Ada pendapat yang mengatakan “Tidak tahu wali, kecuali wali” mungkin bisa saja benar, karena pencapaian spiritual itu hanya Tuhan dan hamba-Nya yang tahu. Seperti halnya cerita Ratatulle, film Prancis yang tokohnya mengatakan bahwa semua orang bisa memasak, tapi tidak semua orang bisa menjadi koki. 

Ibarat kata, walau, seseorang telah melakukan banyak  laku dan  tapa spiritual,  namun,  Tuhan  sendirilah  yang  menjadi pemberi dan penentu apakah orang tersebut bisa menjadi walinya atau tidak. Maka, tidak semua bisa menjadi wali karena kedekatan spiritualnya dengan Tuhan.

Dalam buku Imam Lapeo, Wali Dari Mandar, Sulawesi Barat (2020) tertulis bahwa di Sulawesi, konsep wali terbentuk dari kesepahaman dalam masyarakat, mereka mempersepsikan wali sebagai sosok yang memiliki kelebihan. Mereka tidak mengadopsi konsep wali seperti di Jawa yang merupakan penyebar agama Islam karena wali di Sulawesi memiliki peran yang berbeda-beda (hal. 70).

Bagi orang Mandar, Sulawesi Barat wali dikatakan sebagai seseorang yang dihormati, disegani, dan menjadi panutan karena memberi inspirasi dan spirit dalam kehidupan masyarakat Mandar.   Mereka lebih melihat kepada kemampuan individu yang tergambar melalui karakter seseorang yang disebut sebagai wali (hal.71).

Seperti Imam Lapeo (1839-1952) yang dianggap sebagai wali. Beliau mempunyai pemahaman agama yang berbanding lurus dengan kemampuan individualnya. Persepsi kosmologi masyarakat tentang kehidupan cenderung mengarah kepada kuasa transeden sehingga tidak aneh jika muncul figur-figur personal yang dianggap sebagai wakil Tuhan (wali).

Berbicara tentang wali Imam Lapeo, konstruksi kewalian Imam Lapeo “terbentuk” karena tujuh (7) hal yaitu; Pertama, Sakralisasi kewalian tercermin dari silsilah. Chambert-Loir dan Guillot (2010: 3) mendefinisikan Wali sebagai pewaris spiritual Nabi. para wali mempunyai garis keturunan sendiri yang khas karena bersifat spiritual. 

Imam Lapeo dikatakan mempunyai kakek yang bernama Al Adiy, atau Guru Ga’de, yang sanadnya bersambung sampai Sunan Gresik atau yang dikenal sebagai kakek Bantal (hal. 73-74).

Kedua, dianggap punya keunggulan pengetahuan yang luar biasa. annanngguru sebagai tokoh agama mempunyai peranan penting dan ketinggian spiritual. Kembali ke teori Chambert- Loir dan Guillot (2010: 3) bahwa wali sebagai pewaris spiritual nabi, wali mendapatkan warisan pemikiran, keilmuan, dan kepribadian dari Nabi. 

Imam Lapeo bukan hanya seorang ahli agama atau mahaguru (annangguru) tetapi juga merupakan guru spiritual bersama, annangguru yang memberikan spirit dalam kehidupan karena beliau juga guru kehidupan masyarakat, guru daerah bangsa Mandar  dan Sulawesi yang menjadi panutan (74-75).

Ketiga, dianggap dapat berperan sebagai perantara dengan Tuhan. Imam Lapeo dianggap dapat berperan sebagai perantara antara Tuhan dan masyarakat. Valdinoci (2009: 223) menulis bahwa wali mempunyai peranan sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan karena wali dapat menyampaikan permohonan mereka ke Tuhan. 

Gelar-gelar dibawah ini berhubungan dengan peran Imam Lapeo sebagai perantara antara Tuhan dan masyarakat baik secara batiniah maupun lahiriah yaitu:  To salama, To mabarrakka, To makarra, (To) Lambi, (To) Rape lau di Puang (Allah Taala’), dan (To) Panrita (hal. 77).

Keempat, mempunyai kemampuan luar biasa yaitu karamah dalam mitologi. Chamber- Loir dan Gulliot (2010: 5) menulis tentang manakib sang wali. Dalam artian hagiologi atau riwayat hidup wali menjadi pelaku  impian-impian  yang  paling  luar  biasa dari masyarakat, menurut legendanya dia melakukan perbuatan yang melampaui akal dan nalar manusia yang tidak mempunyai aturan sosial dan alamiah. Ini tergambarkan dalam mitologi Imam Lapeo. 

Mitos merupakan legitimasi kekuasaan. Karakter tokoh atau seorang figur dalam masyarakat sering bercampur dengan keberadaan mitos-mitos yang menyertainya sehingga tokoh itu menjadi seseorang yang hebat karena disakralkan.

