Sejarah mencatat, salah satu cara dakwah yang dipakai oleh para Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini adalah melalui pendekatan sosial dan kultural. Diantara sekian banyak contoh hasil pendekatan kultural, khususnya dalam bidang seni, yang sampai saat ini masih bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah Tembang Dolanan.

Tembang Dolanan, sesuai dengan namanya, merupakan sebuah tembang (lagu) berbahasa Jawa yang bernuansa santai dan biasanya digunakan untuk mengiringi bermain (dolanan) anak-anak. Secara eksplisit, lirik Tembang Dolanan pun sederhana. Tidak berbahasa sastra tinggi. Tema yang digunakan pun seputar keseharian.

Lagu Gundhul-ghundul Pacul misalnya, siapa yang menyangka bahwa di balik liriknya yang penuh dengan gojekan khas anak-anak, terkandung makna yang luar biasa. Para Wali sengaja memberi piwulang kepada masyarakat dengan cara yang sederhana, sesuai dengan keadaan yang terjadi saat itu. Sehingga penyisipan makna tersirat dalam lirik tembang dolanan bisa diartikan sebagai upaya agar ajaran yang adi luhung tersebut bisa tetap lestari sampai kapanpun. Berikut ini lirik tembang dolanan Gundhul-gundhul Pacul :

Gundhul-gundhul Pacul Cul, Gembelengan

Nyunggi-nyunggi Wakul Kul, Gembelengan

Wakul Ngglempang Segane Dadi Sak Ratan

Wakul Ngglempang Segane Dadi Sak Ratan

Mari kita mengkaji lagu dolanan tersebut dari lirik baris yang pertama. Di sana terdapat kata-kata gundhul, pacul dan gembelengan. Kira-kira makna apakah yang tersirat dari tiga kata tersebut?

Gundhul adalah sebutan untuk kepala yang tidak mempunyai rambut. Kepala, dalam khazanah budaya Jawa menyiratkan sesuatu yang aji, hingga dalam bahasa krama inggil disebut dengan mustaka yang berarti sangat mulia. Jadi kata “Kepala” disini mempunyai arti pemimpin. Sedangkan “Rambut” identik dengan hiasan atau mahkota. Jadi makna dari Gundhul adalah seorang pemimpin tanpa mahkota. Inilah hakikat dan konsep pemimpin yang sebenarnya dalam budaya Jawa.

Sedangkan kata pacul atau cangkul, ada yang mengartikan istilah tersebut sebagai lambang kerakyatan. Pacul mempunyai empat sisi yang terdapat pada lempengan besinya. Empat sisi ini kemudian dimaknai sebagai empat panca indera manusia, yaitu mata, telinga, hidung dan mulut. Jika dihubungkan dengan sifat kepemimpinan, mata berarti digunakan untuk melihat rakyat, telinga untuk mendengar rakyat, hidung untuk mengendus keinginan dan kesulitan rakyat, sedangkan mulut untuk berkata dan memutuskan perkara secara adil dan bijaksana.

Namun ada juga dari sumber lain yang menjelaskan bahwa memang pacul merupakan salah satu alat pertanian yang penuh dengan simbol dan makna. Dalam sebuah cerita dituturkan bahwa dengan sarana pacul, Kanjeng Sunan Kalijaga memberi wejangan tentang kehidupan kepada Ki Ageng Sela, leluhur Panembahan Senopati yang merupakan Raja Mataram Islam.

Pacul terdiri dari tiga bagian, yang pertama adalah plat besi dinamakan sebagai pacul itu sendiri. Kedua adalah bawak, yang merupakan bagian melingkar pada pacul dan dimasukkan doran.  Sedangkan yang ketiga adalah doran, yaitu gagang dari cangkul.

Masing-masing dari tiga bagian pacul juga menyimpan arti. Pertama adalah plat besi yang disebut sebagai pacul. Kerata basanya adalah ngipatna barang kang mecungul, maksudnya adalah membuang barang atau sesuatu yang tidak rata. Tidak rata di sini mengindikasikan sifat kamanungsan kita yang serba tidak ada yang sempurna, tempatnya lupa dan salah. Dalam konteks ini, pacul mengandung makna yang kontruktif, muhasabatun nafsi atau memperbaiki diri.

