"Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya." Ali bin Abi Thalib ra

Demikianlah yang dikatakan Sayyidina Ali yang sekiranya sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya kehadiran seorang teman. 

Sudah pasti tidak ada satupun orang yang ada di dunia ini tidak butuh kepada teman. Dengan kehadirannya lah sehingga suatu pekerjaan yang kita lakukan jadi terasa lebih ringan. 

Jika misalnya kita adalah seorang pelajar dengan tugas yang bertumpuk-tumpuk, kehadiran seorang teman tentu sangat berarti bagi kita. Terlebih lagi jika teman kita itu memiliki pengetahuan lebih akan tugas yang sedang kita kerjakan. 

Atau misalnya kita adalah seorang pebisnis, dan kita ingin bisnis kita itu semakin besar dan sukses. Maka pastinya keinginan kita tersebut mustahil bisa terwujud jika kita melakukannya dengan seorang diri.

Kita butuh teman agar bisnis yang kita geluti bisa berkembang pesat dan sukses. Teman yang sepemikiran dengan kita. Dan semakin banyak teman yang kita ajak bekerjasama maka semakin besar pula peluang akan suksesnya bisnis kita.

Pada intinya, siapapun kita dan apapun profesi kita tetap saja tidak ada alasan apapun yang bisa kita andalkan untuk tidak butuh kepada teman. Kita semua butuh kehadiran teman. 

Apalagi kita sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan untuk bersosialisasi, membangun sebuah hubungan pertemanan merupakan salah satu di antara manifestasi dari kecenderungan tersebut.

Kata Aristoteles teman itu sebuah hunian jiwa tunggal dalam dua tubuh.

Sementara soal menemukan seorang teman mungkin sebagian dari kita hanya melihatnya sebagai perkara yang tidak sulit-sulit amat. Di kafe, di warung makan, di masjid, di gereja, di mobil, atau di manapun kita berada mungkin kita bisa dengan mudah menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun. 

Namun tidak sedikit pula di antara kita yang merasa kewalahan dalam menemukan teman yang dirasa cocok. Dan untuk soal yang ini memang tidak bisa dimungkiri banyak orang yang mengalaminya. 

Dan kita tidak sepatutnya merasa pantas mencela mereka jika ternyata kita adalah tipikal orang yang sangat mudah menjalin hubungan pertemanan yang bahkan terhadap seseorang yang baru pertama kali berjumpa dengan kita.

Karena bisa saja mereka berpikiran yang sama dengan profesor Robin Dunbar yang menyebutkan bahwa berteman bukanlah sekadar kenal nama dan wajah, tapi juga menyangkut kepercayaan, kewajiban, serta hal-hal yang sifatnya pribadi. 

Hal yang sedikit senada juga disampaikan oleh Dr. Suzzane Degges White, seorang profesor dan Ketua Departemen Konseling dan Pendidikan di Northern Illinois University. Menurutnya ada karakteristik tertentu yang mesti diketahui pada pribadi seseorang saat kita ingin menjalin hubungan pertemanan dengannya, agar jalinan hubungan tersebut bisa langgeng dan sehat.

Suzzane kemudian membuat semacam daftar khusus yang dirasanya cukup menunjang untuk terwujudnya sebuah hubungan pertemanan yang sehat. Daftar tersebut mencakup kepercayaan, kejujuran, kesetiaan, keteguhan, empati, pendengar yang baik, suportif, humoris, dan menyenangkan. 

Tentu apa yang disampaikan oleh Robin dan Suzzane di atas bukan hal yang pantas untuk dianggap berlebihan. Justru memang demikianlah seharusnya bahwa kita memang perlu sedikit cerdas dalam menjalin hubungan pertemanan dengan seseorang.

Atau tak perlu jauh-jauh sampai merujuk segala kepada kedua tokoh asing di atas. Karena sejak dari rumah sebenarnya kita sudah dituntut untuk berlaku seperti ini: jangan sembarang dalam memilih teman!

Sebagaimana kebiasaan orang tua kita saat kita masih begitu payahnya menahan tangis sehabis jatuh dari sepeda, saat kita masih ketakutan untuk ke kamar mandi seorang diri di malam hari, pesan-pesan seperti itu selalu kita dengar dari mereka setiap kali kita hendak ingin keluar rumah untuk bermain.

