Mahasiswi
1 tahun lalu · 244 view · 3 menit baca · Lingkungan 20107.jpg
pribadi

Konservasi Hutan Mangrove sebagai Sekuestrasi Karbon

Berdasarkan UU Nomor 41/1999 tentang Kehutanan, Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya. Kawasan hutan konservasi dibedakan menjadi Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru.

Salah satu konversi hutan yang dilakukan oleh pemerintah maupun pemerhati lingkungan adalah dengan melindungi dan mengembangkan hutan mangrove. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis yang khas, tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, terutama di laguna, muara sungai dan pantai yang terlindung dengan subtrat lumpur atau lumpur berpasir. Total luas kegiatan penanaman hutan mangrove/pantai yang dilaksanakan di seluruh Indonesia pada tahun 2010 s.d 2014 adalah 33.394 ha.

Itu artinya luas hutan mangrove di Indonesia adalah 25 persen dari keseluruhan hutan mangrove dunia yang tersebar di 90 ribu kilometer garis pantai. Namun laju kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan yang tercepat dan terbesar di dunia. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri, padahal mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik.

Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami.

Manfaat lainnya, hutan mangrove Indonesia menyimpan lima kali karbon lebih banyak per hektare dibandingkan dengan hutan tropis dataran tinggi lainnya. Itu artinya mangrove merupakan salah satu hutan terkaya karbon di kawasan tropis, yang mengandung sekitar 1023 Mg karbon perhektar. Permukaan bawah ekosistem mangrove Indonesia menyimpan karbon sebesar: 78% karbon disimpan di dalam tanah, 20% karbon disimpan di pohon hidup, akar atau biomassa, dan 2% disimpan di pohon mati atau tumbang.

Banyaknya manfaat dari hutan mangrove, tidak menutup kemungkinan untuk terus ditebang demi mendapat komersial secara sepihak. Demi pembangunan industri dan hal yang dikatakan “mengalah” demi kepentingan publik, justru telah membuat alam harus benar-benar “mengalah” oleh keadaan. Pasalnya kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya pohon “lumbung karbon” ini kian berkurang untuk dibiarkan hidup tanpa harus dirusak.

Akibat dari hutan mangrove yang kian hari kian menipis, maka hutan yang menjadi sekuestrasi tidak dapat menyerap karbon secara global . Salah satu akibat kelebihan jumlah karbon di atmosfer adalah terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfer, sehingga memicu terjadinya perubahan iklim global.

Terjadinya peningkatan unsur karbon dalam bentuk gas-gas asam arang (CO2), gas buang knalpot (CO), metana (CH4) serta gas rumah kaca dalam jumlah yang mengkhawatirkan telah memicu pemanasan global.

Penebangan hutan mangrove menyebabkan pembebasan karbon, endapan ini akan tetap terisolasi selama ribuan tahun. Karena itu, perubahan mangrove menjadi tambak udang, seperti yang dilakukan sementara orang sekarang ini, akan mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer pula. Maka, dengan mencegah penggundulan hutan, negara-negara berkembang dapat secara efektif mereduksi emisi dan menurunkan pemanasan global.

Ancaman nyata telah berada di depan mata dengan melihat fakta bahwa tiga dekade terakhir Indonesia kehilangan 40% hutan mangrove. Jika dibiarkan terus menerus tidak menutup kemungkinan akan mencetak angka yang lebih besar untuk kerusakan hutan mangrove.

Penyebab utama hilangnya mangrove di Indonesia termasuk akibat konversi tambak udang yang dikenal sebagai “revolusi biru” (Sumatra, Sulawesi dan Jawa Timur), penebangan dan konversi lahan untuk pertanian atau tambak garam (Jawa dan Sulawesi) serta degradasi akibat tumpahan minyak dan polusi (Kalimantan Timur).

Untuk menghadapi masalah krusial ini pemerintah memutar otak demi kenyaman bumi. Mekanisme perdagangan karbon pun dilaksanakan. Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar yang memungkinkan terjadinya negosiasi dan pertukaran hak emisi gas rumah kaca. Mekanisme pasar yang diatur dalam Protokol Kyoto ini dapat terjadi pada skala nasional maupun internasional sejauh hak hak negosiasi dan pertukaran yang sama dapat dialokasikan kepada semua pelaku pasar yang terlibat.

Untuk memberikan nilai bagi sebidang lahan berhutan yang berpotensi menyimpan karbon, kita harus dapat menghitung secara tepat berapa banyak jumlah karbon yang tersimpan.

Pemerintah juga telah membuat kebijakan dengan memotong emisi dengan dukungan dari berbagai negara. Hal ini dilakukan agar perubahan iklim global tidak terjadi secara drastis. Di harapkan konservasi Hutan Mangrove sebagai sekuestrasi karbon yang terancam bisa dibenahi dengan segera.

Dalam konteks perubahan iklim, mangrove adalah satu tempat di mana mitigasi dan adaptasi bisa diupayakan bersama. Hal ini berarti, Indonesia harus mengutamakan konservasi mangrove di dalam daftar upaya nasional demi mengurangi emisi karbon.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Masyarakat pun harus ikut berperan aktif dalam membantu program pemerintah yang dimaksud untuk kebaikan bumi bersama. Tidak hanya komunitas yang dapat kita lihat menanam kembali pohon mangrove dan menajaga kelestarian lingkungan disekitarnya, tetapi para penduduk sekitar harus turut berpartisipasi.

Terlebih lagi sebagian penduduk Indonesia bergantung pada keberlangsungan hidup alam. Jika hutan mangrove yang telah memberi begitu banyak keuntungan kepada manusia, mengapa kita enggan untuk menjaganya?