Dalam Kebudayaan Cina modern, Konfusianisme telah ditolak oleh para intelektual pada awal abad ke-20 dengan jatuhnya Sistem Kekaisaran Cina. Hilangnya kepercayaan pada Kekaisaran diikuti juga oleh hilangnya kepercayaan atas ide moral Konfusianisme.

Dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi, Konfusianisme telah ditinggalkan dan hanya berpengaruh dalam lingkup pengajaran saja. Bagi kebanyakan orang awam dan intelektual, Konfusianisme menyimbolkan bayangan masa lalu, keterbelakangan, dan ketidakmampuan Cina. Pengolahan diri sebagai dasar ajaran ide Konfusianisme bermain pada tataran Konfusianis tingkat personal, sehingga Konfusianisme lebih nampak jelas pada tingkatan persona (pribadi).

Konfusianisme tidaklah penting seperti pada tingkat ideologi, atau pada tingkat nasional (Negara). Kebanyakan orang Cina adalah Konfusianis baik secara sadar maupun di bawah sadar tetapi tidak mengakuinya karena kebanyakan orang enggan berurusan dengan penguasa, akan tetapi orang Cina tidaklah menginginkan Konfusianisme sebagai suatu ideologi nasional atau Negara. Konfusianisme lebih bersifat pribadi atau personal yang diyakini sebagai suatu cara pengolahan diri.

Ide Konfusianisme tentang moral memiliki semangat optimisme bahwa setiap orang dapat menjadi orang suci, hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi yang sama dan sederajat. Dengan demikian unsur positif Konfusianisme yang semacam ini tidak akan dapat dihilangkan atau ditekan oleh sitem kekuasaan apapun.

Keadaan inilah yang akan terus berlangsung dalam situasi Cina yang berkembang dan modern.Konfusianisme tidak dapat dipisahkan dalam situasi Cina modern karena unsur-unsur Konfusianisme telah diwariskan dan diturunkan sampai saat ini baik secara implisit dalam doktrin Nasionalis, Komunis, prinsip, etos, pendapat public, dan sistem elit birokrasi.

Ada hubungan antara antara Tiga Prinsip Demokrasi (sanmin zhuyi) Sun Yatsen (18661925) : Nasionalisme, demokrasi, kesjahteraan rakyat dengan visi Konfusianisme mengenai Datong shehui, masyarakat persatuan dunia. Begitu pula dengan komunisme yang mewarisi kode moral Konfusianisme, warisan tersembunyi ini yang menyebabkan bagi Konfusianisme untuk terus bertahan di dunia modern.

Pada awal tahun 1980-an Konfusianisme mulai bangkit kembali, bagaimana pun juga bangkitnya Konfusianisme bukan untuk mengembalikan tradisi lama dan juga bukan untuk mengembalikan ajaran dan praktik lama tetapi karena nilai Konfusianisme yang telah turun temurun berakar dalam sistem masyarakat. Nilai moral dan spiritual Konfusianisme yang menitik beratkan pada tanggung jawab moral, pemahaman manusia tentang kehidupan yang diyakini dapat terus bertahan di masa yang akan datang.

Seiring perubahan zaman, kebudayaan Cina yang bersumber pada ajaran konfucius juga mengalami modifikasi, adaptasi dan modernisasi. Sekarang, misalnya, berkembang adanya Neo-Konfusianisme yang berpendapat bahawa ide demokrasi dan hak asasi manusia sejajar dengan nilai-nilai tradisional Konfusianisme Asia.

Para pemimpin yang memulai langkah-langkah untuk mengubah masyarakat Cina setelah berdirinya RRC pada 1949 dibesarkan dalam lingkungan yang kental budayanya dan telah diajarkan norma hidup sesuai dengan lingkungan hidupnya. Meskipun mereka merupakan revolusioner yang mampu beradaptasi dengan zamannya, mereka tidak ingin mengubah budaya Cina secara besar-besaran.

Sebagai pemerintah, ketika masa revolusi kebudayaan, para pemimpin RRC mengganti aspek tradisional seperti kepemilikan tanah di desa dengan pendidikan tetapi masih belum meninggalkan aspek-aspek budaya yang lain, contohnya struktur keluarga. Para ahli dari luar negeri berpendapat bahwa waktu setelah 1949 bukanlah sesuatu yang berbeda di dalam RRC dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Pada konferensi mengenai Konfusianisme yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Balai Agung Rakyat, Beijing pada tahun 2014, Xi Jinping Presiden China menggaris bawahi penyelesaian problem di China dengan menggunakan kearifan lokal, sesuai dengan tradisi dan budaya China yang terkandung dalam ajaran Konfusius.

Pengakuan pemerintah tentang pentingnya kembali ke Konfusianisme, telah mendorong banyaknya bermunculan sekolah-sekolah khusus yang mempelajari kitab-kitab ajaran Konfusius. Pusatnya berada di tempat kelahiran Konfusius di kota Qufu, Provinsi Shandong.

Bangunan yang menjadi pusat pemujaan dan pengajaran Konfusius di Qufu telah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site (Peninggalan Sejarah Dunia). Sejumlah istilah yang digunakan untuk menamai sekolah-sekolah Konfusius antara lain: Rujia (School of the Scholars), Rujiao (Teaching of the Scholars), Ruxue (Scholarly Study), dan Kongjiao (Teaching of Confusius).

Dalam konferensi pers akhir Maret 2015, Michael Schuman, penulis buku Confucius and the World He Created menyebutkan bahwa pemerintah China mengusung kembali ajaran Konfusius sebagai bentuk budaya pemerintahan yang bersumber dari sejarah falsafah dan politik sendiri, yaitu budaya yang mengedepankan kehidupan masyarakat harmoni, patuh serta loyal terhadap atasan dapat diartikan sebagai tiada penentangan dari rakyat terhadap penguasa.

Sistem pemerintahan dan politik lokal ini sekaligus juga untuk menyaring dan menangkal paham dari luar (Barat) yang tidak sesuai dengan budaya setempat. Bagi rakyat, hadirnya kembali ajaran Konfusius bagaikan menu spiritual yang sudal lama mereka dambakan, terutama pada saat masyarakat menhadapi krisis moral yang meluas, seperti korupsi, penyalahgunaan jabatan, penggelapan/pemalsuan serta praktek-praktek perbuatan a-moral lainnya.

Pemerintah China juga memanfaatkan nama Konfusius sebagai alat/sarana Soft Power dalam menjalankan diplomasi di dunia internasional. Dengan inti ajaran Konfusius tentang filial piety bakti anak terhadap orangtua, pemerintah China juga dapat menghimbau kepada masyarakat keturunan China di seluruh dunia untuk ikut berinvestasi dan memberikan sumbangannya dalam program pembangunan social-ekonomi di tanah leluhur.