Dokumentasi perjalanan, termasuk di dalam aktivitas pendakian yang bisa berupa foto, video, rekaman suara, narasi tertulis, coretan vandalisme, adalah hal yang penting untuk mengabadikan momen-momen perjalanan tersebut.

Penulis novel, pemusik, brand ambassador, dan sekaligus pegiat alam bebas; Fiersa Besari, telah merilis kontennya di YouTube dengan judul thumbnail yang sangat menarik, yaitu dibuat tersesat di jalur arjuno.

Sedang judul kontennya adalah Perjuangan Sia-sia part2 (Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur), tonton di sini. Konten yang dirilis pada tanggal 19 September 2019 itu, saat saya akses, berparameter dengan raupan 256.2 K views, 10 likes, dan beberapa comments.

Bukan masalah parameter arus traffic, yang siapa saja bisa menggenjot viralnya, namun ada beberapa hal yang semestinya bisa dihindari, baik tentang norma dan prosedur keselamatan pendakian atas dirinya, kru, dan anggota rombongan lainnya. Lebih jauh lagi, agar tidak ditiru oleh yang lain.

Tayangan berdurasi 10 menit itu memang menampilkan thumbnail yang menarik, dengan judul konten yang bernas. Tentunya, video tersebut sangat berpeluang untuk diklik.

Walaupun thumbnail dan judul konten berfungsi seperti baliho, yang dapat membantu penonton untuk memutuskan apakah akan menonton video tersebut atau tidak, dan juga membantu pembuatnya untuk menarik lebih banyak penggemar ke channel-nya, serta mendorong penonton untuk menonton videonya. 

Namun, kita semestinya punya tanggung jawab moral terhadap konten yang kita buat.

Konten mulai kacau saat memasuki menit ke-4, di mana Fiersa Besari memberi pernyataan: susah juga ya polemik kayak gitu ya, karena apa akhirnya ekosistem, selalu bertentangan dengan ekonomi.

Pernyataan tersebut muncul saat melihat mobil pengangkut belerang melintas. Perlu diketahui, itu adalah kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) yang sudah diatur perundangan tentang lebar jalan, prosedur pemanfaatan kawasan produksi, dan lainnya. 

Artinya, penambang belerang beserta komponennya adalah legal, dan tidak merusak ekosistem. Itu bukan polemik, namun sudah sebagai hal yang sudah jelas.

Detik-detik krusial lainnya yang menjadi inti pembahasan ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan keamanan dan keselamatan sebuah pendakian malam.

Anda bisa saksikan mulai pada menit 4:31, bisa saja disengaja, ataupun memang benar-benar alami terjadi, di sore yang masih benderang, mereka hampir salah jalur.

Hal ini dapat kita dengar dengan narasi: dan kata si Bapaknya, kalau mau ke welirang ke sana, dan kalau ke Arjuno ke sana

Beruntunglah dia diberitahu oleh bapak penambang yang tadi katanya berpolemik ekosistem tadi.

Berhati-hatilah untuk berbicara di wilayah, di mana kita berstatus sebagai tamu. Walaupun Anda sudah bertiket dan bertetek-bengek lainnya, adalah bijak untuk menghormati kawasan yang bermuatan lokal. Pernyataan itu kalau sampai terdengar mereka, ya siap-siaplah bermasalah.

Kemudian, yang menurut saya fatal, tayangan pada menit 7:43, pada saat mereka akan summit attack pada dini hari tersebut. Mereka itu tidak paham jalur ke puncak Arjuno atau bagaimana? 

Semestinya sekelas Fiersa Bestari, paling tidak, membawa satu orang yang paham jalur pendakian, atau membawa peralatan navigasi yang sangat mudah dibeli dan didapatkan demi keselamatan pendakian.

Keputusan untuk ngikut rombongan lain saat summit attack tidak sepenuhnya merupakan hal yang ideal, dengan memperhatikan ketidaktahuan kita terhadap kemampuan rombongan yang akan diikuti.

Dan itu telah dilakukan oleh rombongan Fiersa Bestari. Mereka berkeputusan ngikut rombongan lain yang kebetulan satu camp area dengannya di Lembah Kijang yang juga sepetinya sama-sama tidak paham jalur.

Bagi yang belum pernah ataupun yang sudah pernah summit attack ke Arjuno, prosedur pertama sebelum mengawali kegiatan adalah menentukan siapa team leader summit-nya. 

Dan itu sepertinya tidak ada, terlihat tidak adanya keputusan krusial, seperti berhenti atau balik kanan ke tempat semula ketika sadar kalau tersesat.

Adalah bijak jika tidak mengorbankan keselamatan tim demi sebuah konten. Sebuah perjalanan yang akan dilakukan harus dipersiapkan dengan matang. Persiapan ini sangat berguna bagi petualang karena akan mengurangi risiko yang mungkin timbul dalam perjalanan.

Menit-menit selanjutnya pada konten tersebut makin mencekam saja. Beberapa kali Fiersa atau yang lainnya menyadari bahwa itu bukan jalur normal pendakian yang berjenis hiking

Fiersa menyadari bahwa jalur tersebut membutuhkan alat bantu semisal tali webbing atau pemasangan anchor untuk sebuah lining track

Pada menit 8:27, ada tambahan narasi horor: kami merasa diintai. Memang koordinat yang mereka lewati adalah koordinat di mana ditemukan mayat korban tersesat beberapa bulan yang lalu, yang saya juga ikut terlibat operasi SAR-nya. 

Entah sengaja atau tidak, konten tersebut otomatis akan menguak luka kepedihan yang terpendam. Mereka yang sengaja atau tak sengaja menyaksikan isi konten, kembali diingatkan peristiwanya. 

Perjalanan mereka yang tiga jam tersebut makin membutuhkan tongkat, tambatan, pegangan, dan bahkan sempat melubangi batu untuk pijakan. Secara logika yang sesadar-sadarnya, mereka semestinya menghentikan pendakian di jalur yang tak normal tersebut. 

Namun, kamera terus menyorot adegan-adegan berbahaya yang tanpa alat pengaman statis tersebut. Bahkan, pada menit 9:26, ada aksi gendong yang tentunya sangat berbahaya tanpa pengaman di trek curam. 

Akhirnya tayangan berakhir dengan satu kata: death end! atau jalan buntu! Itulah akhir narasi konten yang rencananya akan bersambung dirilis. Kasihan mereka yang menjadi korban-korban isi konten, yang bisa jadi mempertaruhkan nyawanya demi sebuah kisah petualangan.

Sudah sangat sering kita mendengar seseorang atau sekelompok orang meninggal dalam suatu petualangan hanya karena manajemen perjalanan yang kurang baik. Akankah menyusul yang lainnya akibat berburu konten?