Perjumpaan mendadak tak terencana (sudden visual contact) dengan keluarga kucing (felidae) oleh para pegiat alam bebas di hutan kerap terjadi. Tentunya kucing yang dimaksud bukanlah kucing rumahan atau kucing Angora lainnya. Namun, ia adalah kucing besar semisal harimau dan macan.

Sudden visual contact untuk yang sudah dinyatakan punah pada tahun 1980 saja seperti kucing besar harimau jawa (Panthera tigris sondaica) kerap terjadi dan perlu dicermati.

Data-data tersebut antara lain tentang penuturan dari Pencinta Alam UMK saat melakukan pengembaraan di lereng selatan Gunung Muria yang berpapasan dengan harimau loreng yang bertubuh besar dan sempat disaksikan oleh satu regu yang terdiri dari 6 orang tersebut.

Kemudian, Pencinta Alam dari Solo (Dinamik Faperta UNS) melaporkan pernah berpapasan dengan macan loreng di Lawu tahun 1998 dan disaksikan semua anggota tim SRU sekitar 5 orang saat berlatih SAR (Search And Rescue). Begitu juga di tahun 2004, juga dijumpai feses (kotoran) harimau jawa dengan diameter sekitar 7cm dan pada tahun 2006 oleh anggota TNI.

Sedang perjumpaan yang dirancanakan terjadi pada tahun 1999, di mana Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim II, MMB, FK3I telah merambah kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup, Ijen, Rante, Panataran, dan Raung.

Hasil penelusuran tersebut ditemukan bukti keberadaan harimau jawa di Gunung Raung, Panataran, dan Ijen berdasarkan temuan rambut yang terselip di luka cakaran dan kotoran.

Tahun 90-an memang titik terpadat perjumpaan pegiat alam dengan keluarga kucing besar ini. Karisma harimau jawa yang sering dihubungkan dengan kepercayaan lokal membuat satwa ini menjadi satwa yang ditakuti, disegani, dan di beberapa daerah juga dihormati.

Sebelum harimau jawa dinyatakan punah pada tahun 1970 dan pada tahun 1980 dikonfirmasi lagi kepunahanya, macan tutul atau macan kumbang kurang dikenal dan kurang mendapat perhatian masyarakat. Kini macan tutul jawa (panthera pardus melas) menjadi satu satunya kucing besar yang tersisa di tanah Jawa dan menjadi raja rimba dalam arti ekologis maupun sosiologis.

Upaya konservasi macan tutul jawa dan habitatnya menjadi tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Di mata masyarakat, upaya konservasi macan tutul jawa belum begitu populer. Ketidakpopuleran ini dopicu banyak faktor. Salah satunya adalah persepsi yang salah tentang kebuasan macan tutul.

Sedikit menengok ke belakang, telah diketahui bahwa Pulau Jawa pernah memiliki dua spesies kucing besar, yaitu harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan macan tutul atau macan kumbang (Panthera pardus melas).

Hingga awal tahun 1970-an, nama harimau jawa masih akrab di telinga masyarakat. Di samping karena minimnya informasi yang didapat masyarakat, juga karena satwa ini dianggap musuh yang membahayakan atau merugikan manusia. Termasuk juga yang terjadi pada macan tutul jawa (Panthera pardus melas).

Faktor lainnya adalah macan tutul jawa juga diduga kalah populer dengan konservasi satwa-satwa lainnya, seperti Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), Gajah sumatra (Elephas maximus), Badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), Orangutan sumatra (Pongo pygmaeus), dan Orangutan kalimantan (Pongo abelii)

Hal menarik lainnya tentang konservasi yang tak lazim ini adalah tentang melanisasi macan tutul jawa hingga bercorak kulit gelap dan biasa disebut sebagai macan kumbang (black panther). Jadi macan kumbang adalah sama jenisnya dengan macan tutul jawa, cuma dia mengalami melanisasi.

Melanisme pada macan tutul jawa tidak menghasilkan spesies baru. Sebagaimana kasus albino pada manusia dan hewan lainnya. 

Sebagaimana macan tutul jawa, macan kumbang (black panther) merupakan spesies yang sangat mudah beradaptasi sehingga dapat hidup di berbagai tipe habitat. 

Sebagai pendaki yang dekat dengan alam, walaupun jarang melewati teritorial macan tutul jawa, adalah sangat bijak untuk mengenal mereka dalam rangka meningkatkan kemampuan mitigasi ataupun mendukung konservasi mereka agar lazim.

Savana, padang rumput, semak, setengah gurun, hutan hujan tropis berawa, pegunungan yang terjal, hutan gugur yang kering, hutan konifer sampai sekitar permukiman.

Induk yang bunting mencari gua, celah batu besar, lubang pohon atau semak belukar untuk melahirkan dan membuat sarang. Anak-anak macan tutul dilahirkan dalam gua, lobang pohon, lubang tanah atau tempat berlindung lain yang sesuai.

