Indonesia kaya akan beragam budaya dan tradisi, salah satunya yaitu tradisi Tabuik yang terdapat di Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Tradisi Tabuik diselenggarakan oleh masyarakat Kota Pariaman dalam rangka memperingati hari besar Islam yaitu hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW., Hussein bin Ali pada 10 Muharram. Keranda Tabuik ini dimaksudkan sebagai simbol dari jasad Hussein yang gugur di Padang Karbala.

Tradisi Tabuik yang diselenggarakan setiap setahun sekali, menjadi salah satu event pariwisata terbesar di Kota Pariaman dan selalu dinantikan oleh masyarakat Kota Pariaman dan para wisatawan setiap tahunnya. Biasanya, tradisi Tabuik ini selalu dihadiri puluhan ribu pengunjung, baik masyarakat lokal Kota Pariaman itu sendiri maupun wisatawan asing.

Rangkaian tradisi Tabuik dimulai dari tanggal 1 Muharram yang meliputi ritual pengambilan tanah, penebangan batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, dan dihari puncak yaitu pada 10 Muharram dilakukan ritual tabuik naik pangkek, yang kemudian dilanjutkan dengan hoyak tabuik, dan diakhiri dengan pengarakan Tabuik menuju pantai untuk selanjutnya dilarung (dibuang) ke laut.

Dulunya, saat tabuik dilarungkan ke pantai, masyarakat akan beramai-ramai mengambil sisa rangka tabuik tersebut yang dianggap sebagai benda sakral. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi Tabuik hanya dianggap sebagai ikon pariwisata saja. 

Sehingga setelah tabuik dilarung ke laut namun tidak lagi dikumpulkan, maka sisa-sisa kerangka tabuik yang terdiri dari sampah yang mudah terurai dan tidak mudah terurai secara tidak sengaja akan berdampak terhadap lingkungan terutama terhadap ekosistem pesisir dan laut.

Selain mengotori laut, sampah berupa bahan non organik yang dibiarkan terbuang ke laut juga berkemungkinan meracuni biota laut yang ada, mengotori ekosistem terumbu karang, bahkan dapat termakan oleh biota laut yang dapat mengganggu sistem pencernaan dari biota tersebut, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan laut. 

Selain itu, secara sosial, event melarung (membuang) tabuik ke laut sendiri juga seakan memberikan legalisasi secara adat dan sosial untuk membuang sampah (benda non organik) ke laut. Acaranya sendiri banyak ditonton orang, termasuk anak-anak dan kaum muda. Nah, hal ini bisa jadi preseden yang kurang baik terhadap persepsi mereka dalam menjaga lingkungan.

Tingginya antusias masyarakat yang datang secara berbondong-bondong untuk melihat festival Tabuik, juga akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan pantai. Aktivitas masyarakat yang ramai ini tentunya akan sulit dikontrol sehingga secara tidak langsung vegetasi tumbuhan kecil seperti semak dan tanaman herba yang terdapat di sekitar pantai dan tempat penyelenggaraan Tabuik akan ikut terinjak. 

Selain itu, padatnya aktivitas jual beli masyarakat di sekitar tempat kegiatan berlangsung juga akan meningkatkan produksi sampah yang semakin diperkuat dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Dengan demikian, akan menyebabkan terganggunya ekosistem pantai tersebut.

Untuk itu, perlu ditingkatkan kembali peraturan dan penanganan dalam pengelolaan kawasan pariwisata terutama pengelolaan sampah, agar dapat meminimalisir dampak buruknya terhadap lingkungan. Dalam hal ini diperlukan upaya bersama dan terintegrasi dari masyarakat serta stakeholder dan lembaga-lembaga berwenang dalam mengelola dan menangani masalah pencemaran lingkungan, terutama lingkungan pesisir dan laut.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dari lingkup dasar untuk mengurangi potensi hasil sampah dengan membuang sampah pada tempatnya. 

Kemudian, tradisi melarung dan pengumpulan kembali rangka Tabuik yang pada awalnya dianggap sakral, kembali dijalankan demi lestarinya tradisi dan budaya kita. Karena, budaya dan tradisi yang sudah ada sejak zaman terdahulu pada dasarnya mengajarkan untuk memanfaatkan dan menjaga lingkungan itu sendiri. Contohnya pada kegiatan melarung itu sendiri, yang mana rangka tabuik kembali dikumpulkan agar tidak terjadi pencemaran dari lingkungan.

Karena sangat disayangkan, apabila tradisi budaya Tabuik malah menyebabkan kerugian pada lingkungan. Karena dengan adanya festival tradisi Tabuik ini juga dapat berpotensi meningkatkan income pendapatan masyarakat dan daerah, sebagai ajang promosi pariwisata, dan juga sebagai identitas budaya dari Kota Pariaman itu sendiri, yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru. Sebagaimana tergambar dalam ungkapan berikut ini (Refisrul, 2016) :

Pariaman tadanga langang,

Batabuik mangkonyo rami

Dek sanak tadanga sanak

Baolah tompang badan diri

(Pariaman terdengar lengang

Batabuik makanya ramai

Mendengar sanak sudah senang

Bawalah menumpang badan diri).


Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk mengajak untuk melestarikan alam dan tradisi serta budaya.

Penulis:

Assyifa Syafrita & Nurhayatul Hanifah 

Penulis merupakan mahasiswa Strata-1 , Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

Referensi :

Refisrul. 2016. Upacara Tabuik; Ritual Keagamaan Pada Masyarakat Pariaman. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 2 (2).

Festival Tabuik Pariaman, Gelaran Wisata Tahunan yang Dinanti Masyarakat | Sahabat Lokal (adira.co.id)