Fenomena hijrah sering dipahami sebagai suatu fenomena yang dimaknai oleh sebagian kelompok ekstrimis bersifat radikal dan ke arah yang cukup politis. 

Sejatinya, konsep hijrah dalam dunia Islam memberikan pengertian mendasar yang berupaya untuk menjadikan diri seseorang ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.Artinya, seseorang diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada lingkungan, keluarga dan bahkan negara untuk suatu keadilan.

Ketika kita menilik fenomena hijrah di Indonesia, maka kita akan menemukan aspek yang beragam. Fenomena hijrah ini memiliki konteks yang berbeda, beberapa kalangan Islam lainnya terinspirasi dari gerakan Ikhwanul Muslimin, Wahabi, Hizbut Tahrir, Tarbiyah, dan Salafi. Bahkan, doktrin hijrah ini kerap dimaknai dengan gerakan jihad. 

Hal ini diperlihatkan dengan beberapa perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang berhijrah, seperti dari aspek pakaian. Bagi kaum laki-laki, dari penampilan yang biasa saja hingga berjenggot dan menggunakan celana cingkrang, dan lainnya. Bagi perempuan, perubahan penampilannya dengan menggunakan jilbab panjang hingga menggunakan cadar.

Di tengah situasi politik yang semakin memanas di Indonesia, fenomena hijrah tumbuh subur di kalangan Muslim perkotaan. Hal yang menarik dari fenomena hijrah ini adalah begitu banyak generasi milenial yang berpenampilan cool tapi tetap Islami, seperti menggunakan jilbab dengan penampilan yang medern. 

Tak hanya generasi milenial, beberapa kalangan selebriti lainnya juga ikut, bahkan di antara mereka juga ikut bergabung dengan beberapa komunitas Islam lainnya.

Fenomena hijrah ini memberikan dampak yang beragam bagi Muslim perkotaan. Di antaranya, menjadi pengusaha di bidang busana Muslim, bahkan bagi sebagian selebriti tanah air, ada juga yang berani meninggalkan statusnya sebagai pemain film. Tak jarang di antara selebriti ini juga mendadak jadi penceramah. Padahal, mereka tidak memiliki latar belakang keagamaan yang kuat.

Di antara selebriti yang mendadak menjadi seorang penceramah ini mendapatkan legitimasi sebagai seorang pendakwah melalui kepopulerannya sebagai selebriti, seperti Oki Setiana Dewi, Umi Pipik yang merupakan istri dari almarhum Ustaz Jefri, Peggy, dan Neno Warisman, serta yang lainnya. 

Dalam tulisan ini, fenomena hijrah yang saya potret dari kalangan Muslim perkotaan adalah fenomena hijrah di kalangan selebriti.

Masyarakat perkotaan dengan ritme kesibukan dan kondisi kehidupan yang beragam, tak jarang  memicu mereka stres dan depresi. Oleh karena itu, mereka sangat membutuhkan siraman rohani. 

Beberapa dari mereka mencari guru spiritual atau mendengarkan ceramah agama melalui media sosial yang lebih instan. Hal ini membuat mereka memilih untuk hijrah dan bergabung dengan komunitas Islam untuk mendapatkan bimbingan hidup yang lebih baik.

Salah satu komunitas Islam yang cukup populer di kalangan Muslim perkotaan dan selebriti lainnya adalah komunitas hijrafest, Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Yuk Ngaji, One Day One Juz, dan masih banyak lagi komunitas berdakwah yang digandrungi dan populer di tengah masyarakat Muslim perkotaan. 

Dalam melakukan aktivitas berdakwah, komunitas ini kerap menghadirkan beberapa ulama atau ustaz ternama di tanah air, seperti ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Hanan Attaki, dan sederet ustaz lainnya yang memiliki genre dakwah seputar hijrah dan anak muda.

Kegiatan berdakwah dan fenomena hijrah ini pun mendapatkan apresiasi baik dari kalangan pejabat, ulama, dan pemuka agama. Seperti Anies Baswedan, dia sangat mengapresiasi komunitas hijrafest yang sebagian besar dipelopori oleh kalangan selebriti. 

Hal ini terlihat dari kehadiran Anies Baswedan dalam acara dakwah yang digagas oleh hijrahfest pada tahun 2019 dengan mengunggahnya melalui akun Istagram pribadi. Selain itu, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah  turut mengapresiasi dan memberikan semangat kepada anak muda dan Muslim perkotaan lainnya yang memiliki kemauan untuk berhijrah dengan memperdalam ilmu agama melalui kajian dan komunitas Islam lainnya.

Pengawasan dan bentuk apresiasi dari kalangan NU dan Muhammadiyah ini sangat penting, mengingat mereka yang sedang melakukan hijrah agar tidak terjerumus pada hijrah yang menyimpang dari ajaran Islam. 

Artinya, memberikan pengawasan dan ajaran Islam yang baik, agar tidak melakukan hijrah yang berujung pada jihad yang salah kaprah dan melakukan tindakan radikal hingga terorisme dengan embel-embel menegakkan khilafah. 

Hal ini penting digarisbawahi, mengingat telah banyak kejadian hijrah berupa jihad yang berujung pada tindakan radikalisme (Andang Sunarto, 2017). Bahkan, narasi-narasi hijrah ini begitu banyak berseliweran di buku-buku hingga media sosial (Hasan, 2018).

Oleh karena itu, penting bagi anak muda dan Muslim perkotaan lainnya memilih dengan bijak sumber dan hukum agama, agar tidak terjerumus kepada hijrah yang salah kaprah. Dengan begitu, penting kiranya mengutamakan ustaz atau kyai dengan latar belakang pendidikan keagamaan yang kuat. 

Alih-alih bagi anak muda yang baru berhijrah agar tidak mendoktrin seseorang dengan benar dan salah, atau bahkan mendadak jadi pendakwah tanpa latar belakang ilmu keagamaan yang kuat.