Wali yang diyakini merupakan “Manusia setengah Dewa” atau bahkan bukan manusia sekalipun, melampaui batas kemanusiaan. Masyarakat memberi gelar wali kepada Imam Lapeo karena diyakini bukti-bukti kewalian pada diri beliau, yang luar biasa. Masyarakat meyakini karamah yang dimiliki Imam Lapeo seperti diceritakan di sub-bab mitologi Imam Lapeo. Kelebihan beliau dibanding dengan awam masih dipercaya hingga saat ini.

Kelima, mempunyai “power” luar biasa untuk memobilisasi, membentuk tarekat. Kedekatan dengan Tuhan dapat dilihat melalui tarekat. Seseorang yang menjadi Wali biasanya mempunyai tarekat karena dia (wali) telah melewati syariat, lalu tarekat, kemudian hakikat, dan terakhir makrifat. 

Oleh sebab itu, terdapat dua macam wali yaitu wali berdasarkan wilayah dakwahnya dan wali mursyid (guru pembimbing spiritual, tarekat). Imam Lapeo dianggap sebagai wali yang mempunyai “power” luar biasa untuk memobilisasi masyarakat (membentuk tarekat).

Banyak pendapat yang mengatakan tentang tarekat Imam Lapeo, tapi berbeda-beda versi mulai dari tarekat sebagai jalan menuju Tuhan, diantaranya, sirr, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, Syadziliah hingga Muhammadiyah (hal. 102).

Keenam, mempunyai kelebihan dan kebajikan dalam karakter. Masyarakat memuja wali karena mengharapkan dia menjadi pelindung masyarakat dan wali dikenali selama hidupnya. Kalanov dan Alonso (2008: 175) juga menulis bahwa wali dikenali semasa hidupnya. Wali mempunyai kelebihan dan kebajikan. 

Hal ini terungkap dalam biografi Imam Lapeo yang berhubungan dengan karakter Imam Lapeo sebagai seorang wali, seperti halnya Nabi Muhammad SAW, yang mempunyai karakter atau akhlak yang baik (siddiq/benar, amanah/jujur, fatonah/pandai,   tabligh/menyampaikan)   sehingga   Nabi   SAW   dipercaya   mampu   menjadi pemimpin agama dan masyarakat (hal.105).

Mengetahui siapa Imam Lapeo, dapat tergambar dari sejarah kehidupannya, pendidikan yang ditempuhnya, dakwahnya, maupun kematiannya. Imam Lapeo adalah tokoh yang semasa hidupnya diakui sebagai sosok yang memiliki kharisma luar biasa dan memiliki karakter yang menonjol dalam pengetahuan agama dan dunia (kesalehan sosial) sehingga yang menjadi inti adalah   perilaku.

Dalam  kehidupannya,   Imam  Lapeo   mempunyai  karakter-karakter   yang menjadikannya sebagai pemimpin, inovator, motivator, negosiator, dan visioner. Unsur yang jarang terdapat pada orang kebanyakan (hal. 105).

Ketujuh, menurut Kalanov dan Alonso (2008: 175) masyarakat memuja kepada wali atau orang sakral ini karena menjadi pelindung dalam masyarakat. Kekasih Allah dapat dikenali semasa hidupnya dan setelah dia meninggal, makamnya yang besar menjadi tempat keramat, tempat peziarahan, dan menjadi identitas sebuah masyarakat. 

Hal ini terlihat dalam artikulasi peziarah terhadap Imam Lapeo. Imam Lapeo dianggap punya pengaruh melampaui masanya karena masyarakat mengartikulasikannya dalam bentuk foto, sedekah, dan menyebut nama Imam Lapeo. Selain itu, masyarakat juga mengartikulasikan kewalian Imam Lape dalam “kehadiran” beliau yang sering muncul di masjid, Masjid Orobatu dan Timbu (hal.110).

Buku ini memiliki lima bagian, bagian pertama sampai pada yang terakhir merupakan bagian yang tak terpisahkan. Buku ini merupakan hasil dari tesis sehingga diawal sudah mengajak pembaca untuk “belajar” mengkaji dengan mengetahui latar belakang dan lingkup kajian buku, penelitian terdahulu, teori dan metedologi. Di bagian lain menuliskan tentang biografi Imam Lapeo, konstruksi Imam Lapeo, ziarah ke Imam Lapeo, dan penutup.

Buku  ini telah  diantarkan  untuk  mengetahui sosok  wali kepada pembaca bagaimana melihat fenomena wali di Sulawesi umumnya, di Mandar, Sulawesi Barat khususnya.  Mari mendekati Tuhan dan menjadi teman dekatnnya.

Zuhriah, Imam Lapeo, Wali Dari Mandar, Sulawesi Barat. Yogyakarta: Gading, Januari, 2020, 177 halaman, ISBN: 978-623-7177-22-7.