Pria itu ga boleh masak?! Wanita itu ga perlu sekolah?!

Kata-kata di atas adalah contoh betapa menyebalkannya konstruksi sosial terhadap peran pria dan wanita masyarakat. Coba lihat deh, memang pria tidak boleh nangis? Memang hak untuk sedih ditentukan oleh jenis kelamin? 

Padahal, setiap orang tidak punya kekuatan yang sama dalam menanggung beban, baik pria maupun wanita. Ada yang dibentak sedikit sudah nangis deras dan ada juga yang baru pakai kekerasan baru juga Ia bisa sedih. Secara singkat, standar setiap orang itu berbeda-beda.

Konstruksi sosial, mudahnya, adalah pandangan sosial mengenai hal tertentu dan terbentuk dari proses interaksi sosial secara terus-menerus sehingga menjadi nilai tertentu di masyarakat . Contoh hasil dari konstruksi sosial dapat dilihat dari banyak hal, di antaranya adalah konsep gender.

Gender : Maskulin dan Feminin

Konsep gender ini menciptakan istilah yang cukup familiar di masyarakat, yakni maskulin dan feminin. Namun, banyak di antara masyarakat yang masih mengalami miskonsepsi mengenai masalah ini. Masih banyak orang yang menganggap bahwa maskulin = pria dan feminim = wanita. Padahal, konsep gender itu tidak sesederhana melihat apa jenis kelamin yang dimiliki.

Konsep gender mempunyai perbedaan dengan konsep seks. Konsep gender memiliki sifat nurtur, yakni dibentuk oleh faktor-faktor sosial dan budaya masyarakat. Gender adalah kata yang digunakan untuk membedakan pria dan wanita dari aspek sosial. Gender dilihat sebagai atribut dan perilaku yang dibentuk oleh konstruksi sosial (Rosyidah & Nurwati, 2019).

Menyamakan gender dengan seks adalah pandangan yang sangat menyebalkan. Pandangan seperti ini seperti memberikan sekat dalam keharusan pria dan wanita harus bertindak. Misalnya, pandangan yang menyatakan bahwa pria tidak perlu mengerti urusan dapur. 

Pandangan ini sangat bias karena, seharusnya, kemampuan untuk berada di “dapur” adalah hal dasar yang harus dikuasai oleh semua orang agar bisa bertahan hidup di dunia. Apakah bisa hanya mengandalkan orang lain untuk urusan dapur?

Selain itu, pandangan bahwa wanita tidak boleh berpendidikan tinggi. Pendidikan adalah hak semua manusia, terlepas dari jenis kelaminnya. Tujuan pendidikan bukan untuk mencerdaskanpria , melainkan untuk membangun peradaban. Padahal, sudah diketahui bahwa kecerdasan seorang anak itu turunan dari ibu sehingga ada korelasi pendidikan yang baik di wanita dengan keturunan yang baik pula.

Pandangan-pandangan ini seharusnya sudah tidak ada di zaman yang modern seperti ini. Gender tidak identik dengan seks. Pria belum tentu maskulin dan wanita belum tentu feminim. Cara berpakaian, hobi, dan cara bertingkah laku merupakan bagian dari cara seseorang mengekspresikan diri. Hal ini tidak berkaitan dengan jenis kelamin tertentu.

Konstruksi Sosial dan Miskonsepsi Masyarakat

Pandangan yang konvensional selalu menggambarkan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, rentan, dan tidak mampu melindungi diri dari kekerasan, terutama kekerasan pria. Oleh karena itu, wanita selalu diharapkan untuk menjadi takut, selalu berjaga-jaga, dan mengandalkan pria untuk melindunginya dari bahaya (Hollander, 2002).

Hal di atas menunjukkan bahwa konstruksi sosial telah membentuk persepsi yang keliru, yakni wanita selalu digambarkan menjadi mahluk yang rentan bahaya. Padahal, bahaya itu tidak mengenal jenis kelamin, baik pria maupun wanita. Bagi saya, hal ini cukup menyebalkan karena ibu saya, yang telah mengandung dan melahirkan saya, dianggap sebagai mahluk yang lemah. 

Bagaimana bisa wanita dianggap lemah, padahal di dalam hidupnya harus merasakan sakit yang luar biasa—yang tidak akan dirasakan oleh pria.

Begitu pula yang dialami oleh para pria. Masyarakat selalu menggambarkan bahwa pria adalah mahluk yang kuat, berwibawa, dan mampu memimpin. Pria diharuskan untuk kuat dalam menghadapi masalah, tidak boleh mengeluh, apalagi menangis. Menurut saya, pandangan ini cukup blingsek karena sejak kapan sedih menjadi identik dengan wanita saja?

Sedih merupakan hak segala manusia! Laki-laki bukan pahlawan super yang mampu menahan semua beban kesedihan, apalagi kesedihan yang disebabkan oleh menghilangnya kekasih yang tersayang.

Kesimpulan

Konstruksi sosial telah menciptakan sebuah miskonsepsi mengenai peran pria dan wanita di masyarakat. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal, namun harus dilakukan hanya berdasarkan jenis kelamin yang dimiliki. Maskulinitas dan Feminimitas bukan sesederhana pria dan wanita, melainkan hasil dari proses sosiokultural di masyarakat.

Pandangan bahwa pria harus maskulin dan wanita harus feminim merupakan hal yang sesat. Kita tidak bisa mengatur bagaimana seseorang berperilaku. Setiap orang memiliki standar yang berbeda-beda mengenai hal tertentu, seperti kata Cicero mengenai enam kesalahan yang sering dilakukan oleh manusia setiap zaman, yakni salah satunya adalah selalu memaksakan orang lain untuk berperilaku atau berpikir sama dengan cara kita.

Sungguh aneh ketika membatasi sesuatu yang abstrak, tetapi menggunakan parameter yang mutlak. Begitu halnya dengan konstruksi sosial dan gender yang ada di masyarakat. Maskulin dan feminim tidak sama dengan konsep jenis kelamin. 

Redukasi sangat perlu dilakukan agar pemikiran masyarakat lebih terbuka sehingga dapat terwujud suatu masyarakat yang menghargai sesama. Dunia sudah terlalu rusak, kita tidak perlu menambahkannya lagi hanya dengan pandangan sekonyol ini.

Tinjauan Pustaka 

Andhini, N. F. (2017). KONTRUKSI REALITAS SOSIAL PEREMPUAN TENTANG GENDER DALAM PEMBENTUKAN KARAKTERISTIK ANAK TERHADAP PEMAHAMAN GENDER. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Hasan, B., Dan, G., Adilan, K., Massa, M., & Kunci, K. (2019). GENDER DAN KETIDAK ADILAN. Jurnal Signal, 7(1), 63–86.

Hollander, J. A. (2002). Resisting vulnerability: The social reconstruction of gender in interaction. Social Problems, 49(4), 474–496. https://doi.org/10.1525/sp.2002.49.4.474

Rosyidah, F. N., & Nurwati, N. (2019). Gender dan Stereotipe: Konstruksi Realitas dalam Media Sosial Instagram. Share : Social Work Journal, 9(1), 10. https://doi.org/10.24198/share.v9i1.19691