Gorki-400 adalah nama virus dalam novel The Eyes of Darkness karya Dean Koontz edisi cetakan pertama pada 1981. Novel ini bercerita keganasan senjata biologis yang dirancang Uni Sovyet di sebuah kota yang bernama Gorki. Betapa berbahanya, tingkat kematian gorki-400 mencapai 100 persen dengan masa inkubasi 4 jam.

Namun ada yang ganjil di edisi kedua pada 1989. Nama yang semula virus gorki-400 berubah menjadi wuhan-400. Mengapa berubah? Apakah ini berkaitan dengan runtuhnya Uni Soviet pada 1989, sehinga tidak lagi menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, kemudian kemunculan China menjadi adidaya baru?

Terlepas dari soal pergantian nama virus tersebut, setelah dirilis pada cetakan kedua 40 tahun lalu, muncul pandemi yang bernama Covid-19 di Wuhan dari hasil identifikasi 30 Desember 2019.

Apakah ini kebetulan? Jika benar, maka The Eyes of Darkness adalah satu konspirasi yang bojor. Tidak keliru jika para konspirator menyebut Dean Koontz adalah Nostradamus modern?

Tanpa bersusah payah membaca lembar demi lembar, kesamaan antara novel tersebut dengan kemunculan covid-19 hanyalah diksi Wuhan.  

Bandingkan saja antara tingkat kematian Wuhan-400 dan Covid-19. Jika Wuhan-400, 100 persen dengan masa inkubasi 4 jam, Covid-19, hanya 30 persen dengan masa inkubasi 2-14 hari (The New York Times; How Bad Will the Coronavirus Outbreak Get? Hare Are Factors; Feb.28,2020). 

Selain novel ini, flim Contagion ikut menjadi indikasi dan bukti para penganut teori konspirasi soal covid-19 dengan kisah dan plot yang hampir sama: pandemi virus. Juga flim Mission Impossible dirilis pada 1996, yang dibintangi oleh Tom Cruise bercerita tentang serangan bio-teknologi tingkat global yang dikemas dengan tindakan inteligen-kontra inteligen. Dan masih banyak flim konspiratif lainnya  diedar guna propaganda politik sebuah negara.

Para pengagum teori konspirasi dengan mudahnya percaya namun enggan menggunakan nalar dan bukti ilmiah untuk menguji keyakinannya. Begitu pula sebaliknya, simpatisan China akan menuduh Amerika Serikat sebagai dalang dari munculnya covid-19, kemudian mengaitkan perang dagang dalam beberapa tahun belakangan.

Penyebaran covid-19 memang tidak dapat dianggap enteng, tetapi yang lebih berbahaya pula adalah penyebaran teori konspirasi melalui media sosial. Bila Covid-19 berkemungkinan akan segera ditemukan vaksin oleh para ilmuwan dan dokter, sedangkan virus konspirasi obatnya tidak akan ditemukan.

Sialnya pada tingkat akut, virus konspirasi menyebabkan manusia gagal membedakan realitas dengan ilusi, fakta dengan fiksi. Penyebaran konspirasi dalam situasi seperti ini justru akan memperkeruh keadaan. Melahirkan rasa saling curiga, waswas, dan yang paling berbahaya ketika salah satu negara adidaya percaya terhadap teori tersebut. Ini bisa memicu pecahnya solidaritas global untuk memerangi pandemi.

Senada dengan ungkapan Yuval Noah Harari, “selama beberapa tahun terakhir, politisi yang tidak bertanggung jawab sengaja menggerogoti kepercayaan pada sains, di bawah pihak berwenang publik dan kerja sama internasional.”

Sekarang kita tinggalkan teori konspirasi dan bahayanya. Jelas teori ini tidak logis, atau karena mungkin karena gejala malas berpikir? Entahlah.  

Mari kita coba mengembalikan kepercayaan manusia kepada sains, dengan bertanya, mengapa dan faktor apa virus selalu mengancam manusia setiap dekade? Entah itu maut hitam, flu Spanyol, tuberkulosis, AIDS, atau virus baru yang kita sebut “Covid-19”.

Para ilmuwan dan dokter akan terus berlomba dengan epidemi, ditemukanlah vaksin baru, penemuan baru, pengertahuan baru. Tetapi beberapa dekade selanjutnya, sangat memungkinkan manuisa bertemu dengan virus-virus yang lebih ganas dan mematikan. Sampai kapan perlombaan senjata antara dokter dan epidemi berhenti?

