“Korona itu tidak ada, ia cuma permainan media untuk menakuti kita,” begitu ujar teman saya suatu saat ketika kami sedang menelepon.

Mendengar kalimat semacam itu, segera saja saya terkejut. Sudah sebegini banyak manusia tewas akibat korona dan ternyata masih ada yang beranggapan bahwa virus itu tidak ada?

Lantas, social distancing, kantor dan sekolah diliburkan, ekonomi yang terguncang hebat,  apakah gerangan yang menyebabkan itu semua? Apakah “hanya” sekadar cuci otak dari media dan pihak-pihak yang berkepentingan?

Keterkejutan saya tidak berhenti sampai di situ. Teman saya kemudian menuturkan alasannya mengapa ia percaya bahwa virus korona benar-benar ada. Ia menyatakan bahwa virus korona itu tidak dapat dilihat atau tidak dapat diindra. Oleh karena itu, korona bisa dianggap tidak benar-benar ada.

Awalnya saya tidak menganggap alasan yang bernada seperti gurauan itu. Namun, kemudian akhirnya saya juga memberikan respons agak serius. Apakah setiap sesuatu yang tidak dapat kita lihat, dengar, atau rasakan langsung, maka bisa dianggap serta-merta tak pernah ada? Untuk lebih menyederhanakannya, saya memakai ilustrasi kakbah.

Kebetulan, teman saya juga belum pernah naik haji atau umroh ke Mekkah. Ia hanya melihat kakbah via internet, foto, atau mendengar cerita dari orang lain. 

Mestinya, dengan logika yang sama, ia tidak bisa percaya bahwa kakbah itu benar-benar ada. Sebabnya adalah ia belum pernah melihat, mendengar, atau merasakannya langsung.

Tapi, ternyata teman saya tetap percaya bahwa kakbah benar-benar ada. Di titik ini, ia akhirnya percaya bahwa dengan logika yang sama kakbah dan korona tidak jauh beda. Keduanya benar-benar ada.

***

Seusai menelepon, saya amat tertegun dan dibuat bertanya-bertanya. Apa gerangan yang terjadi pada teman saya sehingga ia bisa membuat “gurauan” berbahaya semacam itu?

Mengapa saya anggap itu berbahaya? Tidak akan terpikirkan jika kemudian teman saya ini menyebarluaskan pikirannya ke lingkungan terdekatnya atau bahkan membuat hoaks via grup Whatsapp dan tersebar ke mana-mana. Oleh karenanya, saya tertarik untuk mengulik sebab utama ia tak percaya keberadaan virus korona.

Ternyata setelah saya berbincang lebih lanjut, sebab utama teman saya tidak percaya bukanlah seperti alasan di awal yang telah saya tuliskan. Ada alasan yang lebih mengakar. Ia menuturkan bahwa selama ini pikirannya banyak dijejali oleh teori-teori konspirasi dan ketidaksukaan terhadap pemerintah.

Saya tiba-tiba teringat dengan suatu film dokumenter dari Netflix berjudul Behind The Curve (2018). Film itu dibuat untuk memotret fenomena perkembangan komunitas flat earther yang begitu pesat. Flat earther sendiri merupakan komunitas beranggotakan orang-orang yang percaya bahwa bumi itu datar, alih-alih bulat seperti yang selama ini jamak diketahui.

Film besutan sutradara Daniel J. Clark tersebut mewawancarai beberapa tokoh penting dari gerakan flat earth internasional. Di antara tokohnya adalah Mark Sergent dan Patricia Steere. Keduanya pernah membuat serial podcast yang tayang di youtube untuk mengkampanyekan gerakan bumi datar ke seluruh dunia.

Yang menarik adalah film berdurasi 1 jam 35 menit itu juga mendokumentasikan pendapat para ahli fisika, astronomi, bahkan psikologi. Para ahli tersebut diminta untuk berpendapat terkait meningkatnya antusiasme terhadap gerakan bumi datar.

Catatan penting yang saya dapat ialah ternyata selama ini fondasi utama pengagum teori bumi datar adalah teori-teori konspirasi atau pseudo science (sains palsu). Namun, selama ini mereka berdalih bahwa apa yang mereka yakini dapat dibuktikan secara ilmiah.

Eksperimen-eksperimen pun dilakukan, tetapi justru banyak yang gagal. Klaim saintifik mereka terhadap bumi datar telah banyak dibantah oleh para ilmuwan bahkan oleh eksperimen yang mereka lakukan sendiri. Apa yang mereka klaim sebagai “sains”, justru akhirnya bukanlah sains sama sekali.

Yang terjadi pada mereka sebenarnya adalah apa yang disebut sebagai dunning-kruger effect. Makin seseorang tidak punya pengetahuan keahlian dalam bidang tertentu, maka makin ia merasa tahu segalanya atas bidang tersebut. Teori fisika dasar, semisal gravitasi, dibuat menjadi begitu rumit hanya supaya bisa mendukung klaim mereka atas bumi datar.

Di titik inilah kewarasan berpikir akan terancam. Berbeda dengan metode sains yang berani menggugurkan hipotesisnya apabila bertentangan dengan hasil eksperimen, metode konspirasi justru sebaliknya. Pengagum konspirasi akan mencari bukti-bukti untuk terus mendukung hipotesisnya, terlepas dari hasil eksperimen yang justru berlawanan.

***

Teman saya memulai premisnya dengan ketidakpercayaan terhadap otoritas ilmiah dan negara. Ia menganggap para ilmuwan dan pemerintah telah bekerja sama dengan elite global yang entah maksudnya siapa.

Ketidakpercayaan itu tumbuh dari sikap oposisi berlebihan yang akhirnya mengorbankan kewarasan berpikir. Apa-apa yang diucapkan oleh pemerintah tiba-tiba menjadi tidak ada benarnya. Semua salah karena asumsinya pemerintah telah bekerja sebagai bagian dari kekuatan global.

Padahal, jika kita bisa lebih objektif, kita akan melihat spektrum masalah ini secara lebih luas. Bagaimana dengan ratusan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat yang telah meninggal? Apakah mereka termasuk sedang bekerja sebagai bagian dari kekuatan global? Sebegitu agungkah kekuatan global ini sehingga para tenaga kesehatan itu rela mengorbankan nyawa?

Ketika pemerintah mengutip pendapat saintis tentang bahaya korona, orang-orang pemuja konspirasi akan menganggap remeh hal tersebut. Seakan-akan sebagai oposisi pemerintah, maka tak ada lagi statement pemerintah yang dapat dipercaya bahkan ketika mengutip ilmuwan sekalipun.

Menjaga kewarasan serta keadilan dalam berpikir akan membantu kita survive menghadapai pandemi global ini. Tidak semata-mata karena kita oposisi pemerintah atau peminat konspirasi lantas kita bisa mengambil kesimpulan seenaknya.

Tindakan-tindakan gegabah akan banyak bermunculan apabila kita tidak waras dalam berpikir. Kabar heboh “penemuan” vaksin oleh seorang profesor gadungan di akun youtube seorang “influencer” menjadi bukti bahwa masalah virus korona tidaklah mudah diatasi. Tidak bisa sekadar klaim tanpa pertanggungjawaban ilmiah yang memadai.

Terlebih lagi, di era media sosial ini informasi sangat mudah menyebar tanpa verifikasi yang patut. Kewarasan berpikir kita sedang diuji dan mestinya bisa menjadi garda terdepan perlawanan kita terhadap virus korona.