Lembaran Baru

Sukajadi adalah satu di antara ribuan desa yang menyimpan banyak kerinduan bagi para pengadu nasib, yang gemar melanglang buana mengejar kehidupan yang lebih baik. Sawah yang membentang luas, kabut yang menyelimutinya di waktu pagi, dan udara segar yang kian langka di masa kini, akan selalu dirindukan oleh mereka yang pernah menghabiskan waktunya di sana. 

Pak Jarwo, kepala desa setempat, sangat disegani oleh rakyat desa. Bukan karena sakti mandraguna, namun karena sikapnya yang merakyat, dermawan, dan yang terutama, jasanya. Dialah yang berada paling depan ketika perusahaan kelapa sawit berusaha mencaplok tanah dan membabat habis hutan mereka. 

Berkat kepandaiannya, dia berhasil mengorganisasi masyarakat desa untuk mengelola tanah dan hutan desa secara kolektif, dan memberi pemahaman pada masyarakat desa tentang pentingnya mengelola hutan desa bersama demi menjamin kelestarian ekosistem. 

Berkat kekompakan masyarakat desa, Sukajadi makin berkembang seiring waktu, para petani makmur, pokoknya beda dengan desa lain, bahkan ojol pun beroperasi disana.

Pak Jarwo dan Bu Marni, keluarga kecil ini dikaruniai seorang anak perempuan yang membuat hidup mereka makin berwarna. Novi, lahir di keluarga yang terpandang tidak membuatnya sungkan untuk menginjakan kaki di tanah berlumpur. Kasih sayang penuh dari kedua orang tua tidak serta-merta membuatnya menjadi anak manja.

Singkat cerita, bayi mungil sang ibu kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Perlahan menjauh dari desa yang sejuk, menuju rimba metropolitan tempat di mana mimpi-mimpi besar (konon) terwujud. 

Nasihat ayah yang sedang terkapar menahan sakit masih dipegang, senyuman ibu yang menutup lembaran hidup lamanya masih membekas. Kampung halamannya kian mengecil dimata, awan-awan mendung seakan membaca isi hatinya. 

"Segala yang memberatkan atau menyakiti hati adalah pertanda bahwa hidupmu sedang berada pada persimpangan bercabang dua. Jika kamu berhasil melampaui rasa sakit itu, kedua cabangnya akan membuatmu lebih kuat. 

Namun ada sedikit perbedaan; Yang satu akan membuatmu mampu menguasai kebencian, satunya lagi akan membuatmu dikuasai kebencian," nasihat ayahnya sebelum ia pergi mengadu nasib.

Teringat kata Buki, si driver ojol; "kalau waktu dan kehidupan digambarkan seperti lingkaran, berputar, gitu-gitu aja, saya gak setuju mbak. Saya lebih suka menyebutnya; spiral yang sifatnya produktif. Benar dia berputar, tapi membengkak seiring waktu, produktif."

"Apa hubungannya dengan mental, mas?"

"Simak baik-baik ya mbak. Hari ini mbak sakit hati, besok lebih kuat lagi karena punya pengalaman. Tapi kan yang berputar, akan kembali ke titik yang sama pula. Maka besoknya lagi, mbak pasti akan sakit hati lagi, tapi mental mbak sudah lebih kuat dari sebelumnya, dan akan lebih kuat lagi setelah itu, paham?"

"Oh yayaya.. paham, mas" Novi ngangguk seakan mengerti, walau sebenarnya dia masih mikir keras juga.

Seberang

"Jangan lupa jam 7 malam kita ada mimbar bebas di taman kota. Wahyu, kamu ajak beberapa anak-anak untuk sebar pamflet, Rini, ingatkan teman-teman yang tidak hadir, yang lain boleh sebarkan lewat media sosial, target kita adalah publik."

Rapat sore itu membahas persiapan untuk mimbar bebas besok. Tono dan teman-temannya tidak pernah lelah menyuarakan aspirasinya di ruang publik. Tujuan mereka hanya satu, menyadarkan masyarakat. Menurutnya, banyak ketidakadilan terjadi dan masyarakat terus diprovokasi untuk membela kepentingan-kepentingan segilintir elit politik, sementara ketidakadilan yang menimpa masyarakat miskin luput dari pandangan publik. "Ketidakpedulian adalah pertanda bahwa kau sedang tidak sadar," kutipan Tono yang terpampang di profil media sosial miliknya.

