2 minggu lalu · 92 view · 3 min baca · Politik 46440_83180.jpg
nasional.kompas

Konsolidasi Bangsa dan Visi Politik Megawati

Siang tadi, pidato Megawati Soekarnoputri di Kongres V PDI Perjuangan baru saja selesai. Pidato ini disaksikan oleh segenap kader PDIP. Selain itu, menteri-menteri Kabinet Kerja dan ketua-ketua partai besar di Indonesia juga menyaksikannya. Bahkan, ketua Partai Gerindra, Prabowo Subianto, juga menerima undangan dan ikut menyaksikan pidato tersebut.

Pidato ini sendiri sesuai dengan tema Kongres V yang bertajuk “Solid bergerak untuk Indonesia Raya”. Dari tema tersebut, ada dua pilar yang bisa kita identifikasi. Pertama, konsolidasi nasionalisme bangsa yang dilakukan dengan penekanan common values. Kedua, eksposisi visi PDIP sebagai partai pelopor, implementasi utama tema Kongres V PDIP.

Di awal pidato, Megawati menyapa berbagai tokoh penting, seperti Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, Wapres terpilih Ma’ruf Amin, dan berbagai tokoh lainnya. 

Tetapi, ada satu anggota PDIP yang disapa juga oleh Megawati, disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting lainnya. Ia adalah Basuki Tjahaja Purnama (BTP). “Pak Purnama, apa kabar?” canda Megawati.

Setelahnya, Megawati lebih banyak berbicara soal persatuan, patriotisme, dan musyawarah mufakat. Common values that bind Indonesia, in that order

Mengapa? Kongres V PDIP sendiri dipercepat karena adanya fenomena disintegrasi yang muncul secara sistematis. Maka dari itu, kongres dipercepat untuk menentukan sikap partai dalam mencegah disintegrasi bangsa agar tidak meluas (Oni dalam harianterbit.com, 2019).


Sementara, patriotisme dalam pidato ini berfokus pada akronim JASMERAH Bung Karno. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Megawati menegaskan bahwa Indonesia harus bersatu dalam menghargai jasa para pahlawannya. Terlebih lagi, ia sendiri memberikan contoh dengan memberikan bunga kepada makam tidak bernama, setiap nyekar ke Taman Makam Pahlawan.

Terakhir, musyawarah mufakat juga ditekankan sebagai cara demokrasi asli Indonesia. Ia adalah bagian dari Pancasila yang berlandaskan toleransi dan kejujuran. 

Jika toleransi dan kejujuran itu dirusak, demokrasi itu sendiri telah dicederai. Maka dari itu, Megawati menekankan bahwa toleransi dan kejujuran itu tidak boleh dirusak oleh propaganda teror dan kebohongan.

Ketiganya adalah nilai-nilai yang mengikat kita semua sebagai bangsa Indonesia (common values). Turunan dari ideologi Pancasila yang menjadi rumah seluruh manusia Indonesia. Hanya kaum radikal-ekstremis yang tidak percaya kepada nilai-nilai ini. Maka dari itu, kita harus menjaga ketiga nilai ini agar Pancasila bisa dibumikan kembali di masyarakat.

Setelah selesai dengan konsolidasi nasionalisme, tibalah kita pada klimaks pidato. Megawati langsung berbicara panjang lebar soal partai pelopor. Konsep ini adalah anak pikiran dari Bung Karno, terinspirasi dari Partai Pelopor ala Lenin. 

Apa itu partai pelopor? Menurut Bung Karno, partai pelopor adalah partai radikal yang aktif berjuang di tengah massa, membangkitkan aksi massa, dan memimpin perjuangan massa (berdikarionline.com, 2012). 

Dalam konteks revolusi kemerdekaan Indonesia, partai ini menjadi penghimpun kekuatan rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Dalam Bahasa Sukarnois, mendorong machtsvorming dan machttsaanwending.

Kini, Megawati kembali mengangkat dan menginterpretasikan kembali konsep tersebut di zaman sekarang. Menurutnya, partai pelopor adalah partai yang memiliki kristalisasi kesadaran politik ideologis yang dalam. Kesadaran ideologis itu terbentuk dari satu kedisiplinan ideologi, teori, tindakan, dan gerakan. 

Lebih rinci lagi, Megawati menggambarkan partai pelopor seperti pukulan tinju satu arah. “Langsung DAK!” tandasnya. Akhirnya “pukulan” seperti ini akan mendorong kemenangan.

Selain pukulan tinju, Mega juga mengibaratkan partai pelopor seperti titanium. “Dia itu ya keras, tapi luwes. Jadi gak patah… gitu loh,” katanya. 


Perumpamaan ini adalah simbolisme dari inti konsep partai pelopor. Sebuah partai yang bersatu kuat untuk mencapai satu tujuan ideologis secara cerdik. Kecerdikan itu terwujud dalam strategi “tonjokan kapas”.

“Jadi kalo nonjok umpamanya, supaya gak kerasa gimana ilmunya? Nonjoknya kayak kapas,” tegasnya. “Jadi, orangnya gak ngerasa. Tapi begitu udah kena, sakit!” 

Pernyataan ini membuat hadirin yang menyaksikan tertawa lepas. Tetapi, maksud pernyataan ini sungguh serius. PDIP harus menjadi partai yang cerdik dan tidak mudah ditebak dalam menghajar lawan politik.

Megawati ingin PDIP bergerak menjadi partai yang demikian. Partai pelopor berideologi Pancasila dengan kekuatan politik yang besar. Kekuatan tersebut menjadi daya yang mendorong terwujudnya tujuan PDIP. Destinasi Great Indonesia alias Indonesia Raya.

Sebagai penutup, Mega kembali kepada konsolidasi nasionalisme. “Solid bergerak untuk Indonesia Raya, Indonesia yang sejati-jatinya merdeka!” Meski diutarakan sebagai tema Kongres V PDIP, penulis merasa pesan ini bersifat universal. Berlaku bagi kita semua sebagai manusia Indonesia.

Sebagai manusia Indonesia, kita harus kuat bersatu dalam Rumah Pancasila. Whatever our differences. Jangan pandang perbedaan di antara kita sebagai penghalang persatuan. Justru, pandang perbedaan itu sebagai kekuatan yang saling melengkapi di antara kita. Kekuatan yang mempersatukan kita sebagai manusia Indonesia.

Artikel Terkait