A. Biografi Syeikh Abdul Qadiral-Jailani

Saat pemerintahan Bani Saljuk, kerusakan umat telah tejadi di mana-mana seperti timbulnya kemunafikan, bid’ah, khufarat serta praktik Islam yang semakin dilupakan. Dengan adanya situasi tersebut, banyak orang yang memilih jalan tasawuf. Sehingga dari kondisi tersebut tasawuf berkembang dengan pesat. Salah satu tokohnya ialah Syeikh Abdul Qadiral-Jailani.

Nama lengkapnya ialah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Jankidaous bin Musa al Tsani bin Abdullah bin Musa al Jun bin Abdullah al Mahdhi bin Hasan al mutsanna bin Hasan bin Ali ra.,bin Abu Thalib.

Menurut riwayat yang dipercayai kebanyakan ulama, beliau lahir tanggal 2 Ramadhan 470 H/1077 M di Jailan atau Kailan. Jailan merupakan wilayah yang letaknya di bagian luar dari negeri Thabaristan, di perkampungan kecil di antara pegunungan Iran. Oleh karena itu, tersemat kata al Jailani atau al Kailani di akhir nama beliau. Namun di riwayat lainnya, beliau dilahirkan di kota Baghdad.

Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang mulia, sejalan dengan nasab dan keturunannya yang menyambung ke Rasulullah. Al Jailani kecil dididik dengan dididikan kaum sufi yang hidup sederhana yang memprioritaskan akhirat.

Kesalihan beliau telah terlihat sejak bayi. Hal itu diketahui ketika Jailani kecil tidak mau menyusu mulai terbit fajar hingga matahari tenggelam pada bulan Ramadhan, sehingga pernah suatu ketika masyarakat menentukan jam berbuka puasa dengan mengikuti jam berbuka bayi al-Jailani.

Di umur 18 tahun, tepatnya tahun 488 H beliau merantau ke Baghdad, kota pusat peradaban dan pengetahuan Islam yang terbaik pada waktu itu. Berkat keseriuasan serta kesalihannya beliau dengan cepat menangkap dan menguasai ilmu dari para mua’alimnya. Ia menekuni banyak ilmu seperti ilmu ushul (kalam dan fikih), hadis, tafsir, khilaf (ilmu yang berkaitan dengan perselisihan para ulama), balaghah, nahwu sharaf, tasawuf, arudh, dan mantiq.

Hari-harinya disibukkan dengan aktivitas keagamaan. Saat mengajar beliau duduk di kursi yang tinggi, bicaraannya keras dan lantang sebab murid yang hadir selalu banyak. Syekh Umar al-Kaisani menyatakan jika majlis taklim Syekh al-Jailani banyak dihadiri oleh kaum Islam, Yahudi, Nasrani, bekas pembunuh perampok, serta para penjahat.

Menurut berbagai sumber, beliau telah banyak mengislamkan orang Nasrani dan Yahudi kiranya 5.000 orang lebih dan menyadarkan sebanyak 100.000 lebih orang dari kalangan penjahat.

Ibnu Taimiyah dan Izzuddin bin Abdussalam menyatakan jika Syekh al- memiliki banyak karamat epara wali di masanya. Keramatnya yang paling penting ialah menanamkan keimanan dan rasa takut terhadap Allah Swt., menghidupkan hati dan jiwa yang mati, untuk kembali berbakti kepada-Nya.

Namun ada saja pihak yang sengaja membuat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan tersebut seperti ajaran-ajaran, kisah-kisah, perkataan-perkataan, serta tarekat yang berbeda dengan jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menutup usianya di umur 91 tahun, di daerah Bab al-Ajaz  pada tanggal 11 Rabiul akhir 561 H/1166M.

B. Konsep Sufistik

Sebagaimana dinyatakan oleh cucunya yaitu Muhammad Fadil, al-Jailani dalam pandangan sufistik merupakan tokoh yang diagungkan dan menjadi ikon para wali, Sultan al-Auliya, al-Ghauts, al-Qutb al-Rabbani, al-Baz al-Ashab dan lain-lain. Gelar tersebut diperoleh lantaran al-Jailani memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan ulama lain.

Menurut al Jaelani, tasawuf berpangkal pada delapan hal yakni kemurahan hati Nabi Ibrahim, kepasrahan Nabi Ishaq, kesabaran Nabi Ya’qub, do’a Nabi Zakaria, kemiskinan Nabi Yahya, berbusana wool seperti Nabi Musa, melanglang buana seperti Nabi Isa, serta kesahajaan Nabi Muhammad saw.

