#IndonesiaTanpaFeminis, demikian salah satu tagar yang meramaikan publik Indonesia pada 2019 ini. Salah satu argumen penolakannya terhadap feminisme adalah mengenai lengkapnya Islam sebagai ajaran, sehingga Islam tidak membutuhkan lagi paham-paham dari Barat seperti feminisme ini.

Gerakan Indonesia tanpa feminis ini menggambarkan, jika perempuan menuntut kesetaraan dalam pendidikan, Fatimah al-Fihria sudah mendirikan universitas pertama di dunia. Jika menuntut kesetaraan dalam otoritas ilmu pengetahuan, maka Aisyah telah lebih dulu menjadi figur bagi tempat bertanya para sahabat Nabi tentang Hadis. Jika menuntut tentang kesetaraan dalam berkarier, maka Khadijah istri Nabi Muhammad telah lebih dulu menjadi pengusaha sukses.

Tentu sudah banyak pendapat yang menanggapi kampanye tersebut dengan beragam argumentasinya, baik melalui media massa maupun beragam opini yang direkam melalui video pendek. Tulisan ini diharapkan memberikan pandangan lain atas debat kampanye tersebut.

Feminisme di Indonesia

Jika menolak paradigma feminisme, sebenarnya ia sedang menolak perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sebab feminisme di Indonesia, terutama di Jawa, sudah ada sejak tahun 1912 yang ditandai dengan berdirinya organisasi bernama Putri Mardika. Organisasi ini berdiri dimaksudkan untuk memperjuangkan kesetaraan pendidikan perempuan dan laki-laki.

Bahkan pada 1913, organisasi ini mencetak surat kabar mingguan dengan mengangkat topik penolakannya pada praktik perkawinan poligami dan praktik perkawinan perempuan di bawah umur. Media ini pun menurunkan berita tentang Kongres Feminisme di Paris.

Sebagai disiplin ilmu sosial dan humaniora, feminisme diletakkan dalam kategori paradigma teori kritis yang menjadi kaca pembesar untuk melihat ketidakadilan dan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Jika teori kritis lain seperti marxisme adalah kaca pembesar untuk melihat ketimpangan kaya-miskin, pemilik modal dan buruh, maka feminisme adalah kaca pembesar untuk melihat ketimpangan laki-laki dan perempuan tersebut.

Metode pembentukan ilmunya pun mempunyai ciri tersendiri yang disebut dengan Metode Penelitian Berperspektif Feminis atau Berperspektif Gender. Metode ini muncul pada 1970. Kelahirannya didasarkan atas ketidakpuasan terhadap narasi ilmu pengetahuan yang sangat maskulin dan androsentris, baik ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial.

Titik tolak dari penelitian berperspektif feminis adalah bahwa pengalaman perempuan berbeda dengan pria, terutama pengalaman yang melekat pada organ reproduksinya, seperti hamil, melahirkan anak, dan ruang lingkup hidupnya dalam sistem nilai budaya masyarakat yang lebih mengutamakan manusia berjenis kelamin pria.

Penelitian ini pun mendorong agar perempuan dengan segenap pengalamannya perlu memproduksi ilmu pengetahuan tentang dirinya dengan memberikan rekomendasi keilmuan bahwa kehidupan mesti memberikan keadilan bagi perempuan dan tidak melakukan diskriminasi terhadapnya.

Selain itu, jika kita menolak feminisme, sebenarnya kita sedang menolak terhadap salah satu disiplin ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Padahal, jika negeri kita ingin berlayar menuju kemajuan dan peradaban luhur, maka kita harus terbuka pada pelbagai disiplin ilmu, baik yang datang dari barat maupun dari timur, dari utara maupun dari selatan, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad: "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina".

Keragaman Feminisme

Sebagaimana disiplin ilmu pengetahuan dan ideologi, feminisme pun mempunyai corak yang beragam, tergantung afiliasi politik, agama dan ideologi serta konteks kewarganegaraan, dan bahkan etnisitas mereka.

