Salah satu pemikiran Ali Syariati yang banyak mempengaruhi masyarakat dan membentuk kesadaran kolektif adalah pemikirannya tentang konsep manusia ideal. Ali Syariati menjelaskan bahwasannya manusia memiliki dua unsur, yaitu kehinaan dan kesucian. kemudian manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk memilih antara kedua unsur tersebut. 

Ketika manusia melakukan kebaikan maka dia menuju ke arah kesucian, dan sebaliknya, ketika manusia melakukan keburukan maka ia menuju ke arah kehinaan. Ali Syariatai  menggambarkan bahwasannya Islam memandang manusia sebagai makhluk yang sempurna dan lebih tinggi dari malaikat, yang diberikan tugas oleh Allah sebagai Khilafah dan menjadi wakilnya di atas bumi ini.

Dengan mengemban misi pemegang amanat. Maka dari itu,  manusia sebagai makhluk yang diberikan keistimewaan oleh Allah harus membela keadilan dan memerangi kezaliman. Dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan konsep manusia ideal atau filsafat manusia Ali Syariati yang akan memberikan gambaran kepada pembaca bahwasannya Islam sebagai agama memiliki dua dimensi, yaitu dimensi spiritualitas dan dimensi sosial kemasyarakatan.


ASAL-USUL MANUSIA DALAM KONSEP ALI SYARIATI

Ali Syariati menjelaskan penciptaan adam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, pada mulaya Allah memberitahu kepada para malaikat bahwasannya ia akan menciptakan khalifah atau wakilnya di bumi sebagai pengemban amanah. Dalam memilih manusia sebagai penggantinya di atas bumi, Allah menganugrahkan status spiritual tertinggi kepada manusia.

Dengan demikian mempercayakan kepada manusia sebagai makhluk yang paling sempurna untuk mengemban misi suci di alam ini. Di atas bumi ini, manusia mengemban misi mewakili tuhan dan merepresentasikan  kualitas-kualitasnya. Dan ini merupakan sifat utama yang paling penting yang dimiliki oleh manusia di antara makhluk-makhluk yang telah diciptakan oleh Allah.

Keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia membuat para malaikat bertanya-tanya apakah Allah akan menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah, berbuat kejahatan, dan balas dendam. Pertanyaan yang diajukan malaikat kepada Allah tampaknya malaikat ingin mengetahui apakah Allah akan menciptakan jenis manusia yang sama

yang akan mengulangi dosa-dosa manusia sebelumnya, ataukah Allah akan memberikan kesempatan kedua bagi jenis manusia baru itu di atas muka bumu ini. Akan tetapi Allah menjawab sesungguhnya akau lebih mengetahui dari apa yang tidak engkau ketahui.

Setelah Allah menjawab pertanyaan dari malaikat tentang penciptaan manusia, lalu Allah mulai menciptakan manusia sebagai wakil dan khalifahnya, dari tanah, dari bentuk yang paling rendah, tanah liat hitam atau lempung yang berdebu. Ali Syariati mengutip ayat Al-Qur’an dalam proses penciptaan manusia. 

Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa substansi atau bahan pertama dalam menciptakan manusia adalah Tanah Tembikar, lalu Al-Qur’an juga menyebutkan Air yang Hina atau tanah yang membusuk, lalu Al-Qur’an menyebut dari Tanah sederhana.

Berbagai tempat dalam Al-Qur’an, Allah menunjukkan bahwa substansi manusia dari air mani, tetapi Allah mengingatkan bahwa dari air mani yang nista itu, ia menciptakan makhluknya yang terbaik. Allah menjelaskan dalam Qs. Assajadah: 7-9 “Dialah yang telah menyempurnakan segala sesuatu yang diciptakannya dan ia telah memulai pembuatan manusia dari tanah, kemudian ia sempurnakan kejadiannya dan ia tiupkan kepadanya sebagian dari spiritnya

Kemudian dari tanah liat itu, Allah menciptakah Khalifah atau wakil bagi dirinya. Dari tanah liat kering itu, kemudian Allah meniupkan sebagian dari Ruh-nya dan kemudian lahirlah manusia. manusia tersebut lahir dari dua hakikat yang berbeda yaitu tanah bumi dan ruh suci. Di dalam terminologi manusia, lumpur adalah simbol dari kerendahan, kenistaan, dan kekotoran. 

