Politisi
9 bulan lalu · 2394 view · 4 menit baca · Politik 66833_50256.jpg
http://www.maicar.com/GML/Andromache.html

Konsep Kehormatan Yunani Kuno

Kisah Perang Troya

Salah satu penggalan kisah menarik yang diceritakan Homerus dalam buku keenam epik Yunani The Iliad adalah pertemuan antar Glaucus dan Diomedes di tengah peperangan Troya.

Diomedes – setelah berhasil mengalahkan banyak pejuang Troya dan bahkan menyakiti para Dewa –  tertarik dengan sosok Glaucus yang berani berhadapan dengannya. Diomedes khawatir Glaucus sebenarnya seorang dewa yang menyerupai manusia. Ia tak mau lagi menyerang para Dewa karena sadar akibatnya akan fatal di kemudian hari.

Namun Glaucus bukanlah dewa. Ia hanyalah seorang pejuang dengan cerita. Dalam suasana perang yang begitu mencekam itu, Glaucus menceritakan kepada Diomedes bahwa kakeknya Bellerophon adalah seorang yang begitu tampan dan luar biasa. Orang memanggilnya dewa karena ia tak pernah berbuat salah. Bellerophon menikah dengan putri Raja Lycia dan kemudian memiliki tiga orang anak: Isander, Hippolochus, dan Laodamia. 

“Aku bangga menyatakan bahwa Hippolochus adalah ayahku. Dia mengirimku ke Troya. Pesannya masih nyaring terdengar di telingaku. ‘Jadilah yang terbaik, anakku, jadilah seorang yang paling berani. Tegakkan dengan tinggi kepalamu di atas yang lain. Jangan memalukan generasi leluhurmu. Mereka adalah orang-orang pemberani dan hebat yang lahir di Korinthos, di Lycia, dan sekitarnya’. Itulah garis keturunanku, darah biru yang aku miliki!” cerita Glaucus. 

Setelah menyadari bahwa ada keterkaitan antara leluhur mereka, keduanya tak saling membunuh dan justru bertukar baju perang sebagai bentuk penghormatan terhadap persahabatan antar keluarga. Tapi poin penting yang harus digaris bawahi di sini adalah betapa pentingnya mengetahui garis keturunan seseorang dalam Yunani kuno. 

Kolom sebelumnya menjelaskan bagaimana Diomedes diharapkan mampu menjadi seperti ayahnya, Tydeus, seorang pejuang hebat yang berhasil menaklukan kota Thebes.

Sebenarnya dalam The Iliad, justru kita dapat memahami bagaimana Homerus sendiri sebagai sosok yang menceritakan kisah perang Troya ini mementingkan garis keturunan dari setiap tokoh yang ia ceritakan. 

“Bucolion, son himself to the lofty King Laomedon,
first of the line, though his mother bore the prince 
in secrecy and shadow.” (6.26-28) 

“Take me alive, Atrides, take a ransom worth my life! 
Treasures are piled up in my rich father’s house, 
bronze and gold and plenty of well-wrought iron—
father would give you anything, gladly, priceless ransom 
if only he learns I’m still alive in Argive ships!” (6.54-58) 

“But the son of Cronus, Zeus, stole Glaucus’ wits away. 
He traded his gold armor for bronze with Diomedes, 
the worth of a hundred oxen just for nine.” (6.280-282)

Tiga kutipan di atas adalah sedikit contoh bagaimana Homerus tidak pernah luput untuk menyebutkan siapa orangtua atau ayah, khususnya dari tokoh yang ia ceritakan. Kita bisa melihat ia menyebut Bucolion sebagai anak dari Raja Laomedon, menyebut Atrides untuk memanggil anak Atreus, Agamemnon dan Menelaus, dan menyebut Cronus sebagai ayah dari Dewa Zeus.

Sekali lagi, ini hanyalah sedikit contoh. Jika kita membaca setiap buku dalam The Iliad, Homerus selalu menekankan tentang “anak siapa”. 

Dalam buku keenam ini, diceritakan pula tentang Hector yang kembali ke kotanya, Troya. Semua orang, terutama istrinya Andromache, resah memikirkan suaminya karena kematian jauh lebih dekat dibanding kemenangan. Hector menggendong putranya yang masih bayi itu dan berdoa untuknya.

Menariknya, ia bukan mendoakan keselamatan putranya. “Dewa Zeus, berikan anakku kemuliaan di antara para pasukan Troya, jadikan ia berani dan kuat sepertiku, dan mampu memerintah Troya. Agar kelak mereka bisa berkata, 'Dia lelaki yang lebih baik dari ayahnya!’” begitulah doa Hector kepada Dewa Zeus.  

Doa Hector sebenarnya menjelaskan kepada kita bahwa cerita-cerita mengenai garis keturunan yang ada dalam The Iliad menunjukkan kuatnya konsep kehormatan dalam Yunani kuno. Konsep kehormatan yang dimaksud dalam hal ini adalah menjaga nama baik keturunan atau keluarga. Setiap pejuang, baik itu dari Akhaia maupun dari Troya, diharapkan mampu menjaga kehormatan keluarga dengan menjadi pejuang-pejuang terbaik dalam medan peperangan. 

Mereka harus mampu membuktikan bahwa mereka sama baiknya – kalau tidak lebih baik – dari leluhur mereka. Jika mereka tak mampu membuktikan, itu akan menjadi penghinaan dan mencoreng nama baik keluarga. Persis seperti yang dinyatakan Raja Agamemnon kepada Diomedes dalam buku empat.

Apa ini? Kau, putra Tydeus, si pemikat kuda yang terampil? Mengapa meringkuk di sini? Hanya bisa menatap lorong-lorong pertempuran! Malu dan berada di belakang garis bukanlah cara Tydeus.

Sejak itu Diomedes dalam buku-buku selanjutnya membuktikan bahwa ia juga sehebat ayahnya. Bahkan akhirnya Helenus, anak Priam, mengakui bahwa Diomedes adalah pejuang Akhaia terkuat saat itu. 

Konsep kehormatan keluarga yang ada dalam Yunani kuno sebenarnya secara langsung atau tidak langsung telah menciptakan fanatisme buta terhadap golongan. Sebab, mereka tak melihat lagi apakah yang dilakukan oleh leluhur mereka salah atau benar. Yang terpenting bagi mereka adalah melanjutkan tradisi pembuktian kekuatan dalam medan peperangan. Mereka telah menanggalkan sisi kritis dalam melihat sejarah dan masa lalu para leluhur.  

Di sisi lain, cara pandang semacam ini juga telah melahirkan dinasti-dinasti politik yang dibayangkan akan mampu merealisasikan kehebatan leluhur mereka yang memiliki kontribusi besar terhadap bangsa. Persoalannya, kehebatan ayah, ibu, kakek, atau nenek di masa lalu tak selalu menentukan keturunannya akan menjadi sehebat itu pula. 

Karena itu, kita sering kali kecewa ketika anak tokoh besar tidak mampu menghasilkan ide atau gagasan brilian seperti ayah atau ibu mereka. Padahal ekspektasi pada seseorang yang dilandasi nama besar keluarga seperti itu hanya membuat kita berkutat pada cara pandang yang kuno.

Biarkanlah seseorang membesarkan namanya sendiri dengan pembuktian. Jika ia mampu membuktikan, itu karena dirinya dan kerja kerasnya, bukan karena “anak siapa”. Itu langkah awal kita mengganti cara pandang kuno dan menuju cara pandang modern: meritokrasi.