Kongres XXI Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menjadi perdebatan dalam opini di kalangan kader dan alumni. Kongres yang dilaksanakan di Kota Ambon, mulai pada 28 November-3 Desember 2019, memiliki tema "Mempertegas posisi kedaulatan maritim indonesia untuk kepentingan nasional berbasis kepulaun berdasarkan Pancasila". 

Dalam dinamika kongres sangat antusias karena kader membawa kepentingan yang dilakukan dalam kongres tersebut. Sehingga suasana forum yang terjadi di kongres tidak bisa dikendalikan. Dengan mengakibatkan pelaksanaan kongres tidak sesuai yang direncanakan secara bersama-sama.

Konflik di kongres Gerakan Mahasiswa Masional Indonesia menjadi masalah serius. Kongres GMNI dilaksanakan menjadi dua tempat, yaitu tetap melaksanakan kongres di Gedung Kristiani Center. Sedangkan perpindahan tempat dilakukan di Aula Hotel Amaris dikarenakan suasana forum tidak kondusif lagi di Gedung Kristiani Center. Sehingga perpindahan tempat untuk menghindari terjadi yang tidak diinginkan dalam forum kongres.

Namun kongres di tahun 2019 mengalami konflik yang serius sehingga munculnya dualisme kepemimpinan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI yang sudah mendeklarasikan sebagai pemenang dalam kongres di Ambon.

Jika mengamati dinamika kongres GMNI tahun kali ini, saya berpendapat bahwa mereka hanya ingin merebut kekuasaan yang tertinggi dalam pengurusan Dewan pimpinan pusat untuk menduduki Sekret DPP di Jakarta. 

Menjalankan haluan GMNI sebenarnya dalam perjuangan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia itulah keinginan bersama. Apalagi anggota harus menjalankan pemikiran Soekarno sebagai pendiri organisasi GMNI, dengan memperjuangkan nasib kaum marhaen yang sedang mengalami berbagai penderitaan dalam kehidupan bermasyarakat sosial.

Perlu dicermati secara saksama bahwa GMNI sesuai dengan AD-ART adalah organisasi yang independensi dan organisasi mahasiswa yang progresif dan revolusioner dalam memelopori perjuangan hak-hak rakyat. Dalam melawan berbagai bentuk penindasan terhadap rakyat yang dilakukan sistem kapitalisme, imperalisme, kolonialisme, feodalisme, dan termasuk oligarki yang menduduki kekuasaaan sekarang.

Pada dasarnya, kongres diikuti beberapa Dewan Pengurus Cabang, Dewan Pengurus Daerah yang definitif, dan Dewan Pengurus Cabang, Dewan Pengurus Daerah Caretaker. Dengan Kehadiran mereka supaya menyusun secara bersama wacana dalam mewujudkan GMNI yang benar-benar memperjuangkan hak rakyat. Asas marhaenisme sangat penting dijalankan dengan komitmen dan konsisten dalam memelopori perjuangan. 

Wadah kongres tidak diinginkan adanya kepentingan individualis saja dan intervensi dari alumni dalam mengendalikan pergerakan. Karena organisasi ini memiliki haluan yang berasas marhaenisme dalam perjuangan. 

Tapi sangat memalukan bagi saya ketika kongres sekadar ingin merebut kekuasaan saja. Dan memikirkan gagasan perjuangan yang harus dilaksanakan secara bersama dalam menyikapi tatangan zaman sekarang.

Apalagi persoalan-persoalan yang selalu muncul dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Kita menyadari, dalam memperangi kemiskinan yang makin terjadi dalam kehidupan sosial, maka persatuan perjuangan harus diwujudkan dalam melawan ketimpangan sosial.

Jika mengutip pernyataan Juliari P Batubara selaku Menteri Sosial Republik Indonesia pada saat memberikan sambutan di kongres XXI Kemaritiman GMN, di Ambon, Kamis (28/112019). Dengan mengajak anggota dan pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dalam merumuskan langkah bagaimana memberantas kemiskinan. GMNI bisa bertindak nyata dalam memerangi kemiskinan.

Kemiskinan menjadi akar permasalahan dalam kehidupan. Masalah kemiskinan menjadi persoalan yang krusial diselesaikan secara tuntas. GMNI dapat bergerak dengan cepat dalam melawan kemiskinan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam membela rakyat kecil seperti petani miskin, buruh miskin, pedagang kecil dan kaum melarat di Indonesia dapat menggunakan asas marhaenisme sebagai pedoman dalam perjuangan. Sehingga mampu membaca kondisi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Seperti Soekarno berkata; Menaklukkan ribuan manusia mungkin tidak disebut pemenang, tapi bisa menaklukkan diri sendiri disebut penakluk yang berlian.

Bahwa GMNI memiliki independensi dalam mengutamakan perjuangan nasib rakyat sesuai muatan AD-ART sehingga bisa mewujudkan cita-cita kesejahteraan rakyat Indonesia.

Menarik juga pernyataan dari Ketua Alumni Umum Persatuan Alumni (PA) Ahmad Basarah saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Kongres XXI Kemaritman. Sangat menegaskan bahwa di era milenial saat ini, organisasi GMNI banyak melahirkan intelektual-intelektual Soekarno yang memberikan nilai manfaat bagi bangsa dan negara Republik Indonesia.

Organisasi GMNI terus melaksanakan rekrutmen kaderisasi sehingga lahirlah generasi intelektual intelektual Soekarno yang baru pasca 60-an hingga era milenial saat ini.

Saya sangat mengharapkan selesai Kongres XXI GMNI kemarin di Gedung Kristiani Center dengan Aula Hotel Amaris. Kader Gmni harus menyatukan gagasan dan tindakan lagi. Karena tujuan perjuangan kita sama untuk memwujudkan keadilan dan kemakmuran sebenarnya.

GMNI memiliki alat perjuangan dalam menyelamatkan nasib kaum melarat dan harus menemukan jati dirinya dengan memiliki jiwa nasionalis dan berwatak kerakyatan.

Dengan tujuan GMNI mendidik kader bangsa dalam mewujudkan masyarakat Pancasila sesuai diamanatkan UUD 1945 yang sejatinya. Dan kaum marhaen dapat diselamatkan dari bencana kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan terhindar dari berbagai bentuk penindasan yang ada.