Sosial, ekonomi, dan politik memiliki keterkaitan dalam memberikan sebuah pemahaman dan penafsiran dalam kehidupan. Perkembangan terhadap kehidupan manusia terus berjalan seiring dengan kemajuan pola pikir manusia. 

Konsumerisme dan kapitalisme adalah salah satu bentuk kausalitas yang berkaitan kuat. Sistem sosial dan kebudayaan akan memengaruhi aspek ekonomi karena ada irisan yang kuat untuk menjalani kehidupan yang tak akan pernah jauh dari yang namanya ekonomi. 

Bagaimana relevansi konsumerisme terhadap kapitalisme? Bila kita tilik dari di masa silam, pada awal abad ke-19, peranan kebebasan pasar dibutuhkan untuk menciptakan perkembangan dalam pasar. Peranan sektor produksi dan individual diagungkan pada dinamikan pemikiran liberal.

Sebagai contoh Britaniya Raya pada waktu itu lebih tepatnya di kota Menchester kebakaran jenggot ketika friksi liberalisme diterapkan di kota tersebut. Pergulatan dan benturan terjadi ketika utopia akan kemakmuran dan kesejahteraan tidak bisa terealisasi di menchester.

Pada awalnya di kota Menchester sukses dalam menerapkan paleoliberlism dengan ditandai dinamika perekonomian pada tahun 1789. Penemuan mesin uap yang berpengaruh kuat, dengan dibangunnya beberapa industri tekstil membawa kepada tingkat produksi dan penyerapan tenaga kerja yang masif. 

Analogi perekonomian liberal tentang kemakmuran yang diamati melalui kuantitatif, melupakan aspek moralitas yang berhubungan dengan kualitatif sehingga membawa benturan yang mengakibatkan penderitaan karena ketimpangan yang kuat di Menchester yang mengantarkan untuk ahli ekonomi agar menarik diri dari liberalisme di Menchester.

Kepercayaan terhadap liberalisme mengalami penurunan ketika dunia dihadapkan dengan depresi besar pada tahun 1930. Perihal inilah yang menciptakan situasi menambah keruh terhadap sistem liberal. Lalu bagaimana untuk era sekarang?

Karl Polanyi (1886-1964) dalam bukunya yang berjudul Tranformasi Besar menjabarkan perkembangan liberalisme yang begitu dinamis. Dimulai dari penciptaan produksi berskala kecil hingga kepada tataran industrialisasi yang begitu masif menciptakan berfariatifnya pasar seperti; pasar properti dan pasar tenaga kerja. 

Menciptakan pasar yang bergitu bervariatif memengaruhi perubahan tatanan sosial untuk membangun diri berdasarkan apa yang pasar butuhkan. bervariatifnya pasar akan mempengaruhi kondisi sosial dalam masalah konsumsi.

Kemajuan teknologi yang dengan mudah memberikan ruang yang saling berkaitan memperkuat para kapitalis dalam membangun relasi yang superkuat bagi produk yang akan mereka sampaikan.

Media masa yang terus berkembang sering dijadikan alat untuk menyampaikan trend, lifestyle ataupun penokohan dengan harap konsumen bisa meniru dan terjebak kedalam sebuah simulakra.

Terpengaruhnya konsumen terhadap penyampaian simulakra dalam media, memberikan efek yang kuat secara psikis sehingga mereka digiring untuk meniru seperti apa yang pasar konstruk melalui media. 

Tak heran, banyak sekali masyarakat yang rela menggelontorkan uang mereka berjuta-juta guna mendapatkan pengakuan ketika mereka mampu membeli produk yang sama denga tokoh yang terpampang dalam media ataupun tokoh film tertentu. 

Pengelolan modal dengan tujuan keuntungan membawa pengaruh kepada munculnya pertarungan antar kapitalis untuk mendapatkan segmen pasar sekuat mungkin. Kuatnya konsumerisme masa adalah dambaan para kapital untuk mendapatkan sebuah keuntungan. Apa saja faktornya? Mari kita dedah!

