktif.

Workshop Qureta yang penyelenggaraannya bekerja sama dengan Indeks dan PPIM diharapkan mampu berkontribusi dalam mengampanyekan isu-isu yang bisa meng-counter propaganda kelompok teroris tersebut.