Hari ini adalah hari pertama aku memulai kuliah untuk semester duaku. Senang rasanya bisa mencicipi semester genap ini setelah enam bulan sebelumya aku harus berjuang mati-matian untuk tidak mengulang beberapa mata kuliah di semester depan. 

Untungnya, beberapa kawan karibku tak begitu keberatan dalam hal berbagi contekan demi masa depan yang gemilang.

Selain itu, aku juga mempunyai sahabat karib lainnya. Namanya Salma. Gadis keras kepala dengan IQ yang melampaui batas rata-rata otak manusia pada umumnya adalah sosok yang manis pada dasarnya. 

Hanya saja, penampilan yang sederhana namun urakan serta mulut yang tak berhenti bicara membuat orang mengira dia pria yang manis. Aku pun begitu.

Tak ada batasan usia apalagi jenis kelamin yang menjadi sekat baginya dalam memilah jenis teman yang dia suka. Selama sikap dan tutur kata terkorelasi dengan baik, selama itu dia berdaulat. 

Aku sendiri sudah dianggapnya sebagai saudara tiri, sesekali teman angkat. Begitulah jika dia sedang berada pada fase ketidakwarasannya.

Aku senang menghabiskan banyak waktu bersamanya. Sesekali, dia mengajakku ke kantin kampus untuk ditraktir sarapan. Pernah juga dia memaksaku untuk menemaninya BAB di toilet kampus - yang baunya super busuk - oleh karena takut sendirian dan tak ada teman ngobrol, katanya. 

Ya, aku iyakan saja. Lagian, mana bisa aku bernafsu sama gadis urakan seperti dia.

Gadis seperti Salma, menurutku, sangat susah untuk jatuh cinta. Pernah, dulu, dia menjalin hubungan dekat dengan seorang lelaki yang baru-baru dia kenal lewat sosial media. 

Pada kencan pertamanya di sebuah resto, dia lebih memilih memesan kopi hitam sebagai menu pembuka. Tak sampai dua hari, laki-laki itupun hilang kabar dan tak mau menemuinya lagi.

Parahnya, tak satupun dari kisah suram berbalut komedi itu pernah membekas di hatinya. Seolah itu hanyalah praktikum dan bahan observasi dari tugas mata kuliahnya. 

Di satu sisi, aku memang menyayangkan keluguannya tentang caranya menanggapi rasa suka. Di sisi lain, aku mengagumi keapaadaannya. Seperti ada sesuatu yang tak dimiliki banyak orang dalam dirinya.

Di pertengahan semester, pernah sesekali, Salma tiba-tiba menceritakan tentang satu-satunya lelaki yang sampai sekarang dia masih tunggu. Katanya, laki-laki itu adalah teman masa kecilnya. 

Mereka terpisah sewaktu SMA oleh perbedaan cita-cita yang akan mereka tapaki. Lelaki itu pindah ke Jogja untuk menjalani masa  SMA-nya di sana.

Kata Salma, semasa mereka masih menjadi teman bermain, dia tak jarang dibikin manja, dibuatnya tertawa, dijaganya, hingga semua menjelma suka. Hanya saja, mereka masih canggung untuk lebih tahu-menahu perihal rasa oleh sebab keterbatasan usia. 

Bagi Salma, raga boleh beranjak pergi. Namun, perasaan tetap dikebumikan pada satu hati.

Sesaat sebelum keterpisahan, mereka saling menyematkan ikrar untuk sama-sama saling menunggu pulang. Dua tahun kemudian, mereka sama-sama hilang kabar. Seperti saling mengasingkan. 

Tapi, Salma, lebih memilih untuk tidak melupakan ikrar yang sudah usang. Ada doa yang tak pernah lupa ia sematkan sembari berharap lelaki itu pun demikian.

Aku semakin kagum dengan sosok Salma. Ditengah keurakannya, dia memendam setia yang begitu lama. Aku sempat berfikir itu hanya candaan belaka. 

Tetapi, butiran air yang keluar dari pelupuk matanya mengharuskanku percaya. Tangisan itu membuat aura anggunnya sebagai seorang gadis keluar. Aku menenangkannya.

Sebagai seorang gadis yang kuat, dia tentu tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Itu hanya akan menurunkan kewibawaannya sebagai seorang gadis tomboy kelas kakap, katanya. Dia pun bergegas mengambil beberapa modul yang kemudian dilemparkannya kepadaku.