Konsumerisme Masa

kita hidup sudah berada pada tatanan dan konsep postmodernisme. Masyarakat postmodernis memandang konsumsi di luar dari kepentingan yang esensialis seperti kegunaan konsumsi untuk kepentingan makan dan minum untuk kelangsungan hidup mereka.

Corak pola pikir masyarakat postmodern bisa dikatakan sangatlah kompleks. Mereka mengonsumsi bukan karena faktor esensialis semata, melainkan ada beberapa faktor seperti kebutuhan untuk dihargai yang mengarah kepada penampilan yang terbilang empiris -Lifestyle.

Kondisi terkini dengan diadakannya sebuah diskon besar-besaran untuk menarik konsumen, membawa pengaruh yang kuat bagi tingkat konsumsi masyarakat. produk yang ditawarkan oleh provider jual beli, akan terpantik untuk membeli sebuah barang walaupun di luar dari kebutuhan yang sebenarnya dibutuhkan.

Menurut Jones, (2009) menyingung terkait dengan cara kerja produksi bahwasannya jalan konsumsi masyarakat postmodernitas lebih ditujukan kepada identitas diri mereka dalam mengkonsumsi suatu produk tertentu. 

Kebudayaan berpengaruh terhadap pola pikir manusia untuk perihal konsumsi. Salah toko Frankfurt, Adorno, beliau mendedah pengaruh kapitalisme yang memengaruhi kondisi kebudayaan yang akan membawa kepada penyebab tingginya konsumerisme. 

Corak kebudayaan yang sering diproduksi oleh produsen untuk menyampaikan produknya agar dibeli konsumen sering digunakan secara gencar agar meningkatnya tingkat konsumsi. 

Mazhab frankfurt mengkritik terhadap perilaku para kapitalis yang menggunakan industri budaya untuk membangun kesadaran mereka untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan palsu mereka. 

Perpaduan antara sisi empirisme yang kian mengarah kepada kemajuan, membangkitkan sebuah ghirah tersendiri bagi para target konsumen untuk bisa meniru sesuai apa yang di branding oleh konsumen. Faktor apa yang memengaruhi?

Adorno dan Horkheimer (1979) membaca tingkah kapitalis dengan mulai membangun sebuah hubungan kebudyaan -Industri budaya, terhadap produk yang disampaikan melalui bantuan media massa. Media di tengah kehidupan yang ingar bingar, mudah sekali untuk diakses ataupun digunakan. 

Industri budaya digambarkan sebagai penetrasi unsur kebudayaan dari dalam maupun dari luar negeri sebagai sebuah patron ataupun grand design dalam pergulatan penampilan di era yang serbamaya ini. Kerja sama dengan artis terkenal sering terjadi dalam membrainwash para konsumen. 

Industri budaya memiliki beberapa intrik yang dapat memengaruhi konsumen secara massal. Jean P. Baudrilard mengklasifikasikan beberapa aspek penyebab konsumen terpengaruh dengan apa yang disampaikan para kapitalis untuk membeli barang yang mereka buat. 

Pertama, kondisi fisik manusia. Konstruk di dalam media sering memaparkan bagaimana tingkah laku aktor untuk berpenampilan superbening untuk tujuan total sempurna guna memberikan pengaruh psikologis. Pengaruh ini juga akan berkaitan dengan munculnya kritik feminisme bagaimana kecantikan dijadikan sebagai komoditas yang dapat mendiskreditkan gender tertentu. 

Kedua, seksualitas. Relasi antara kondisi fisik dan seksualitas memiliki sebuah irisan yang lumayan kuat. Di era modern ini, seksualitas parahnya menjadi sebuah komoditas dan pemuas yang tidak ditutup-tutupi lagi.

Parahnya, kategori seksualitas dijadikan sebagai tolok ukur yang fatalis. Perubahan kondisi di mana konsumsi lebih dibutuhkan untuk pengakuan, beberapa konsumen terpaksa agar mereka menjadi seperti yang pasar inginkan. 

Beberapa provider jual beli sudah melakukan apa yang disampaikan J. P Baudrilard dengan mengkolaborasikan interest algoritma masyarakat Indonesia pada umumnya untuk dijadikan sebagai grand design dalam mendapatkan eksistensi para konsumen -Patronase pasar terhadap tokoh-tokoh Korea.

