3 tahun lalu · 1187 view · 2 menit baca · Politik carl-schmitt.jpg
[Foto: skepticism.org]

Konsep Politik Carl Schmitt
Mengurai Krisis Politik melalui Distingsi Kawan-Lawan

Ketika teori politik dengan praktik kesehariannya tak seirama, maka di titik inilah muncul apa yang kita kenal sebagai “krisis politik”. Krisis politik tentu tak hanya berpengaruh pada tingkat elite para pengambil kebijakan. Pengaruhnya, langsung ataupun tidak, jelas juga berdampak pada praktik kehidupan masyarakat secara umum, bahkan individu pada khususnya.

Itulah mengapa krisis politik patut kita urai, tidak hanya oleh negara, tapi juga individu yang punya kesadaran politik. Bahwa krisis politik harus menempati posisi sentral dalam setiap perbincangan atau diskursus keseharian kita.

Bicara soal krisis politik, Husserl menyebut realitas yang demikian ini adalah “krisis epistemologis”, atau oleh Heidegger disebut sebagai “pelupaan akan Ada”. Senada dengannya, Carl Schmitt, seorang teoritikus politik sekaligus pengkritik ulung liberalisme, secara tajam menyebut krisis model ini sebagai “depolitisasi”. 

Secara definitif, berbeda dengan pandangan pemikir politik sebelumnya (Hannah Arendt), Carl Schmitt memandang politik sebagai sesuatu yang meniscayakan adanya distingsi “kawan-lawan”. Distingsi ini menjadi satu model pendekatan dalam mengurai krisis politik yang oleh Schmitt dipandang sebagai praktik depolitisasi.

Tentu bukan menunjuk pada perbedaan dan pertentangan. Distingsi “kawan-lawan” ini adalah kesatuan antara teori politik dengan praktik kesehariannya. Hemat kata, “kawan-lawan” adalah penggerak politik sebagai politik otentik.

Dalam kehidupan politik, hampir mustahil kita menemukan teori politik sejalan dengan praktik kesehariannya. Kampanye-kampanye politik yang menggebu, kebanyakan hanya berujung sebagai dalih tanpa realisasi. Kata-kata kosong, tindakan mandul. Fakta inilah yang menghantarkan Carl Schmitt menyebut “krisis politik” sebagai “depolitisasi”.

Apa pun itu, bagaimana pun peristilahannya dikonstruk sedemikian rupa, krisis politik berupa depolitisasi tentu menjadi tanggung jawab kita semua, individu, masyarakat, terutama negara. Bahwa depolitisasi muncul dari hasrat untuk menyusun tatanan (Ordnung) sosial-politik yang stabil dan dapat menjadi arah hidup kolektif (Ortung).

Sebagai langkah untuk mengurai depolitisasi dalam kehidupan politik, Carl Schmitt menawarkan satu konsep politik otentiknya. Bahwa membangun kehidupan politis, sekaligus merespons depolitisasi yang akut, hanya mungkin melalui pendekatan distingsi kawan-lawan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pendekatan ini tak lain adalah penggerak politik ke arah otentiknya.

Sebagai pengkritik keras liberalisme, kritik Schmitt umumnya tertuju pada logika-mekanistik. Baginya, logika tersebut lahir dari praktik dalam sistem demokrasi liberal serta kapitalisme yang teknologis-manipulatif.

Kedua bentuk liberalisme di atas, dalam pandangan Schmitt, hanya mampu mencipta mahluk-mahluk politik yang anonim dan terasingkan satu sama lain. Depolitisasi manusia dalam sistem demokrasi liberal berjalan layaknya mesin tanpa jiwa dan karakter.

Meski demikian, satu hal yang patut kita catat adalah, baik depolitisasi maupun dehumanisasi, harus dipahami bahwa keduanya tidak lahir pada diri demokrasi atau kapitalisme itu sendiri. Fakta tersebut muncul lebih kepada cara bagaimana keduanya dipahami, ditafsirkan, dan dijalankan.

Inilah analisis Schmitt yang banyak disalahartikan, bahkan oleh Arendt sekali pun.