4 minggu lalu · 69 view · 4 menit baca · Agama 34419_98108.jpg
https://islami.co/fazlur-rahman-dan-abdullah-saeed-dua-akademisi-muslim-modern-dari-asia-selatan/

Kontekstualisasi Pemahaman Al-Qur’an

Mengenal Pemikiran Tafsir Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed

Memasuki abad modern, tepatnya ketika tantangan modernitas turut mempengaruhi pemahaman al-Qur’an, muncul beberapa tokoh pemikir muslim yang mencoba menggeser paradigma berfikir umat muslim, agar pemahaman terhadap al-Qur’an mampu menjawab tantangan-tantangan modernitas tersebut.

Upaya ini di satu sisi tidak lain merupakan respon terhadap penafsiran klasik yang dianggap tidak lagi relevan dengan konteks modern saat ini. Di sisi lain, sekaligus membuktikan bahwa al-Qur’an memang merupakan kitab suci yang akan selalu relevan dengan waktu dan tempat manapun (ālih likulli zamān wa makān).

Di antara tokoh pemikir muslim tersebut ialah Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed. Dua orang ini dikenal sebagai pemikir kontekstualis.

Secara umum, mereka dalam menafsirkan al-Qur’an tidak hanya terpaku pada teks –yang ujung-ujungnya akan menghasilkan pemahaman yang literal-, melainkan mereka juga menganggap penting dan perlu melihat konteks turunnya ayat, sehingga membantu mereka dalam menggali makna dan pesan al-Qur’an.

Rahman dan Saeed mengawali proses penafsiran al-Qur’an dengan terlebih dahulu menegaskan posisi mereka terhadap wahyu. Rahman sendiri memiliki pandangan bahwa wahyu di satu sisi memang merupakan kalam Tuhan, namun pada saat yang sama ia juga merupakan kalam Muhammad.

Sama halnya dengan Saeed, ia juga mengatakan bahwa al-Qur’an memang kalam Tuhan. Namun dalam prosesnya, Nabi Muhammad memiliki peran di dalamnya, sehingga bahasa yang digunakan pun bahasa Arab, bahasa yang digunakan oleh manusia di tempat al-Qur’an turun pada saat itu.

Pandangan mereka tersebut tampak kontroversial karena seolah-olah menganggap al-Qur’an tidak otentik dari Tuhan, melainkan merupakan karya atau karangan Muhammad. Tak heran Rahman pernah dicap kafir oleh masyarakatnya, bahkan diusir dari tempat asalnya, Pakistan, lantaran pandangannya ini.

Padahal, jika dipahami lebih jauh, pandangan mereka tersebut bukanlah bermaksud mengatakan al-Qur’an sebagai karangan Muhammad. Namun, mereka ingin mengatakan bahwa al-Qur’an sangat dekat dengan Nabi Muhammad.

Artinya, mereka ingin menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang erat antara wahyu, Nabi Muhammad dan misi dakwahnya, dengan konteks sosio-historis di mana al-Qur’an diwahyukan. Mereka tentu sangat meyakini bahwa al-Qur’an merupakan ciptaan Tuhan. Namun, agar bisa dipahami oleh manusia, tentu al-Qur’an harus bersentuhan dengan manusia yang menjadi subjek penerimanya.

Dengan pemahaman seperti ini, maka terlihat bahwa konteks sosio-historis merupakan hal yang sangat penting ketika ingin memahami al-Qur’an. Itulah yang menjadi basis penafsiran kontekstual yang ditawarkan oleh Rahman dan Saeed.

Pandangan Rahman dan Saeed ini juga telah menjadi kritik terhadap pandangan klasik terhadap wahyu. Para ulama klasik cenderung memandang wahyu sebagai kalam Tuhan, tanpa menganggap bahwa Nabi Muhammad juga memiliki peran dalam proses pewahyuan tersebut.

Akibatnya, penafsiran klasik mengabaikan konteks sosio-historis al-Qur’an dan berhenti pada penelusuran literalnya saja, sehingga makna yang diperoleh pun akan dianggap sebagai makna yang benar dan tunggal.

Dalam hal ini, Rahman menawarkan sebuah teori yang dikenal dengan teori double-movement (gerak ganda). Teori ini mengharuskan seseorang kembali ke masa lampau, untuk memahami bagaimana konteks sosio-historis turunnya sebuah ayat.

Dengan memahami konteks sosio-historis tersebut, seseorang akan memperoleh ideal moral atau pesan utama dari sebuah ayat al-Qur’an. Lalu, ideal moral inilah yang diambil dan dikontekstualisasikan di masa sekarang.

Sama halnya dengan Rahman, Saeed juga menawarkan sebuah teori yang ia sebut dengan tafsir kontekstual. Di sini, Saeed juga berupaya untuk menggali pesan moral dari al-Qur’an dengan memahami konteks sosi-historis, di samping tentunya memahami aspek teks dari sebuah ayat al-Qur’an. Baginya, al-Qur’an mesti dipahami sebagai teks yang bermakna bagi konteks kekinian.

Seperti ketika menafsirkan QS. An-Nisa ayat 3 tentang poligami. Rahman dan Saeed tidak setuju jika ayat ini dipakai sebagai legitimasi terhadap praktik poligami. Baginya, ideal moral dari ayat ini ialah tentang keadilan.

Hal ini diperoleh dari pemahaman terhadap konteks sosio-historis ketika ayat ini turun, di mana pada saat itu wanita dipandang rendah tak bernilai, laki-laki bebas menikahi wanita semaunya tanpa ada batasan.

Ketika ayat ini turun, maka dibatasilah bahwa laki-laki hanya boleh menikahi wanita hingga empat istri, namun dengan syarat sang suami harus adil. Jika suami tidak mampu untuk berlaku adil, maka diperintahkan agar menikahi satu wanita saja.

Ternyata keadaan ini dijelaskan oleh ayat lain yang mengatakan bahwa laki-laki tidak akan pernah mampu berlaku adil walaupun ia sangat menginginkannya (QS. An-Nisa ayat 129). Dari sini jelas bahwa ayat ini sebenarnya tidak merekomendasikan seorang laki-laki untuk melakukan poligami.

Di samping itu, ayat ini juga turun dalam konteks peperangan, di mana banyak para suami yang mati syahid, sehingga meninggalkan banyak janda dan anak yatim. Dengan demikian, adanya pembatasan menikahi hingga empat wanita dalam ayat ini dapat dipahami sebagai upaya pemberdayaan kaum janda dan anak yatim.

Dengan menikahi para janda tersebut, para laki-laki diharapkan mampu melindungi dan mensejahterakan mereka. Dari sini jelas terdapat illat (alasan) bolehnya menikahi empat wanita, yaitu karena adanya kondisi darurat, di mana para janda dan anak yatim terlantar.

Jika dikontekstualisasikan di zaman sekarang, seseorang hanya diperkenankan poligami jika berada dalam kondisi darurat, sebagai upaya menciptakan keadilan kepada wanita sekaligus dengan niat menjaga dan mensejahterakannya, bukan untuk melecehkan, apalagi menindasnya.