Bukan karena mereka ingin menjadikan kita jadi anak yang ekslusif, anti sosial, dan anak rumahan, tetapi lebih kepada agar nilai-nilai moralitas kita tetap terjaga dengan baik. Sebab bisa dibilang nilai kepribadian kita dan bahkan masa depan kita juga bergantung pada dengan siapa kita berteman.

Hingga pada akhirnya kita sama-sama dibuat penasaran dengan sosok teman seperti apa yang dimiliki oleh Hellen Keller sehingga ia lebih memilih berjalan di tempat yang gelap asalkan bersama dengan temannya. "Berjalan di kegelapan bersama teman lebih baik dari pada berjalan sendirian di dalam terang." Hellen Keller

Barangkali daftar kepribadian yang dibuat oleh Suzzane sudah terangkum secara keseluruhan pada diri teman Hellen tersebut. Sehingga wajar saja jika kemudian ia merasa baik-baik saja saat bersama dengan temannya. 

Dan, teman seperti itulah yang sejatinya diinginkan oleh kita dan orang tua kita. Namun sayangnya, sepertinya kita tidak akan pernah menemukannya. Kita tidak akan pernah merasakan hal yang sama dengan Hellen, ataupun tokoh-tokoh publik lainnya yang bisa menemukan tempat ternyaman pada diri seorang teman. 

Kita tidak seperti dengan mereka. Mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi. Lingkup pertemanan mereka tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu saja. Mereka ingin berteman dengan siapa saja. Mereka menganggap setiap orang layak untuk dijadikan sebagai teman. Sebagaimana mereka yakin bahwa kebaikan hadir dalam diri siapapun.

Bukan berarti mereka tidak patuh kepada orang tua mereka sehingga mereka begitu yakinnya membuka diri terhadap siapapun yang ingin mereka jadikan sebagai teman. Tetapi mereka tidak ingin seperti kita yang pilah-pilih teman dengan alasan bukan karena semata "kejernihan" moralitas (sebagaimana yang diinginkan orang tua kita), melainkan karena lebih mengedepankan ego dan gengsi.

Dan, inilah konsep pertemanan yang sangat buruk. Saat di mana ketika kita hanya ingin berteman dengan mereka yang seideologi dengan kita, yang sekeyakinan dengan kita, yang seagama dengan kita, yang semazhab dengan kita, yang satu bahasa dengan kita, yang sekultur dengan kita, yang seprofesi dengan kita, yang sehobi dengan kita dan seabrek se se se yang lainnya.

Jiwa sosial kita sangat begitu rendah. Teman bagi kita hanyalah bagi mereka yang memiliki kesamaan dengan kita. Seolah harga diri kita jadi ternodai saat berbaur dengan mereka yang berbeda dengan kita. Maka jangan heran jika kita tidak bisa memahami saudara seperti apa yang dimaksud sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam sebuah ungkapannya "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan."

Dalam buku "Elixir Cinta Imam Ali" karya Murtadha Mutahhari disebutkan rahasia alasan di balik mengapa seseorang hanya ingin berteman dengan mereka yang memiliki kesamaan dengannya. 

Sebagaimana dalam pembahasan metafisika yang menyebutkan bahwa bersatunya dua sesuatu itu disebabkan karena adanya kesamaan umum yang dimiliki oleh keduanya. Hal tersebut rupanya juga berlaku dalam lingkup kehidupan sosial kita.

Maka menjadi wajar jika di mana-mana kita banyak jumpai seorang dokter misalnya, cenderung lebih akrab dengan sesamanya saja, begitupun dengan para pejabat, tokoh agama, artis, dosen, guru dan yang lainnya.

Barangkali dari konsep pertemanan yang seperti inilah asal muasal lahirnya para pemimpin yang enggan berbaur dengan rakyatnya, yang enggan mendengarkan jeritan rakyatnya, para tokoh agama yang selalu merasa benar di hadapan jamaahnya, dosen yang merasa direndahkan ketika duduk santai membicarakan hal-hal remeh dengan mahasiswanya, serta orang-orang kaya yang merasa jiji mengunjungi rumah orang-orang miskin.

Dan pada akhirnya akal kita pun juga akan selamanya terasa dangkal dengan sebuah petuah yang disampaikan oleh Aristoteles ini: "Menjadi teman siapa saja berarti tidak berteman dengan siapa-siapa."