Konsep tasawuf yang ditawarkan al-Jailani mengemukakan al-Dunya mazro’atu al-Akhiroh yang bermakna dunia adalah tempat menanam pahala yang dipanen berupa kebahagiaan di akhirat. Konsep sufistik yang ditawarkan merupakan konsep sufistik yang murni yang dilandaskan pada ketentuan syari’at Ilahi. Beliau melarang seseorang menceburkan diri ke dalam dunia sufi sebelum orang tersebut kuat dan matang syari’at yang dimilikinya.

Sekalipun Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak merumuskan konsep tasawuf secara sistematis serta jelas akan tetapi beliau  lebih menekankan proses sufisme tersebut melalui cara-cara yang pada intinya tidaklah melenceng dari pokok ajaran tasawuf yang dimulai dari proses pertaubatan, penjernihan hati serta pengintegrasi ilmu dan amal.

Sepanjang hidupnya, beliau telah menghasilkan karya seperti AlFath ar Rabbani, al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Sirr al-Asrar, Tafsir al-Jailana (Faidl al-Rahman), Jala' al-Khawathir, Malfuzhat, dan Khamsata ‘Asyara Maktuban. 

Semua karya tersebut adalah karya monumental sufistik yang sarat akan nilai dengan tingkatan sastra yang tinggi yang nantinya diturunkan kepada para putra dan muridnya. Namun hampir semua karya beliau tidak pernah ditemukan di perpustakaan manapun di segala penjuru dunia.

Prediksi terbesarnya ialah karya beliau dihanguskan oleh kebengisan Hulughu Khan saat menghancurkan Baghdad. Namun murid-muridnya berhasil mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majlis taklim beliau.

Dalam karyanya, Syekh Abdul Qadir al-Jaelani menerangkan sejumlah pengertian tasawuf sesuai huruf yang merangkainya. Yang pertama adalah huruf ta’ yang melambangkan taubat yang bermakna pembersihan hati dari berbagai sifat madzmûmah (sifat tercela) yang diwujudkan lewat perasaan menyesal yang mendalam dan sungguh-sungguh serta disertai permintaan ampun dan meninggalkan semua perbuatan yang dapat menyebabkan timbulnya dosa.

Selanjutnya ialah huruf shad yang berasal dari kata shafa’ berarti kesucian, kejernihan atau kebeningan yang mencerminkan kebebasan diri dari kotoran (sifat tercela).

Huruf selanjutnya adalah waw yang yang berasal dari kata wilayah yang mempunyai arti kebeningan dan kesucian jiwa. Puncaknya adalah rasa patuh terhadap Allah yang tercermin melalui akhlak yang terpuji, sehingga terjadi keselarasan antara intuisi dari tuhan terhadap pengimplementasian akhlak sehari-hari.

Huruf yang terakhir adalah fa’ yang berasal dari kata fana’ yang berarti rusak atau sirna. Seorang sufi harus meningggalkan segala sifat fana dalam dirinya sebagai manusia sekaligus menyatakan keabadian sifat tuhan.

C. Tarekat Qadariyah

Tarekat Qadariyah merupakan salah satu tarekat yang dinisbahkan pada pemimpinnya yakni Syekh Abdul Qadir al Jaelani. Tarekat ini merupakan tarekat yang usianya paling tua dengan daerah penyebaran terluas sampai kawasan Asia dan Afrika.

Terdapat sejumlah faktor mengapa al Jelani memiliki pengaruh besar, yakni :

1. Faktor keturunan (nasab) yang dekat dengan Nabi Muhammad.

2. Faktor kedalaman spiritual dan karamat yang dimilikinya.

3. Faktor kepercayaan masyarakat terhadap barokah yang dapat diperoleh dari al-Jailani.

Adapun konsep tasawuf amali Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang termaktub dalam kitab al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haq yang ditetapkan sebagai tujuh ajaran dasar Tarekat Qodiriyah yakni:

a. Mujahadah, yaitu melawan hawa nafsu dan membentenginya dengan takwa dan takut terhadap Allah Swt.

b. Tawakkal, yaitu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Swt.

c. Akhlak yang mulia baik kepada Allah Swt. maupun kepada sesama

d. Syukur, yakni pengakuan atas nikmat Allah Swt.

e. Sabar. Ada tiga macam :

1) Sabar karena Allah Swt

2) Sabar bersama Allah Swt

3) Sabar atas Allah Swt

f. Ridha, yaitu menerima semua yang telah ditetapkan oleh Allah Swt

g. Jujur yang disebutkan dalam kitab Adhwa’ yakni mengungkapkan baik yang tersembunyi dan yang terbuka.