Sudahlah. Kita diskusi saja.” Suaranya yang masih mencoba menahan tangis yang terdengar lirih. Aku menyenyuminya. Mana mungkin dia bisa fokus belajar di tengah ingatan masa suram yang tak mau hengkang?

Kamu gak sadar, ya? Mukamu lucu kalok lagi nangis. Aku bukannya ikut sedih, malah nahan ketawa.” Aku mencandainya sebagai bentuk hiburan.

Anjir! Aku tadi becanda doank, kok. Hatimu aja yang terlalu serius kalok nanggepin sesuatu. Makaknya sampai sekarang jomblomu gak ketolong!” Kali ini, dia seolah ingin mengguruiku.

Sejak hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Salma. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu persahabatanku dengannya, aku menjadi sedikit tertutup. 

Entahlah! Saat membersamainya, aku tak ingin terlalu banyak mendiskusikan modul dan tugas-tugas kuliah itu. Tapi, aku lebih suka jika ia tak membahas ulang orang yang sama; lelaki masa kecilnya.

Aku tahu; aku tak mahir dalam berperasaan. Itu juga yang Salma selalu katakan. Aku bersyukur, setidaknya, hal itu bisa menutupi kecurigaan Salma perihal aku yang mulai menyukainya. 

Aku harap ini akan berlangsung lama. Aku lebih baik mahir dalam memendam rasa daripada harus mengorbankan persahabatan yang sudah terjalin lama.

Jatuh cinta kepada orang yang sudah aku kenal begitu lama – orang yang menjadi bagian dari keseharianku – terkadang lebih rumit daripada jatuh cinta kepada orang baru. Ada banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Bukankah selama ini aku dan Salma baik-baik saja meski bukan sebagai sepasang kekasih?

Namun, orang yang jatuh cinta terkadang ingin lebih. 

Ingin lebih dari sekedar sahabat, ingin lebih dari sekedar teman diskusi, ingin lebih dari teman nongkrong dan sarapan pagi dikantin kampus, ingin lebih dari sekedar julukan bodyguard yang selalu ia sematkan saat menemaninya pergi BAB di toilet kampus yang baunya super busuk.

Semakin hari, perasaan itu semakin menjadi-jadi. Membebani pikiranku. Menggitari kepalaku. Alhasil, bayangan Salma mendominasi titik fokusku. Aku ingin berbicara berlama-lama dengan Salma.

Bukan hanya membahas tugas-tugas kuliah. Bukan hanya membahas tempat makan yang enak lagi murah, apalagi tentang lelaki masa kecilnya. Jujur, perihal itu, aku mulai cemburu. Aku ingin membahas sesuatu yang hingga saat ini belum mampu aku utarakan. Tapi, sayangnya, aku masih memilih diam dan tetap aman.

Sementara, di dadaku, perasaan ini terasa begitu kacau dan berantakan; seolah tak ingin lagi dijerujikan. Aku harap, untuk saat ini, jangan lagi terngiang perihal dia. Seseorang yang sedari kecil Salma puja. Seseorang yang bukan aku. 

Dan, jujur saja, perasaanku merasa begitu terzalimi dengan sikap Salma kepada dia yang bahkan sudah tak lagi membersamainya.

Perasaan ini membuatku semakin rancu. Aku menjadi takut terlalu banyak bicara padanya. Aku mulai takut menatap matanya. Aku terjebak dalam ketidakberdayaanku menyatakan semua itu kepadanya. 

Keinginanku memilikinya terbatas oleh status kita yang tak lebih dari sekedar sahabat. Sementara, ikrarnya untuk menunggu lelakinya masih melekat kuat.

Aku tahu; selama ini hanya aku yang menjadi temannya berbagi perihal urusan hati. Namun, terkadang jatuh cinta tak memandang tempat, kemudian ia menjelma kecemas-cemasan. Lalu menunda-nunda menyatakan. 

Aku terlalu menjaga kecemasanku untuk tidak kehilangannya. Dan mengabaikan keinginanku untuk memilikinya.

Aku menyayangkan keegoisanku yang begini ini, ingin dia merasakan perasaan yang sama. Padahal, aku tahu, dia hanya menganggapku sebagai sahabat belaka tanpa ada rasa suka. 

Tak bisa memilikinya dalam kebersamaan, tak apa. Setidaknya, aku masih bisa mencintainya walau sebatas kagum. Memeluk dan menyayanginya meski hanya lewat sudut pandang.