Kehidupan seseorang memang tidak pernah bisa kita prediksi dengan mudah. Segala persoalan yang timbul merupakan sebuah gejala alamiah yang masing-masing orang berbeda saat merasakan berbagai macam masalah yang dihadapi.

Ada orang yang menerima masalah dengan pikiran terbuka dan mencari jalan keluar dengan pikiran yang tenang dan santai. Sebagian lainnya memilih untuk memendam dan menyelesaikannya dengan caranya sendiri. 

Lain hal lagi dengan orang yang menjadi depresi karena terus memikirkan persoalan yang datang tiba-tiba dan dirasakan begitu menyulitkan.Kategori terakhir seringkali kita lihat. 

Tipikalnya hampir sama dengan kebanyakan orang, dalam beberapa penilaian saya sendiri, mereka begitu mengeluhkan setengah putus harapan sehingga dilanda kesedihan yang dalam. Tentu saja semua memiliki cara berekspresi sesuai dengan kemampuan dan pengalaman mereka sendiri-sendiri.

Tidak satupun dari kita yang berhak menghakimi orang yang memiliki masalah dengan cara pandang kita dari posisi luar. Persoalan terjadi tentu saja karena hal itu merupakan keadaan yang akan ditemukan dan dihadapi semua makhluk. Kenyataan ini merupakan sebuah hal yang lumrah. 

Masalah seringkali dianggap sebagai biang kerok yang menyusahkan kehidupan seseorang. Sebuah masalah yang amat sepele akan menjadi serius jika menimpa seorang yang sensisit, laki-laki maupun perempuan. Contoh yang banyak kita temukan. 

Lihat saja bagaimana seseorang ketika ia ditinggalkan orang yang begitu ia cintai. Seorang suami ditinggal mati istrinya, seorang istri diceraikan suaminya, seorang anak ditinggalkan pergi ayah dan ibunya.

Segala persoalan sejenis yang lebih cenderung membentuk kepribadian orang tersebut setelahnya. Kesedihan. Itulah yang menjadi salahs atu masalah utama dalam kehidupan manusia. 

Orang yang mampu mengatasi kesedihan adalah orang yang memang secara pengalaman fisik dan mental telah menyadari bahwa kesedihan bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja.

Golongan orang ini tentu menjadi realistis dan tidak akan lama dirundung kesedihan yang dialaminya. Perlahan-lahan ia akan bangkit dengan sendirinya setelah ia menata semua sikap untuk melangkah maju ke depan melupakan apa yang menimpanya di waktu lalu.

Ada golongan lain yang oleh karena saking terpukulnya tidak bisa move on yang berarti tidak bisa bangkit dari keterpurukan akan kesedihan yang ia alami karena merasa shock dan terkejut dengan kejadian yang tidak pernah ia sangka-sangka. Golongan inilah yang membutuhkan seorang konselor ataupun psikolog.

Peran Penting Konselor

Saya tidak akan berbicara sudut pandang psikologi dalam penanganan seorang yang mengalami gangguan mental, melainkan dari sudut pandang konseling. Konseling merupakan sebuah proses penanganan pasien dengan tingkat depresi rendah hingga ke berat.

Namun pada prinsipnya, konselor bertugas memberikan stimulan kepada pasien konseling untuk menjadi orang yang terbuka dan tidak ada ruang tertutup antara konselor dan pasien yang bersangkutan.

Keterbukaan ini bahkan untuk hal yang sangat mendetail, dari segi kehidupan pribadi sampai pada kehidupan umum yang dijalani oleh seorang pasein depresi ataupun gangguan mental. 

Seni konseling adalah memberikan kenyamanan kepada pasien untuk membuka diri dan mengungkapkan semua persoalan yang sedang ia hadapi, tetapi dengan teknik pertanyaan yang teratur.

Orang yang depresi cenderung lebih banyak diam dan tertutup. Sekalipun ia ceria, tentu masih menyimpan sebuah pikiran yang menjadi beban dalam kehidupannya. 

Semua persoalan itu menjadikan diri orang yang depresi kewalahan dengan berbagai pikiran-pikirannya tentang apa yang akan dilakukan jika terjadi sesuatu.

Ramai dalam pikirannya adalah memikirkan segala hal dari yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan, menjadi teramat berat jadi pikiran. Keadaan itulah menjadikan seseorang mengalami depresi ringan, karena tidak mampu memanajemen apa yang menjadi prioritas.

Disinilah peranan konseling. Kesadaran akan pentingnya keberadaan seorang konselor harus dicermati karena merupakan sebuah alternatif pilihan dalam membantu orang-orang yang merasa terganggu mentalnya, baik ringan, sedang bahkan hingga ke berat.

Tugas seorang konselor adalah memberikan kenyamanan kepada seseorang yang depresi dan mengalami gangguan mental agar ia mampu menjadi pribadi yang terbuka. 

Oleh sebab itu, dikenal dalam istilah konseling 5M (Mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan, mengomentari dan baru memberi solusi). Dua M yang terakhir perlu dilakukan jika itu diminta dalam keadaan memungkinkan.

Jika itu tidak diminta oleh pasien yang bersangkutan, maka 3M yang pertama sudah cukup dilakukan oleh seorang konselor. Penting untuk diingat, seorang konselor bukanlah ahli dalam menyelesaikan persoalan, karena tipe-tipe problem hidup setiap orang berbeda-beda. 

Hal inilah yang menjadi penting dipahami oleh seorang konselor dalam proses konseling.

Peranan penting itu bertujuan untuk membuat seorang pasien terhindar dari tingkat depresi yang akut. Seseorang yang terlalu banyak beban pikiran tentu tidak akan mampu menanggung beban itu sendirian. Apalagi tipenya adalah tipikal seseorang yang tertutup akan dunia orang lain. 

Kecenderungan inilah yang menjadikan ia perlu mengungkapkan apa yang ada dalam benak pikirannya. Setelah ia menumpahkan semua pikiran yang ia alami, dimungkinkan itu menjadikan ia perlahan meringankan beban dan persoalan yang ia rasakan. 

Kenyamanan yang diterima oleh seorang pasien konseling adalah mengungkapkan segala sesuatu tanpa dibantah oleh seorang konselor. Mengingat kebutuhan seseorang untuk berbagi pikiran adalah sebuah hal yang perlu untuk dijalani dalam hidupnya.