David Quammen penulis buku “Spiillover: Animal infection and the human pandemic”, menulis dalam The New York Time, 28 Januari 2020. “Selama manusia menginvasi hutan tropis dan bentang alam liar lainnya, yang merupakan habitat beragam spesies hewan dan tumbuhan tempat bernaung virus yang belum dikenal. Manusia menebang pohon, membunuh hewan atau menjualnya. Ketika manusia mengganggu ekosistem, maka virus-virus itu lepas dari inang alaminya. Sehingga mereka butuh tumpangan baru, dan sering kali manusialah sasarannya.”

Jika hal tersebut terus-menerus dilakukan, maka selamanya manusia akan terancam oleh pandemi.

Globalisasi, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi hanyalah arus penyebaran patogen. Study Center for Deseise and Prevention mengungkapkan ada tiga faktor memengaruhi penyebaran zoonis dari satwa liar ke manusia. Pertama, keanekaragaman mikroba satwa liar dalam suatu wilayah tertentu. Kedua, perubahan lingkungan. Ketiga, frekuensi interaksi antara hewan dan manusia. Jika salah satu faktor ini terganggu, dipastikan Zoonis pun menyebar.

Andrew Cunningham, Profesor Epidemologi Hewan liar di Zoological Society London, menambahkan deforestasi adalah faktor utama  membuat binatang stres karena habitatnya terganggu. Sistem kekebalan tubuh hewan mendapat tantangan dan menemui kesulitan untuk mengatasi patogen, yang kemudian mengambil alih.

Setidaknya ada 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan (Sumber; FAO & CDC)

Dalam kasus Covid-19, kecurigaan ilmuwan terhadap penyakit kelelawar yang melompat ke manusia didasarkan “limpahan zoonatik” (zoonotic spillover) dari kelelawar dan spesies liar lainnya, hampir selalu bahkan bisa dipastikan mengarah ke perilaku manusia. Stres pada hewan memungkinkan infeksi meningkat dan akhirnya dilepaskan.

Inilah yang berbahaya dari deforestasi. Perilaku manusia yang terus menggunduli, membakar hutan untuk industri perkebunan. Mengeruk dan merusak gunung demi kepentingan tambang. 

Selain wabah, bencana alam; longsor, banjir, dan kekeringan juga terjadi akibat deforestasi. Sialnya, tindakan tersebut didelegitimasi oleh Negara melalui UU atau Kontrak Karya, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang yang mengancam seluruh spesies manusia.

WWF Living Forest Report merilis laporan 2015 lalu, 10 wilayah tropis berkontribusi lebih dari  80 persen kehilangan hutan secara global. Dunia mengalami deforestasi sebanyak 170 hektare hutan dalam kurun waktu 2010-2015.

Selama ini, manusia menggunakan paradigma antroposentris dalam melihat alam, menempatkannya sebagai aset kekayaan. Jelas, hubungan yang dibangun sangat ekploitatif, tentulah alam menunjukkan sifat maskulinitasnya (keperkasaan).

Namun ketika manusia memperlakukan alam secara belas kasih, alam akan memperlihatkan sifat feminisnya. Air tentulah sangat dibutuhkan oleh manusia, begitu juga tanah dan pepohonan, dan alam menyediakan semua kebutuhan tersebut. Tapi ketika manusia merusaknya, maka alam berbicara layaknya seorang lelaki perkasa.

Setelah pendemi covid-19 berakhir, manusia mesti membangun ulang etika lingkungan yang baik. Sebuah hubungan interdevendensi (ketergantungan satu dengan yang lain) antara manusia dengan alam. Inilah yang kita sebut dengan ekosentrisme. Paradigma ini semestinya terinternalisasi dalam wacana pembangunan dunia ke depan, sebagai solusi menghadapi tantangan wabah, bencana alam dan krisis pangan.

Tentunya ini tidak boleh berhenti pada wacana. Kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan mesti kita bangun dalam diri kita, diajarkan kepada anak usia dini, dan bila perlu menjadi ajaran wajib dalam kurikulum. Ketika itu benar-benar terbangun, jadilah teladan yang baik. Organisasi masyarakat sekitarmu sebelum kita benar-benar terlambat, kawan.