Bagian dari pacul yang kedua adalah bawak. Kerata basa bawak adala obahing awak atau gerakan tubuh. Makna filosofis dari bawak adalah bahwa kita sebagai manusia selagi hidup wajib untuk selalu berusaha. Sesuai dengan peribahasa Jawa, wong urip iku kudu murup, artinya orang hidup itu harus menyala dan tidak boleh padam.

Sedangkan bagian pacul yang terakhir adalah doran yang berarti donga marang Pangeran, yaitu berdoa kepada Tuhan. Setelah berusaha sekuat tenaga, seorang manusia hendaknya jangan sampai lupa untuk selalu meminta kepada Tuhan dengan memanjatkan do’a.

Masih pada baris yang pertama terdapat kata gembelengan. Kiranya sudah jelas bahwa kata gembelengan mempunyai makna konotasi negatif, seperti sombong, sembrono atau menyepelekan, dan, sembarangan. Kata gembelengan ini ternyata masih dipakai pada lirik baris kedua. Pada lirik lagu baris yang pertama, jika disambung maknanya bisa berarti mengisahkan sosok seorang pemimpin yang sombong dan tinggi hati, menjadi pemimpin hanya sebagai sandangan dhohir saja, sedangkan batinnya hanya mementingkan  ego dan hasrat pribadinya sendiri tanpa peduli pada kawula alit yang dahulu menyokongnya.

Beralih ke lirik baris kedua, Nyunggi-nyunggi Wakul Kul Gembelengan. Ada pemahaman yang kita garis bawahi lirik tersebut, yaitu nyunggi wakul atau wakul yang disunggi. Wakul atau bakul adalah nama wadah untuk nasi atau makanan pokok masyarakat Jawa, sedangakan kata nyunggi adalah membawa dan meletakkan benda di atas kepala.

Hal ini sangat menarik. Kita semakin tahu bahwa lirik lagu dolanan ini tidak sembarangan, benar-benar telah melalui pemikiran yang mendalam. Betapa tidak, mengapa kata yang disandingkan dengan wakul harus nyunggi, padahal banyak juga padanan kata lain yang mempunyai arti membawa, misalnya mikul (menaruh barang di bahu), nyengklek (membawa barang di pinggang) atau nyangking (membawa barang dengan dijinjing). Mengapa harus nyunggi?

Kata wakul menyiratkan makna kepercayaan atau amanat rakyat yang merupakan wadah kesejahteraan. Nasi menyimbolkan kesejahteraan  kawula alit. Nyunggi wakul maksudnya seorang pemimpin harus meletakkan amanat kesejahteraan rakyat  itu di atas kepentingannya sebagai seorang pemimpin. Karena pada hakikatnya seorang pemimpin adalah pamomong, orang yang mengasuh rakyat. Orang yang melayani masyarakat.

Namun apa jadinya jika yang nyunggi wakul bertingkah gembelengan? Jika sang pemimpin yang digadang-gadang untuk mengemban amanat rakyat tersebut sembrono, tidak hati-hati menjaga mandat yang diberikan, berlaku sombong adigang, adigung adiguna. Jawabannya ada dalam lirik terakhir, yaitu wakul ngglempang segane dadi sak ratan. Lirik tersebut diulang dua kali mengisyaratkan hal yang seyogyanya sebagai peringatan.

Wakul yang nggelempang, amanat rakyat yang disepelekan, kesejahteraan yang tidak dijaga dengan baik, maka sego atau nasinya akan jatuh berserakan. Maka kepemimpinan itu tidaklah mampu menciptakan keadilan melainkan hanya kesia-siaan yang menunggu kehancuran. Nasi yang tercecer di jalan hanya bisa dimanfaatkan sebagai sampah atau makanan ayam. Kesejahteraan yang diidamkan nyatanya hanya ilusi semata, hanya bayangan fatamorgana.

Demikian sedikit yang bisa saya maknai dari lirik lagu dolanan gundhul-gundhul pacul. Semoga kita semua bisa mengambil tepa tuladha dari makna yang terkandung di dalamnya. Semoga Indonesia terhindar dari seorang pemimpin yang gembelengan. Adapun jika ada wakul yang mau ngglempang, mari saling mengingatkan, segera kita tegakkan kembali agar sega tidak sampai tercecer di jalanan.

                                                                                                                   Gresik, 13 November 2019