Tidak ada sesuatu yang lebih rendah dari pada lumpur di alam ini, yang menjadi substansi manusia diciptakan. Dalam terminilogi manusia juga, Allah adalah maha sempurna dan maha suci. Spirit atau ruh ketuhanan yang berada di dalam setiap makhluk merupakan bagian yang paling sempurna, suci, dan paling murni. 

Akan tetapi, ruh yang maha sempurna, dan spirit ketuhanan yang paling suci di antara semua spirit yang ada di seluruh entitas alam semesta ini, langsung diturunkan oleh Allah kepada manusia. tetapi disisi yang lain, manusia berasal dari bentuk yang rendah yaitu tanah, dan air yang nista sebagai gabungan dari debu atau tanah dan spirit suci.

Ali Syariati mengatakan bahwa kedua hakikat tersebut memiliki hubungan yang kontradiktif, maka dari itu manusia disebut sebagai makhluk dua dimensi. Manusia diciptakan sebagai makhluk dua dimensi, dengan dua arah dan kecenderungan yang berbeda. 

Dimensi yang pertama akan mengarahkan atau membawa manusia ke bawah atau stagnasi ke arah hakikatnya yang rendah, di mana seluruh gerak serta dorongan kehidupannya akan membeku dan statis yang akan membawa manusia ke dalam hakikat yang hina atau terbenam di bawahnya. 

Akan tetapi dimensi manusia yang kedua, yaitu dimensi spiritual cenderung naik ke puncak spiritual tertinggi yaitu mengarah ke zat yang maha suci. Dengan demikian, seperti yang dikatakan oleh Ali Syariati bahwasannya manusia adalah makhluk dengan dua unsur yang kontradiktif, makhluk yang memiliki dua kutub yang saling bertentangan.

Pada hakikatnya, manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk memilih kedua kutub yang saling berlawanan tersebut, antara kutub yang hina dan kutub yang suci dimana kedua unsur ini terdapat di dalam diri manusia, dengan kekuatan potensial yang mengubah dan menarik.

Perjuangan tanpa henti, serta pertarungan  terus-menerus antara kedua kutub tersebut yang berada di dalam diri manusia, yang pada akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih antara kedua kutub tersebut dan pilihan inilah yang akan menentukan nasibnya.

KONSEP MANUSIA IDEAL

Ali syariati menggolongkan manusia menjadi dua bagian yaitu Basyar dan insan Basyar adalah makhluk yang sekedar ada atau berada (being). Manusia digambarkan sebagai makhluk yang nista, yang saling berebut kekuasaan dan menuruti hawa nafsu, yang tidak jauh berbeda dengan kera. 

Sejarah telah membuktikan betapa rakusnya manusia yang selalu membunuh satu sama lain untuk mempertahankan kekuasaan atau makanan. Jadi yang dimaksud dengan basyar adalah makhluk allah yang pasti yang tidak berubah-ubah dalam keadaan fisiknya serta perbuatan-perbuatannya yang terus dilakukan yang tidak jauh berbeda dengan perbuatan manusia zaman dahulu. 

Sedangkan insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) yang terus bergerak maju menuju kesempurnaan, merindukan keabadian, dan tidak pernah menghentikan proses terus-menerus ke arah kesempurnaan. bergeraknya manusia ke arah tuhannya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah definisi manusia dalam keadaannya yang menjadi.

Manusia dalam keadaannya yang menjadi atau manusia yang berusaha menjadi memiliki tiga sifat (atribut) yang saling berkaitan: kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. Bila ia memiliki sifat-sifat lainnya, maka sifat-sifat lain tersebut hanya merupakan derivasi atau sifat-sifat yang diturunkan dari tiga kualitas pokok di atas. Kesadaran diri menuntun manusia untuk memilih.