Kapitalisme menang?

Sekali lagi, kepiawaian kapitalisme dalam bermanuver dan menyesuaikan diri terhadap kondisi sosial demi kepentingan mereka menjadi sebuah kekuatan yang kadang merabunkan letak kronis dari efek kapitalisme. 

Prinsip dari bergulatnya para kapitalis menciptakan sebuah dua gambaran yang bertolak belakang, antara kemakmuran dan penghisapan bagi sumber daya alam yang menjadi target eksploitasi. 

Perdebatan tentang pentingnya kapitalisme disampaikan oleh tokoh ekonomi fenomenal Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nation. Adam Smith mendukung dengan serius untuk peranan total Individu tanpa ada tekanan ataupun pengaruh penguasa dalam kehidupan sosial. 

Beliau beranggapan bahwasanya peranan individu akan mengantarkan kepada kebebasan dalam berkarya yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan perekonomian.

Namun, kehidupan yang tidak melulu kepada aspek keuntungan semata, Melainkan ada beberapa subbagian yang saling berkaitan, seperti kebudayaan dan hubungan sosial. Melalui inilah harus ada cara pikir filosofis dalam memahami realisme semu yang ditawarkan. 

Karl Marx sebagai penentang ulung pemikiran Adam Smith memberikan karya Das Capital sebagai sebuah bentuk kritikan pedas dalam memahami dan menciptakan kehidupan yang lebih dalam memandang seperti aspek kebudayaan dalam lingkup sosial. 

Salah satu yang kritik terhadap liberalisme ketika aspek kebudayaan yang memengaruhi sosial akan terusik yang mengantarkan penalaran kritis masyarakat karena terusiknya kebudayaan komparatif yang masyarakat miliki. 

Tidak hanya itu, Marx juga menyinggung secara dalam salah satunya tentang alam yang menjadi sebuah bagian dari manusia diibaratkan adalah salah satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan.

Kekronisan kapitalisme dengan terfokusnya kepada keuntungan dan keuntungan akan menimbulkan kepada eksploitasi yang menomorduakan terhadap kelestarian lingkungan. Sebagaimana tersirat dalam Economic and philosophy Manuscripts, Karl Marx menyatakan:

Alam adalah tubuh anargonik manusia -alam, yaitu bukan merupak tubuh manusia itu sendiri. "Manusia hidup di alam" berarti bahwa alam adalah tubuhnya, yang harus ditinggalinya dalam suatu hubungan yang terus menerus jika di tidak mati.

Gambaran ini menggugah kita secara seksama bahwasanya alam dan produk alam -kebudayaan, tidak bisa kita pisahkan. Apabila ada efek yang berani ataupun mengusik alam itu sendiri, secara simultan nalar kritis manusia akan bergerak dan menghantam kebatilan efek negatif kapitalisme. 

Gambaran terkini munculnya dekandensi moral yang mulai jauh dari budaya agung bangsa Indonesia. Diakibatkan oleh gencaran produk kapital yang tidak dibentengi dengan strategi matang terhadap moralitas yang kokoh. 

Manuver kapitalisme sudah tidak lagi seperti yang disampaikan oleh Lenin, yang kentara dengan monopoli dengan karakter rakus. Kapitalisme sudah berkembang dengan lebih apik, lembut dan halus, sehingga tak sedikit yang selamat dari jebakannya.

Seperti halnya penyedia layanan joget gratis, dianggap sepele bagi masyarakat. Akan tetapi bila kita amati dari perspektif kebudayaan, sangat berbenturan dengan aspek kesopanan dan kebijaksanaan dalam berperilaku. 

Moralitas yang kokoh bisa diatasi melalui penguatan kebudayaan untuk membendung dan menghindari matinya nalar terhadap produk negatif kapitalis. Begitu juga dengan perihal konsumerisme. Apabila tidak dibekali dengan benteng moralitas yang kuat, maka akan terjungkal mereka dan memenangkan para kapital.