Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia keempat dimana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, masalah sumber daya manusia merupakan salah satu unsur penting dalam organisasi. Sumber daya manusia berperan menentukan arah dan kemajuan sebuah organisasi.

        Di zaman sekarang ini dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga setiap individu dituntut untuk dapat menggali segala sumber daya manusia yang dimiliki, untuk dapat menunjang kinerja kita sehingga akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas organisasi. Bahkan sistem sarana dan prasarana dalam organisasi dapat terus berkembang dan terus disempurnakan seiring berjalannya waktu, sehingga suatu organisasi dapat berkembang sesuai dengan sumber daya manusia yang ada. Banyak para ahli berpendapat bahwa sumber daya manusia yang berkualitas sangat menentukan berhasil atau tidak suatu organisasi dengan kompetensi setiap pegawai yang ada. Untuk membentuk sosok aparatur seperti tersebut memang memerlukan waktu dan proses yang lama serta upaya yang tidak boleh berhenti (Sedarmayanti, 2009).

      Organisasi Mahasiswa yang berbasis di Perguruan Tinggi atau kampus, apabila ingin bertahan di era revolusi industri ini harus mampu melaksanakan 4C. Pertama, Critical thingking, kita seyogyanya bersikap skeptis dan kritis. “Percuma kalau pintar kalo gak kritis”. Kedua, Creativifity, yakni mampu melahirkan inovasi-inovasi baru. Selanjutnya, Communication, terutama tentang sains dan teknologi agar dapat diterima publik secara benar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. “Percuma kita buat beberapa industri kalau tidak dikomunikasikan. Gak akan ada yang paham dan tahu dong,”. Terakhir, Collaboration, ini lah kekuatan yang bisa membangun Indonesia. Menurutnya, kelemahan Indonesia adalah kurang berkolaborasi. Kita lemah ketika berkelompok. Karena itu memerlukan kerjasama dan mengerti satu sama lain (Rohida, 2018).

          Mengingat realitas kondisi di atas, urgensi pembentukan Departemen Riset dan Inovasi Teknologi adalah sebagai kawah candradimuka kader PMII di bidang keilmuan eksakta, sehingga menjadi laboratorium kaderisasi warga pergerakan untuk memproduksi karya-karya dalam bidang inovasi teknologi yang dapat meningkatkan mutu kader PMII. Maka sangatlah wajar apabila PB PMII mesti memberikan perhatian yang memadai terhadap pengembangan kompetensi kerja organisasi baik dari segi kualitas dan kuantitas baik Pengetahuan, Keahlian, Keterampilan dan Sikap sehingga dapat melaksanakan tri darma perguruan tinggi secara profesional. Penyelenggaraan seluruh kebutuhan kader dalam organisasi hendaknya dimanajemeni dengan profesional. Dalam rangka pembenahan ini tidak saja membutuhkan teknologi yang akomodatif terhadap kemajuan zaman, akan tetapi masih harus dilengkapi dengan sumberdaya manusia yang handal. Teknologi canggih tidak akan banyak berarti jika tanpa diimbangi dengan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan secara baik.

     Sebagai contoh di bidang kedirgantaraan, kita berhasil menerbangkan pesawat N-235. Walaupun tidak jadi diproduksi, kesuksesan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tenaga-tenaga ahli dan pekerja-pekerja terampil, tidak kalah dari bangsa lain. Permasalahannya, adakah wadah untuk mereka? Bahkan negeri jiran telah menyatakan minatnya untuk mengajak kerjasama Ricky Elson (putra Indonesia yang berjasa dalam mendesain Selo dan Gendhis) bersama tim beliau untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia, namun pada akhirnya karya mobil listrik selo dijual ke Malaysia karena tidak ada dukungan dari pemerintah Indonesia untuk memproduksi secara masal. Oleh karena itu, perlunya departemen riset dan inovasi teknologi sebagai wadah dalam mendukung sumberdaya manusia yang berkualitas di PMII untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

        Revolusi 4.0 banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Industri 4.0 secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja secara luas. Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki ketrampilan dalam literasi digital, dan literasi teknologi. Kemajuan teknologi secara fundamentalis memunculkan terjadinya otomatisasi hampir disemua bidang. Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya.

           Pada hajat kongres PB PMII ke-XX kali ini diharapkan dapat memunculkan ide ataupun gagasan nyata dalam membawa perubahan yang lebih baik sebagai insan ulul albab. Tulisan ini merupakan refleksi kita sebagai warga pergerakan yang kedepan melanjutkan cita-cita founding father bangsa dan negara Indonesia, bukan hanya keilmuan agama dan politik saja namun inovasi teknologi menjadi sangat penting untuk didukung. Bagaimana kedepan negara Indonesia menjadi tanggungan kita bersama sesuai dengan tujuan PMII. Indonesia butuh kamu dan apa yang sudah kau beri demi laju bangun negara.