Tono berasal dari keluarga yang sederhana, ibunya hanyalah petani cengkeh, ayahnya telah meninggal sejak ia masih balita. Suatu ketika, harga cengkeh anjlok dipasaran, Tono terpaksa putus sekolah selama 2 tahun dan agar adiknya tetap bersekolah. 

Tono kembali bersekolah ketika pemerintah membeli beberapa hektar tanah di desanya untuk membangun PLTU, dan dengan janji untuk mempekerjakan warga desa di perusahaan itu nantinya, dimana Tono pun berharap ketika tamat sekolah nanti dia akan diterima bekerja disana. 

Sekian tahun berlalu, adik Tono meninggal akibat kanker paru-paru. Polusi yang dihasilkan dari PLTU mencemari desanya. Terlebih, hutan yang terkenal di daerahnya sebagai paru-paru dunia semakin terkikis sejak ibukota negara dipindahkan ke provinsi yang sama. 

Ibunya pun sudah wafat sejak ia lulus SMK, dan ia tidak pernah diterima di perusahaan yang dulu menjanjikan mereka lapangan kerja, sebab telah dipenuhi oleh tenaga kerja asing. Beruntung ia diterima bekerja di salah satu mini market di kota dimana ia akan bekerja sambil mengejar gelar sarjananya. 

Tentu saja bukan hanya gelar. Terlibat dalam organisasi pergerakan yang menaruh perhatian pada masyarakat kecil memberinya wawasan yang baru tentang sesuatu yang lebih berharga daripada uang dan nama. Hingga seiring berjalannya waktu, Tono kini menjadi pentolan dari organisasi tersebut.

Yang ia tau, dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang tamak, dan kebenaran ada pada rakyat miskin yang dipinggirkan. Menyadarkan publik untuk berfikir kritis agar tidak mudah dipengaruhi oleh narasi penguasa adalah langkah awal untuk mewujudkan mimpinya. 

Esok malam tepat sesuai perjanjian, mimbar bebas dilaksanakan di taman kota. Selain itu, ada puisi yang dibacakan dengan penuh karismatik, lapak buku yang digelar di rerumputan dan yang lainnya menyebarkan pamflet yang ditulis sedimikian rupa untuk menarik perhatian pembaca. 

Walaupun tidak begitu banyak yang memperhatikan dengan serius, beberapa bahkan hanya memotretnya untuk kemudian dipajang di instastory, setidaknya aspirasi mereka tersampaikan. 

"Mau sampai kapan mahasiswa hanya kuliah demi gelar dan pekerjaan yang layak saja? Mau sampai kapan masyarakat kita hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan saja? jika sejak dulu kita selalu begini, kita takan mungkin bisa lepas dari cengkraman para penjajah!" 

Orasi Tono yang begitu karismatik meramaikan taman kota, hingga aparat keamanan membubarkan mereka.

Persepsi

"Mahasiswa dulu menculik soekarno pun berani, asalkan bangsa mereka mendapatkan yang terbaik"

Tak terasa sudah 3 semester terlewati. Rina masih mampu bertahan dengan segala keterbatasannya di perantauan. Demi meringankan beban keluarga, ia menjalani kuliah sambil menjual berjualan produk kosmetik. 

Rina baru saja mencoba membaca sebuah essay yang tertempel di mading kampus sebelum Ratna mengajaknya untuk makan siang. Di tengah perbincangan pasca makan siang, mereka sempat berbagi pandangan mereka tentang mahasiswa progresif yang sedang ramai dan memang selalu ada dimana-mana. 

"Besok ada aksi menolak revisi UU ketenagakerjaan, kamu gak ikut, Rin? "

"Apa perlu kita sampe segitunya, Rat?"

"Segitu gimana maksudmu? Jangan salah, Rin,  Tanpa aktivis-aktivis yang suka bikin macet jalanan itu, aturan 8 jam kerja dan cuti haid pun belum tentu ada loh"

"Yaa.. saya khawatir aja kalau sampai kuliah saya terganggu karena sibuk dengan urusan seperti itu. Apalagi banyak mahasiswa pergerakan yang suka telat wisuda karena terlalu idealis."

"Iyasih.. terserah kamu juga kalau gak mau ikut. Jangan lupa juga, Rin, tanpa pemuda idealis, kita mungkin masih dijajah sampe sekarang, heuheu.."

