Semenjak saya memutuskan untuk tinggal di kota besar, bagi saya salah satu tantangan hidup di perantauan adalah bagaimana bisa beradaptasi dalam segala keterbatasan termasuk tempat tinggal.

Saya pernah tinggal di beberapa tempat kos, dari yang harganya sangat humble dan sempit sampai yang sedikit lebih mahal. Terlepas dari fasilitasnya, tinggal di satu ruang kamar yang terbatas inilah yang kemudian butuh upaya penyesuaian diri yang bisa dibilang tidak sederhana.

Sebenarnya soal kenyamanan ruangan tersebut tidak terlepas juga dari bagaimana kita menatanya. Kebetulan saya laki-laki, dan teman-teman tahu sendiri kan dalam urusan kerapian kamar, di pandangan umum kaum adam sering dianggap payah dan tak bisa diandalkan dibandingkan perempuan.

Walaupun sebenarnya jauh dalam hati saya yang paling dalam ingin sekali menyangkal stigma tersebut, tapi gimana lha wong fakta di lapangan mayoritas memang demikian, hehehe. 

Namun, anggapan semacam itu sudah mampu saya tepiskan, semenjak saya mengenal metode berbenah ala Marie Kondo yang disebut Konmari.

Marie Kondo adalah seorang konsultan kerapian sekaligus penulis yang berasal dari negeri samurai. Di dalam bukunya “The Life Changing Magic of Tidyng Up”, ia mengajarkan bagaimana cara praktis menata barang dalam sebuah tempat tinggal yang dipercaya mampu mengubah hidup seseorang.

Baiklah, metode ini memang banyak diperbincangkan beberapa tahun lalu ketika bukunya booming di masyarakat kita, namun apakah hal ini mampu memengaruhi gaya hidup masyarakat apalagi menerapkannya hingga hari ini, itu soal lain.

Saya sengaja menuliskan pengalaman ini yang kebetulan jauh dari momentum ketika banyak orang membicarakan Marie Kondo. Justru, saya tergerak untuk membuat tulisan ini ketika saya benar-benar merasakan dampaknya ketika cukup lama menerapkannya.

Konmari ini sejujurnya sangat layak untuk terus didengungkan agar manfaatnya bisa dirasakan secara luas terlebih menjadi gaya hidup masyarakat.

Bagi yang belum membaca bukunya atau lupa karena sudah lama nggak dibahas, saya akan menjelaskan secara singkat. Jadi, metode Konmari ini bisa dibilang metode beres-beres rumah yang cukup unik. Kita diharuskan memilah barang yang hanya benar-benar mampu menghadirkan kebahagiaan ketika kita menyentuhnya.

Sederhananya barang yang masih benar-benar kita inginkan keberadaannya sekaligus kita butuhkan. Sehingga di luar benda tersebut kita harus rela mengeliminasi semuanya, iya semuanya,  baik dengan cara membuang, menjual atau mendonasikan. Biasanya dimulai dari tiap kategori yaitu pakaian, kertas dan buku, pernak-pernik dan terakhir benda kenang-kenangan.

Saya berproses untuk menerapkan cara ini, walaupun belum bisa dibilang seratus persen tapi saya benar merasakan manfaatnya secara pribadi. Hidup menjadi lebih lega dan damai sebab tidak terbebani dengan banyaknya barang yang tidak jelas kegunaannya.

Hingga pada akhirnya saya lebih suka menyebutnya sebagai seni kerapian rumah, karena esensi atau ujungnya adalah soal keindahan dan kebahagiaan.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya merasa bahwa metode Konmari ini sangat relate untuk kemudian diterapkan bagi teman-teman di perantauan dengan segala keterbatasannya. Oiya, di sini saya tidak akan menjelaskan tutorial cara berbenah ala Mari Kondo, sebab selain kepanjangan hal tersebut bisa teman-teman baca sendiri di bukunya langsung atau melihat ulasannya di internet.

 Justru saya tertarik mengulas beberapa alasan mengapa metode ini layak untuk dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya, sekali lagi bagi teman-teman perantauan.

Alasan pertama, efektif untuk menyiasati ruangan yang sempit.

Salah satu kendala hidup merantau adalah berdaptasi dengan tempat tinggal yang terbatas. Kamar akan menjadi semakin sempit dan engap jika kita tidak lihai dalam menatanya. Pun termasuk memilah barang apa yang layak dan tidak layak singgah di kamar.

Nahh metode Konmari ini mampu menjadikan tempat yang sempit menjadi lebih longgar, karena kita tidak perlu lagi menyimpan barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Selain itu ada teknik-teknik tertentu bagaimana menata barang sehingga lebih menghemat tempat, rapi, indah dipandang, mudah diakses, dan aman.

Alasan kedua, lebih hemat waktu, tenaga dan biaya.  

Konmari ini bukan hanya urusan memilah dan menata barang namun membatasi diri untuk tidak konsumtif dengan membeli barang-barang yang tidak esensial. Dengan penerapan yang tepat kegiatan beres-beres tidak perlu sesering sebelumnya, hanya dilakukan sesekali saja dalam jeda waktu yang cukup lama.

Sehingga waktu, tenaga dan cuannya bisa dialihkan untuk hal lain yang lebih membahagiakan, misalnya jalan-jalan, nongkrong dengan teman, nonton film, menulis atau hobi-hobi lainnya yang lain.

Alasan ketiga, membuat ruangan lebih nyaman.

Katanya ada orang yang merasa lebih nyaman tinggal di kamar yang berantakan dibanding yang rapi. Sejujurnya saya masih skeptis soal pendapat demikian. Yaa meskipun ada, saya pikir sangat minim sekali atau jangan-jangan hanya karena belum pernah mencoba metode Konmari ini.

Bagi yang punya anggapan demikian, coba dulu aja dan bandingkan hasilnya. Saya kok percaya jauh lebih banyak yang sepakat bahwa orang akan lebih nyaman dan tenteram tinggal di tempat yang rapi dan bersih dibandingkan berantakan.

Alasan keempat, memudahkan jika mau pindahan.

Hal ini yang juga layak dijadikan pertimbangan. Orang yang merantau akan punya kecenderungan untuk berpindah-pindah tempat tinggal entah alasan biaya, kenyamanan, pindah tempat kerja, magang bagi yang kuliah, menjauh dari mantan, mendekati gebetan, dan lain sebagainya. Maka dengan memiliki barang secukupnya akan sangat tidak merepotkan jika harus pindahan.

Alasan kelima sekaligus terakhir, belajar menerapkan filosofi cukup dan menjaga kesehatan mental.

Selain keempat hal praktis di atas, yang lebih substansial dari metode ini adalah tentang bagaimana menemukan kebermaknaan hidup. Membatasi barang dan berbenah hanyalah jembatan, tujuannya adalah mampu menjalani hidup yang tidak berlebihan sehingga terbebas dari hal-hal yang berpotensi mengganggu kesehatan mental.

Sebab, memiliki banyak barang apalagi tidak terorganisir dengan baik, alih-alih membawa kegembiraan justru akan menjadi beban pikiran.

Memang pada akhirnya semua adalah pilihan masing-masing yang menjalani. Metode Konmari, hanyalah salah satu alternatif yang sudah terbukti mampu mengubah hidup banyak orang.

 Melalui berbenah bisa menjadi jawaban atas permasalahan masyarakat modern dalam upaya menggapai kesejahteraan psikologis sehingga bisa menjalani hidup yang bahagia seutuhnya. Jika tertarik, sungguh tak ada salahnya jika teman-teman mau mencobanya.