2 tahun lalu · 187 view · 2 menit baca · Politik hands1.jpg

Kontestasi Sosial-Politik dalam Jerat Humanisme

Generasi tanpa patok ingatan sejarah tidak lebih kendali daripada sistem-sistem kekuasaan. Generasi itu akan hidup bagi dirinya sendiri tanpa melestari nilai-nilai luhur sebelumnya. Hingga dengan mudahnya terbawa dalam pola pikir segelintir kelompok yang pandai berteori akan tetapi bebal akal dan nuraninya.

Bisa jadi harga kebebasan mutlak hanya keniscayaan. Dalam setiap perjalanan sosial dan politik, seakan kita dikendalikan rapat-rapat oleh tiang pancang ideologi. Terkadang ideologi dijadikan pembenaran atas kontestasi kekerasan, kekayaan, dan kekuasaan.

Ke mana hak hidup yang katanya sanggup memanusiakan manusia. Nyatanya hanya ada kemiskinan fisik dan pembodohan mental. Apa yang disebut jantung moralitas sudah terkurung rapat di dalam zona kasta, kelas, dan kepercayaan.

Degradasi nilai humanisme kebangsaan jelas-jelas nyata bahkan untuk negeri kita ini. Sebagian orang membaca riwayat namun memilih untuk mencabut ingatan tentang akar-akar kemanusiaan. Kita merasa berhak hidup merdeka, namun kita sendiri tidak membuka hak kebebasan itu bagi ruang ruang perbedaan. Kekejaman terselubung dibalik topeng-topeng sakralitas sesungguhnya hanya pembenaran atas kehendak pribadi. 

Maka sejatinya siapa mampu memanusiakan manusia, selain manusia antar generasi itu sendiri. Teorinya manusia berpendidikan itu benihnya pohon kemanusiaan. Namun pendidikan tak ubahnya sistem formalitas belaka dalam meraih gelar prestisius. Tidak ada pengingat apapun lagi tentang makna kebangsaan. Dan hanya sedikit aksi dan reaksi untuk mengulurkan tangan-tangan kemanusiaan. 

Ya, generasi yang terdidik dalam pola rasa humanisme kebangsaan jelas akan menolak lupa pada sejarah dan warisan budayanya. Kita memendam ingatan, perilaku berbudaya, maupun materi fisik seperti bangunan juga buku-buku, bukan hanya obyek pandang atau obyek bahasan, ataupun obyek pertentangan. Seluruhnya tercakup untuk mencukupi warisan bagi setiap periode waktu kelahiran yang gantikan jejak-jejak kematian para patri budaya, patri patriotik, patri humanis.

Kenapa banyak orang bangga mengabsorbsi sekian banyak sikap yang bersinggungan dengan nilai juga norma warisan budaya bangsa? Padahal jika memahami rumit dan sulitnya kehidupan masa para patri atau disebut leluhur, betapa kini kita punya kebebasan yang dijamin secara nasional maupun internasional. Apakah kebebasan bagi mereka di era feodal, era terjajah, bahkan sesudahnya? Kebebasan adalah impian. 

Ketika kebebasan pada garis dan tonggak humanisme dilindas oleh tinta merah maka lenyap sekian banyak hak asasi manusia, hak hidup. Padahal menjadi manusia Indonesia, jika anda bangga sebut diri beradab, tak pernah cukup bermanis di mulut.

Beradab hendak jauh dari picik di alam pikir. Beradab menolak sadis dalam berprilaku, menolak puja-puji kekejaman di luar batas suci perilaku moral. Serta menolak sadis memuja ketamakan namun berbangga hati dengan menilai diri sebagai pembawa keutamaan. 

Pada akhirnya, perjuangan seperti apa yang dibutuhkan dalam hidup ini. Berjuang demi kehidupan diri sendiri dan sedikit orang dalam lingkar pergaulan? Perjuangan bagi orang lain tapi hanya yang serupa identitas dengan anda?

Bagaimana cara anda melihat realita kemiskinan, cukupkah dengan berteriak sekeras mungkin? lalu apa yang anda lakukan bagi si miskin, dengan bekal ilmu sebagai manusia terdidik, pernahkan menyumbang pemikiran ataupun ikut berjuang bagi mereka?

Resapilah jika masa silam tak lebih nikmat ketimbang periode kebebasan ini. Bahwa dahulu orang tak punya pilihan selain bekerja rodi...mati kelaparan...mati di pucuk senjata...bahwa dahulu pahlawan-pahlawan itu tak punya pilihan selain gugur atau membiarkan rakyat dalam penindasan...bahwa para pemikir bangsa ini tak punya pilihan apapun selain berpikir menata sistem kebangsaan, yang justru kini diobrak-abrik, ditentang, bahkan dilupakan maknanya...

Ya, Humanisme Kebangsaan adalah Harga Mati Bagi Manusia Terdidik. Bagi Manusia Moralis dan Humanis. Bagi Manusia Berbudaya. Bagi Manusia Patriotik yang Mengaku Berasusila.

Artikel Terkait