Rina bukannya apatis, tuntutan hidup memaksanya untuk lebih realistis. Dia juga punya impian untuk berkontribusi bagi bangsa, tapi dia yakin akan ada saat yang tepat untuk itu. Sifat berbakti pada orang tua yang tertanam kuat dalam dirinya juga membuatnya berusaha keras agar segalanya berjalan dengan lancar, demi membahagiakan ibunya yang kini hidup sendiri di desa sejak ayahnya wafat beberapa bulan yang lalu. 

Walau Ratna sering menyinggungnya dengan sebutan "apatis", dia tidak terlalu ambil pusing. Selain karena Ratna adalah teman dekatnya, dia juga paham, Ratna tidak mengerti apa saja kendala dan tuntutan yang mengikatnya, sama halnya seperti dia sendiri yang tidak paham bagaimana para mahasiswa progresif itu betah panas-panasan dijalan demi menyuarakan aspirasi mereka. 

Pupus

Siang hari, manusia modern bertingkah sesuai prosedur yang sudah ada, berbicara sesuai protokol, bertindak sesuai kepentingan, sesuai dengan sistem yang berlaku. Malam adalah waktu dimana jiwa-jiwa yang kehilangan dirinya di siang hari mencoba menemukan arti kehidupan, melalui hiburan dan kesenangan jasmani. 

Definisi tersebut mungkin berlaku di sebagian besar rimba metropolitan. Walau tidak bisa digeneralisir sepenuhnya, tapi kurang lebih seperti itulah gambaran abstrak dari kota besar dan kehidupan malamnya. 

Pandangan umum dibentuk sedemikian rupa hingga kehidupan di siang hari menjadi impian positif dan patut untuk dikejar, entah dibentuk ataupun terbentuk, pastinya semua tidak terjadi begitu saja. Namun tidak sedikit yang tidak mampu menggapainya, dan menyediakan layanan dan jasa untuk mereka yang bermain di siang hari adalah langkah kedua. Mulai dari makanan, minuman, hiburan, jasa transportasi, jasa laundry, hingga ke jasa-jasa lainnya, yang memudahkan segala urusan yang sebelumnya tidak begitu sulit. 

Itu hanya abstraksi, kita belum berbicara tentang manusia-manusia yang kurang beruntung. Langkah kedua yang ditempuh kadang penuh dengan tekanan batin, seperti Novi yang di PHK dan menjadi korban penipuan yang menguras segala isi dompetnya. 

Langkah kedua pun ditempuh. Demi kelangsungan hidup sendiri dan keluarga di kampung, prostitusi pun tidak jadi masalah mengingat dia sendiri sudah terikat disana sejak menjadi korban penipuan. 

Desa yang dulunya sejuk dan makmur telah tiada sejak ibukota negara dipindahkan provinsi yang sama. Tanah yang menjadi harapan rakyat kecil telah menjadi pusat perbelanjaan dan industri. Kematian ibunya semakin membuat Novi terpukul. Mimpi tinggalah mimpi yang mewarnai masa kecil, Novi yang penuh mimpi kini berubah menjadi Novi yang realistis. 

Persimpangan kehidupan telah dilaluinya. Memang benar ia semakin kuat, juga mampu menguasai perasaannya sendiri. Perasaan malu dan segala yang menghambat dipinggirkan demi kelangsungan hidup. 

Tono pun belum juga wisuda. Lebih buruk lagi, ia dicoret dari kampus akibat hukuman tahanan sekian tahun atas tuduhan menyebarkan paham radikal. Tapi bukan hal buruk bagi Tono, perjuangan adalah kehidupan yang sesungguhnya bagi dia. 

Sekian tahun kemudian, Rina telah menjabat sebagai anggota DPR dan mendirikan lembaga khusus yang memberdayakan anak-anak yatim, marjinal, dan kurang mampu untuk diberikan didikan dan bantuan. Yang kemudian ditutup akibat dugaan pelecehan seksual yang melibatkan hampir seluruh petugasnya. Nama Rina pun buruk di mata publik akibat kampanye hitam lawan politiknya yang sudah jadi budaya di negeri kita Indonesia.

Seperti yang sudah kusebutkan di artikel-artikel sebelumnya, tentang akhir bahagia dan segala harapan palsunya. Begitu pula akhir dari cerita yang penuh harap ini. Terima kasih.