Selama ini, para teorisasi feminis menggolongkan feminisme ke dalam beberapa kategori, seperti Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Sosialis, Feminisme Multikultural, Feminisme Ekologi, dan beragam aliran lainnya. Tetapi penggolongan ini tidak serta-merta mencerminkan pluralitas dan kompleksitas pemahaman feminisme itu sendiri. Penggolongan ini hanya merupakan cara para akademisi untuk memahami teori feminisme yang kompleks itu.

Dalam praktiknya, beragam aliran tersebut senantiasa beririsan satu sama lain, mempunyai titik temu dan titik tengkar. Tetapi ibarat sebuah pohon, ia adalah ranting dan cabang yang membentuk sebuah pohon besar bernama Feminisme.

Di antara beragam aliran feminisme tersebut, ada yang memandang dunia dan sistem sosialnya ini cukup kelam, yakni dunia dilihat dalam cengkeraman dan wajah kekuasaan laki-laki dalam segala lini. Jika pun perempuan berkuasa, maka cara berkuasanya adalah cara berkuasa laki-laki: otoriter dan tidak berbagi. 

Karena itu, dalam ilustrasi aliran ini, mereka menolak lembaga perkawinan yang lazim di masyarakat, karena perkawinan akan mensubordinasikan perempuan serta mengukuhkan kuasa laki-laki atas perempuan. Pandangan ini diwakili oleh sebagian Feminisme Radikal.

Ada pula gerakan perempuan yang mengikhtiarkan keterwakilannya dalam jabatan-jabatan kekuasaan formal, seperti isu keterwakilan perempuan di parlemen, keterwakilan perempuan di kementerian, keterwakilan perempuan pada posisi-posisi strategis di birokrasi negara, dan keterwakilan perempuan di posisi-posisi organisasi agama dan organisasi adat.

Gerakan ini dilakukan oleh mereka yang bercorak Feminisme Liberal. Corak feminisme ini juga memperjuangkan hak pendidikan yang sama dengan pria, upah yang sama dengan kerja yang sama dalam dunia kerja, dan sebagainya.

Sementara, ada aliran feminis yang cukup moderat, yakni aliran yang memandang bahwa karakter yang distreotipkan kepada perempuan, seperti keibuan, perhatian, dan pelayanan, justru menjadi kekuatan perempuan itu sendiri. 

Karena itu, sifat-sifat perempuan di atas harus ditarik ke dalam dunia publik seperti mengelola masyarakat dan negara karena ia sangat berguna untuk memperhatikan dan melakukan hal-hal detail yang cenderung kurang dilakukan oleh kaum pria. Aliran ini diwakili oleh sebagian Feminisme Kultural.

Gerakan 'Indonesia Tanpa Feminisme' Adalah Feminis

Gerakan 'Indonesia Tanpa Feminisme' sesungguhnya adalah gerakan feminis. Mengapa? Karena sesungguhnya mereka mengakui 'kemampuan' perempuan dalam segala aspek kehidupan.

Sebagaimana diketahui, ciri khas dari gerakan feminisme adalah adanya kesadaran bahwa perempuan mempunyai 'kemampuan' setara dengan pria. Tetapi karena kultur dan struktur masyarakat yang tercermin dalam banyak aturan menghalangi perempuan untuk mempunyai kemampuan, maka perempuan pun terbentuk menjadi tak mampu atau kurang berdaya.

Feminisme sendiri adalah sebuah pembingkaian atau framing dari suatu disiplin ilmu pengetahuan yang sesungguhnya praktiknya telah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita mungkin tak aneh melihat nenek, ibu, atau saudara-saudara perempuan kita yang pribadinya perkasa, pengendali diri dan keluarganya, berilmu luas dan berpengaruh di masyarakat.

Gambar di ataslah yang menjadi subjek feminisme. Hanya saja, kita sering kali menolak feminisme dengan alasan karena ia lahir dari Barat, padahal disiplin ilmu-ilmu lain seperti Psikologi, Sosiologi, Antropologi dan ilmu-ilmu humaniora lainnya, juga ilmu-ilmu eksakta, lahir dan berkembang di Barat.

Tetapi mengapa hanya feminisme yang ditolak? Karena ia menggoyang kemapanan dan kenyamanan sistem budaya yang telah membuat ‘nyaman’ kaum perempuan dan berkuasa kaum pria.