Menurut Al-Quran manusia dikenal dalam tiga kata yang biasa diartikan sebagai manusia, yaitu al-basyar, al-ins (insan), dan an-annas (Abdullah, 2017:334). Ketiga term nama tersebut memiliki masing-masing perspektif. 

Pada umumnya manusia merupakan mahkluk yang memiliki banyak potensi dalam dirinya, sehingga manusia dikatakan sebagai mahkluk yang sempurna di bandingkan mahkluk ciptaan Tuhan yang lain. Afrida (2018) setidaknya menjelaskan bahwa Manusia Adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah baik secara rohani maupun jasmani (Afrida, 2018:45). 

Selama sejarah kehidupannya, manusia terus senantiasa berusaha memahami hakikat dirinya (Priatna dan Ratnasih,:1). Manusia yang dibekali oleh Tuhan akal dan hati sebagai aspek penting dalam diri manusia untuk dijadikan sebagai patokan dalam bertindak. 

Manusia juga disebut mahkluk yang paling mulia. Mengapa disebut Mulia.? Dengan aqal manusia menjadi bermanfaat untuk seluruh mahkluk hidup dimuka bumi, dengan hati manusia menjadi lemah lembut serta menebarkan kasih sayang sesama mahkluk Tuhan. 

Sehingga perlu adanya kesadaran diri kepada setiap insan, hakikat kita dicipatakan sebagai manusia. Di zaman modern ini, dengan hiruk pikuk keadaan dunia saat ini (Globalisasi) yang begitu menjauhkan kehidupan dunia dan akhirat (sekulirisme) membuat kita sebagai mahkluk yang diciptakan oleh Allah tidak mampu mengenal diri. 

Banyak diantara manusia lain menjadikan manusia lainnya sebagai batu locatan untuk meraup keuntungan besar. Menipu serta saling membunuh sesama manusia, mengeksploitasi manusia dijadikan sebagai budak dan lain sebagainya. Menjadikan hakikat manusia itu menjadi tak ternilai. 

Menurut Toni Pransiska (2016:2) hakikat manusia menurut Islam adalah wujud yang diciptakan, maksudnya ada fitrah manusia yang digunakan untuk hidup di dunia ini. Namun seperti penulis jelaskan di atas, dengan perkembangan teknologi manusia tidak lagi memikirkan apa sebenarnya tujuan penciptaannya.

Selain tiga nama yang dikenal dalam Al-Quran tentang manusia, ada satu term yang coba penulis angkat yaitu tentang konsep manusia kuntum khaira ummah (kamu adalah umat terbaik yang dicipatakan untuk manusia). 

Konsep ini kemudian melihat secara umum, dengan perkembangan zaman ini harus ada konsep khairah ummah atau manusia harus benar-benar kembali kepada konsep bahwa manusia adalah mahkluk terbaik yang seharusnya mampu menjadi sebagai moderasi umat dalam mengembalikan hakikat kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya.

***

Manusia merupakan makhluk-Nya paling sempurna dan sebaik baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal pikiran (Muhlasin, 2019:47). Dengan akal manusia bisa mengingkari perintah Allah, dengan akal pula manusia bisa menaati perintah Allah. Didalam Al-Quran selain nama al-basyar, al-insan (ins) dan an-annas, ada nama lain yang penulis anggap tidak sesering disebut dalam suatu materi tentang manusia. 

Nama lain yang dimaksud adalah khairah Ummah dalam beberapa literatur. Penjabaran konsep khaira ummah da­lam ayat Al-Quran surah Ali Imran : 110 menurut kalangan tafsir ialah menebarkan energi positif teru­tama kepada umat manusia tanpa membe­dakan jenis kelamin. 

“Kamu ada­lah umat (manusia) yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mung­kar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mer­eka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". (Q.S. Ali 'Imran/3:110). 