Macan tutul adalah satwa arboreal, yang berarti banyak melakukan aktivitasnya di atas pohon, seperti makan, tidur, dan memburu mangsanya dari atas pohon. Macan tutul spesialis melihat pada malam hari karena matanya memiliki tapetum lucidum yang menyebabkannya memantulkan cahaya jika terkena lampu.

Macan tutul menggunakan kumisnya untuk merasakan jalan ketika melewati semak yang lebat di malam yang gelap. Macan tutul merupakan pemburu soliter yang berburu pada senja hingga malam hari. Macan tutul di Pulau Jawa juga berburu pada siang hari.

Dengan pengenalan deskripsi di atas, diharapkan konservasi yang tak lazim ini menjadi lazim dengan awalan pengenalan habitasi dan teritorial serta membuang jauh-jauh prasangka yang menyeramkan tentang kucing besar ini.

Salah persepsi mengakibatkan salah satu faktor yang membuat semangat konservasi menjadi menurun serta mengakibatkan meningkatnya prasangka-prasangka menakutkan serta mempertinggi naluri berburu.

Macan tutul adalah pemburu dan penyergap yang berburu dengan indra penglihatannya dan penciumannya yang tajam. Di samping pengertian dan penyadaran di atas, mitigasi terhadap bahaya terkam juga tidak boleh ditinggalkan.

Macan tutul mengincar mangsanya dari atas pohon atau dari balik semak-semak berjarak kurang dari 30 meter. Ia kemudian menyergap mangsanya dari belakang dengan tepat dan cepat dan menggigit bagian tengkuk atau leher sehingga memutuskan saluran syaraf tulang belakang yang menyebabkan mangsa tak berdaya.

Macan tutul umumnya pendiam. Suara yang paling banyak terdengar adalah suara geraman serak-parau yang mirip suara gergaji mesin (chainsaw).

Suara tersebut dikeluarkan oleh macan tutul jantan untuk mengumumkan teritorinya dan mengusir jantan lain dari wilayahnya. Macan tutul mempunyai suara individual yang berbeda sehingga dapat untuk mengenali satu dengan lainnya.

Macan tutul lebih toleran daripada harimau terhadap temperatur ekstrem dan lingkungan yang kering. Macan tutul sangat menyukai daerah yang memiliki pohon untuk aktivitas berlindung, mengintai dan bersarang yang biasanya berupa vegetasi lebat atau singkapan batu dan goa.

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) adalah satwa endemik Pulau Jawa yang statusnya kritis (Critically Endangered) dan menjadi salah satu spesies prioritas konservasi nasional. Populasi macan tutul jawa diperkirakan terus menurun akibat kerusakan habitat, penyusutan habitat dan fragmentasi habitat yang makin masif dalam dua dekade terakhir.

Hal ini juga memicu konflik antara macan tutul jawa dengan manusia juga cenderung meningkat sejak tahun 2001.  Salah satu upaya dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul jawa 2016-2026 adalah membiasakan manusia hidup berdampingan dalam harmoni dengan macan tutul jawa.

Hal ini juga sebagai upaya mitigasi konflik satwa yang merupakan agenda kebijakan prioritas Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tantangan yang harus diselesaikan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI) adalah menyediakan IPTEK yang inovatif untuk mendukung kelestarian satwa langka terancam punah.

BLI mempunyai tugas menyelenggarakan penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang lingkungan hidup dan kehutanan,termasuk penyebarluasan hasil-hasilnya kepada pengguna, baik internal maupun eksternal Kementerian LHK.

Konservasi satwa langka dilindungi dan terancam punah menjadi fokus penelitian dalam rangka mendukung pencapaian target strategis peningkatan populasi 25 spesies satwa target. Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan salah satu dari 25 spesies satwa target konservasi tersebut.

Puslitbang Hutan telah melaksanakan penelitian macan tutul jawa. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan macan tutul jawa menjadi salah satu dari 25 satwa prioritas nasional terancam punah untuk ditingkatkan populasinya.

Oleh karena itu, Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul jawa 2016-2026 telah disusun sebagai acuan para pihak untuk konservasi macan tutul jawa. Dalam SRAK, salah satunya adalah upaya membiasakan manusia hidup berdampingan dengan satwa liar. 

Hal ini juga sebagai upaya mitigasi konflik satwa yang merupakan agenda kebijakan prioritas Direktorat KKH. Terbentuknya Forum Konservasi Macan Tutul Jawa (FORMATA) merupakan pelaksanaan amanah dalam SRAK Macan Tutul Jawa 2015-2025. Dan ini akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya.

Forum ini mewadahi berbagai elemen pemangku kepentingan dalam konservasi macan tutul jawa, yakni pemerintah, lembaga konservasi, lembaga penelitian, lembaga pendidikan/akademisi, BUMN/BUMD, sektor swasta/pelaku bisnis, lembaga swadaya masyarakat, dan media/wartawan.