Jika di sandingkan khairah ummah ini sebenarnya dalam gerakan praksis, ini mirip dengan manusia yang disebut dengan An-annas yaitu mahkluk sosial. Karena manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Jika Annas dalam konsep lain yang identik dengan hubungan manusia dan yang lainnya, maka khairah ummah menginginkan agar manusia kembali kepada fitrahnya diawal penciptaan sebagai khalifah serta menerbarkan energy positif sesama manusia. 

Dalam bahasa Kuntowijoyo manusia seharusnya benar-benar menjadi seorang manusia yang baik hati, baik ahklaknya serta tidak menjadi manusia yang bersifat binatang (Kuntowijoyo:2006). Realitas kehidupan saat ini dengan dipengaruhi perkembangan globalisasi membuat manusia lupa dengan hakikat diciptakannya. 

Terjadinya pembunuhan, terjadinya kasus eksploitasi manusia menunjukkan bahwa konsep yang di ajarkan Al-Quran yang menyebut manusia adalah umat terbaik yang di ciptakan untuk manusia itu tidak terpatri dalam diri setiap insan.

Khairah ummah juga menginginkan agar tidak adanya saling membedakan antar golongan, etnik, ke­waarganegaraan, warna kulit, agama, dan kepercayaannya masing-masing.

 Ayat diatas menurut ahli tafsir yang dimaksud khairah ummah adalah umat atau masyarakat yang senantiasa menyuarakan kebenaran, kebaikan (ma’ruf) serta mencegah kemunkaran. Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Islam sebagai Ilmu setidaknya ada tiga point dari tafsir ayat tersebut.

  • ***
  • Humanisasi menurut beberapa pengertian diartikan sebagai proses memanusiakan manusia dari Dehumanisasi. Menurut kuntowijoyo realitas saat ini manusia tidak lagi mengetahui hakikat ia diciptakan dan hidup di dunia ini (Kuntowijoyo, 2006: 57).  

  • Olehnya itu kuntum khairahn ummah seharusnya menjadi penyadaran kepada umat manusia nahwa kita ini merupakan umat terbaik, manusia terbaik yang diciptakan untuk manusia pula, manusia yang seharusnya mengerti bahwa kita adalah seorang mahkluk yang tiada tanding, mahkluk yang di agungkan oleh Tuhan. 

  • Jadi salah apabila masih ada diantara kita yang menganggap dirinya hina dan tak memiliki apa-apa.

  • Liberasi kata ini jika di sandingkan dengan ayat tersebut maka akan menjadi sebuah konsep yang menurut kuntowijoyo sebagai gerakan Amar ma’ruf nahi munkar. 

  • Maksudnya adalah seorang manusia memiliki tugas untuk menyampaikan kebenaran serta kebaikan dan kemudian mencegah dari pada kemungkaran. Setidaknya liberasi ini mampu mengeluarkan manusia dari belenggu kebodohan sosial politik serta agama pendidikan dan budaya. Sehingga dari gerakannya ini akan tercipta manusia khairah ummah.

  • Sedangkan dengan transedensi menurtut kuntowijoyo setelah kita mampu kembali merefleksikan diri kita sebagai umat terbaik, atau manusia yang terbaik dan mulia. Tidak lagi menganggap bahwa seorang manusia itu dipandang dari status sosialnya dan lain sebagainya. 

  • Kita di hidupkan di dunia ini sebagai manusia terbaik untuk kembali memanusiakan manusia agar tidak adanya dehumanisasi dikalangan manusia. Karena yang membedakan kita dimata Allah adalah kadar keimanan sesorang bukan status sosialnya.

Kemudian setelah dehumanisasi dihapuskan maka tugas kita adalah menyuarakan kebenaran serta mencegah kemungkaran di muka bumi ini. Manusia hidup didunia ini mengemban amanah sebagai khalifah untuk mewakili Tuhan mencegah adanya pertumpahan darah dan sebagainya. 

Setelah itu tercapai maka transendensi harus menjadi tempat kembali umat manusia yaitu kepada Allah swt. Transendensi ini berkaitan dengan ayat Watuminunnah Billah (dan beriman kepada Allah).